Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Curah Hujan Tinggi Masih Mengintai Indonesia hingga Pertengahan Februari, BMKG Ungkap Wilayah Paling Berisiko Banjir dan Longsor

Natasha Eka Safrina • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:50 WIB

BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat mengguyur Jakarta pada Senin 9 Februari. Warga diimbau waspada cuaca ekstrem dan potensi banjir
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat mengguyur Jakarta pada Senin 9 Februari. Warga diimbau waspada cuaca ekstrem dan potensi banjir

JAKARTA – Curah hujan tinggi masih membayangi sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama pada periode 8 hingga 13 Februari 2026.

Dalam liputan Metro TV dari Kantor BMKG Jakarta, BMKG menyebut sejumlah wilayah telah masuk kategori waspada akibat curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih aktif, seiring puncak musim hujan yang berlangsung pada Februari.

Forecaster BMKG, Jatmiko, menjelaskan bahwa dalam sepekan ke depan potensi hujan masih akan terjadi di banyak wilayah Indonesia, dengan intensitas bervariasi mulai dari ringan hingga lebat.

“Untuk periode ke depan, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan. Intensitasnya mulai dari ringan, sedang, hingga lebat,” ujar Jatmiko saat diwawancarai.

Baca Juga: Deretan Artis Mualaf 2024 Tak Lagi Merayakan Natal, dari Mahalini hingga Roger Danuarta, Ini Kisah Perjalanan Spiritual Mereka

Wilayah Selatan Indonesia Jadi Sorotan

BMKG mencatat wilayah Indonesia bagian selatan menjadi area yang paling berpotensi terdampak curah hujan tinggi. Wilayah tersebut meliputi Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain itu, hujan lebat juga diprakirakan terjadi di wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi bagian selatan, Maluku, serta Papua. Kondisi ini diprediksi berlangsung setidaknya selama satu pekan ke depan.

Untuk wilayah Pulau Jawa, BMKG menaruh perhatian khusus pada Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Intensitas hujan di kawasan ini diperkirakan meningkat signifikan pada periode 11 hingga 13 Februari 2026.

“Wilayah Jawa dan sekitarnya berpotensi mengalami curah hujan cukup tinggi, terutama pada pertengahan pekan,” jelas Jatmiko.

Baca Juga: Deretan Artis yang Tak Lagi Merayakan Natal karena Mualaf, dari Ruben Onsu hingga Celine Evangelista

Normal Musiman, Namun Ada yang Di Atas Rata-rata

BMKG menegaskan bahwa Februari memang masih berada dalam puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Secara klimatologis, kondisi curah hujan tinggi pada periode ini tergolong normal.

Namun demikian, Jatmiko mengungkapkan bahwa di beberapa wilayah, curah hujan yang terjadi tercatat berada di atas rata-rata normal. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko terjadinya bencana banjir dan longsor.

“Memang secara umum ini masih kondisi normal musim hujan, tetapi di beberapa wilayah sudah terjadi hujan di atas normal,” ujarnya.

Faktor Penyebab Curah Hujan Tinggi

BMKG mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang memicu masih tingginya curah hujan di Indonesia. Salah satunya adalah masih kuatnya pengaruh Monsun Asia yang membawa massa udara basah dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian selatan.

Selain itu, pola angin yang membentuk konvergensi dan konfluen turut memperkuat pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Kemunculan daerah tekanan rendah (low pressure area) di sekitar Samudra Hindia selatan Bali hingga NTT juga memperbesar potensi terbentuknya awan konvektif.

Baca Juga: Jembatan Direhab 2025, Negeri Dongeng Papua di Kaliarupi Makin Mudah Diakses hingga Telaga Biru dalam Hutan

Faktor lain yang berperan adalah aktifnya aliran udara dingin dari belahan bumi utara yang melintasi garis ekuator dan masuk ke wilayah Indonesia. Kondisi ini menambah kandungan uap air di atmosfer dan memicu hujan dengan intensitas tinggi.

Tak hanya itu, gelombang atmosfer Rossby yang sedang aktif di wilayah timur Indonesia juga berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Ancaman Banjir dan Longsor

Dengan curah hujan tinggi yang masih berlanjut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan seperti daerah perbukitan, pegunungan, serta kawasan dengan sistem drainase yang kurang baik.

“Wilayah yang rawan longsor dan banjir perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya di Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” kata Jatmiko.

BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar aliran sungai, lereng bukit, dan kawasan padat penduduk yang rawan genangan.

Baca Juga: Harmoni Kehidupan di Kaki Pegunungan Himalaya Nepal, Peradaban Tua yang Bertahan di Lereng Curam Dunia

Imbauan BMKG untuk Masyarakat

BMKG mengingatkan masyarakat agar selalu waspada karena kondisi cuaca dapat berubah secara cepat dan tidak terduga. Warga diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.

Informasi cuaca terbaru dapat diakses melalui situs www.bmkg.go.id, media sosial resmi BMKG, maupun layanan call center 196.

“Dengan selalu memperbarui informasi, masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini terhadap potensi cuaca ekstrem,” pungkas Jatmiko.

Editor : Natasha Eka Safrina
#tanah longsor #potensi banjir #cuaca ekstrem bmkg #curah hujan tinggi #prakiraan cuaca