JAKARTA – Pedesaan Jepang kembali mencuri perhatian publik setelah sebuah video blusukan menampilkan sisi kehidupan desa yang jarang terekspos. Mulai dari jalanan mulus tanpa lubang, rumah tradisional kayu yang masih terawat, hingga sungai kecil dengan air sebening kaca tanpa sampah sedikit pun, semua menyatu menciptakan suasana yang disebut “keluar rumah langsung wisata”.
Dalam video tersebut, kreator konten memperlihatkan kondisi pedesaan Jepang pada sore hari. Meski matahari masih terik, suasana desa tetap terasa sejuk dan menenangkan. Jalan desa terlihat mengilap karena aspalnya yang halus, bahkan memantulkan cahaya matahari. Di sisi jalan, terdapat sawah kecil yang masih aktif, berpadu dengan rumah-rumah tradisional yang mempertahankan bentuk aslinya.
Rumah Tradisional dan Apartemen Berdampingan
Di pedesaan Jepang, rumah tradisional kayu masih berdiri berdampingan dengan bangunan modern seperti apartemen atau apato. Rumah tradisional umumnya berukuran besar, bahkan memiliki dua lantai dan halaman luas. Namun, tidak sedikit rumah yang terlihat kosong dan terbengkalai.
Rumah kosong atau akiya dapat dikenali dari tidak adanya papan nama pemilik di bagian depan. Papan nama ini penting di Jepang karena berkaitan dengan pengiriman paket dan identitas penghuni. Jika papan nama dicabut, besar kemungkinan rumah tersebut sudah lama tidak ditempati.
Fenomena rumah kosong di pedesaan Jepang terjadi karena banyak warga lanjut usia tidak memiliki keturunan. Ketika pemilik rumah meninggal atau pindah ke panti jompo, rumah pun dibiarkan kosong tanpa penghuni. Padahal, secara fisik bangunan tersebut masih sangat layak ditempati.
Jalan Mulus Tanpa Polisi Tidur
Hal menarik lainnya dari pedesaan Jepang adalah kondisi jalannya. Hampir tidak ditemukan jalan berlubang maupun polisi tidur. Hal ini bukan tanpa alasan. Di Jepang, anak-anak tidak bermain di jalan raya karena tersedia taman bermain khusus. Selain itu, pengendara dikenal disiplin dan jarang memacu kendaraan secara ugal-ugalan.
Di setiap sudut desa juga tersedia fasilitas darurat seperti selang pemadam kebakaran yang terhubung langsung ke sistem air. Fasilitas ini disiapkan untuk mengantisipasi kebakaran, terutama karena banyak rumah tradisional masih menggunakan material kayu.
Sungai dan Drainase yang Dipisah
Salah satu pemandangan paling mencolok dalam video adalah aliran sungai kecil di tengah desa. Airnya sangat jernih hingga dasar sungai terlihat jelas. Tidak ada sampah plastik, limbah rumah tangga, maupun bau tak sedap.
Kebersihan ini terjadi karena sistem drainase di Jepang dibuat terpisah. Air hujan dialirkan ke sungai terbuka, sementara limbah rumah tangga seperti air cucian dan toilet dialirkan ke saluran pembuangan tertutup. Dengan sistem ini, sungai tetap bersih dan bebas nyamuk.
Kondisi tersebut membuat sungai terlihat menggoda untuk berenang, terutama saat musim panas. Namun, warga setempat tidak memanfaatkan sungai sebagai tempat mandi, karena norma dan aturan kebersihan yang sangat dijaga.
Kehidupan Warga yang Tenang
Penduduk pedesaan Jepang mayoritas adalah lansia. Nenek-nenek terlihat berjalan kaki membawa keranjang belanja dengan alat bantu beroda. Kendaraan roda tiga bermesin kecil juga kerap digunakan oleh warga lanjut usia karena kecepatannya rendah dan aman.
Interaksi sosial di desa berlangsung sederhana dan tenang. Tidak ada pedagang keliling seperti di Indonesia. Oleh karena itu, warga terbiasa menyimpan stok makanan di rumah karena jarak ke toko cukup jauh.
Disiplin Lalu Lintas dan Lingkungan
Budaya tertib juga terlihat saat menyeberang jalan. Di zebra cross, pengendara mobil akan otomatis memperlambat laju kendaraan dan memberi jalan kepada pejalan kaki, bahkan dari jarak cukup jauh.
Di pekarangan rumah warga, terlihat tanaman semangka tumbuh subur dengan ukuran besar. Harga semangka di Jepang sendiri dikenal mahal, bisa mencapai ratusan ribu rupiah per buah, sehingga menanam sendiri menjadi pilihan sebagian warga desa.
Dengan perpaduan lingkungan bersih, tata kota rapi, dan kehidupan yang tenang, pedesaan Jepang kerap disebut sebagai contoh ideal bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan. Tak heran jika banyak warganet menyebut desa-desa ini sebagai “tempat healing terbaik” dan destinasi wisata tersembunyi yang memanjakan mata.
Editor : Davina Ar Raafika