TEGAL – Tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hingga kini masih terus terjadi dan menimbulkan dampak serius bagi ribuan warga. Pergerakan tanah yang mulai terpantau sejak Senin malam itu masih aktif hingga Jumat malam, membuat ratusan rumah rusak, akses jalan terputus, dan memaksa warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Bencana tanah bergerak di Desa Padasari ini menyebabkan kerusakan bangunan dalam skala besar. Data sementara mencatat sedikitnya 464 rumah terdampak, dengan rincian 205 rumah rusak berat, 174 rumah rusak sedang, dan 85 rumah rusak ringan. Kerusakan tersebut tersebar di sejumlah RW yang berada di zona rawan pergerakan tanah.
Selain rumah warga, tanah bergerak di Desa Padasari juga berdampak pada berbagai fasilitas umum yang menjadi penopang aktivitas masyarakat sehari-hari. Kondisi ini membuat kehidupan warga lumpuh dan meningkatkan risiko keselamatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.
Fasilitas Umum Rusak, Jalan dan Irigasi Terdampak
Bencana ini tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga fasilitas sosial dan infrastruktur desa. Tercatat sebanyak 21 fasilitas sosial, tujuh tempat ibadah, tujuh fasilitas pendidikan, serta satu fasilitas pemerintahan mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah.
Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur vital berupa tiga titik jalan desa dan kabupaten, yang membuat akses warga terputus. Selain itu, satu bendung irigasi dan satu jembatan desa turut terdampak, sehingga mengganggu aktivitas pertanian dan mobilitas warga.
Petugas di lapangan menyebutkan, kondisi tanah di lokasi bencana masih sangat labil. Curah hujan yang masih tinggi memperbesar potensi pergerakan tanah lanjutan, sehingga warga diminta tetap waspada dan tidak memaksakan diri kembali ke rumah.
Baca Juga: Deretan Artis yang Tak Lagi Merayakan Natal karena Mualaf, dari Ruben Onsu hingga Celine Evangelista
Evakuasi Warga Terisolir Dibantu Polisi dan Relawan
Aparat kepolisian bersama relawan terus melakukan upaya evakuasi terhadap warga yang masih terisolir akibat akses jalan terputus. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap, dengan prioritas pada warga lanjut usia, penyandang disabilitas, serta anak-anak.
Selain mengevakuasi warga, petugas juga membantu memindahkan barang-barang berharga milik korban ke tempat yang lebih aman. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu warga yang tidak mampu menyelamatkan harta bendanya secara mandiri.
“Kondisi tanah masih terus bergerak, apalagi ini masih musim hujan. Kami tidak tahu sampai kapan pergerakan ini akan berhenti,” ujar salah seorang petugas di lokasi bencana.
Warga pun menyampaikan apresiasi kepada aparat kepolisian dan relawan yang telah membantu proses evakuasi, termasuk komunitas jeep dan unsur TNI-Polri di wilayah setempat.
Lebih dari 2.000 Warga Masih Mengungsi
Dampak tanah bergerak di Desa Padasari membuat lebih dari 2.000 warga hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian. Mereka mengungsi ke tempat yang dinilai lebih aman sambil menunggu kepastian kondisi tanah dan langkah penanganan lanjutan dari pemerintah.
Petugas gabungan terus melakukan pemantauan intensif di titik-titik rawan. Warga juga diimbau agar tidak kembali ke rumah yang berada di zona berbahaya, meskipun sebagian bangunan tampak masih berdiri.
Imbauan tersebut disampaikan mengingat pergerakan tanah masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu dan dapat membahayakan keselamatan jiwa. Pemerintah daerah bersama aparat terkait terus berkoordinasi untuk menentukan langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk kemungkinan relokasi warga.
Penanganan Darurat Masih Berlangsung
Hingga saat ini, fokus utama penanganan bencana adalah keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Pemerintah daerah memastikan bantuan logistik, layanan kesehatan, serta keamanan di lokasi pengungsian terus disiagakan.
Bencana tanah bergerak di Desa Padasari menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana geologi di wilayah perbukitan Jawa Tengah, terutama saat musim hujan. Warga diharapkan tetap mengikuti arahan petugas demi menghindari jatuhnya korban jiwa.
Editor : Natasha Eka Safrina