Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Rahasia Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadan, Ini Penjelasan Hadis Riwayat Imam Bukhari yang Jarang Disadari

Novica Satya Nadianti • Kamis, 19 Februari 2026 | 10:25 WIB

Keutamaan membaca Al-Quran di bulan Ramadan bukan sekadar khatam, tapi soal kualitas dan pahala berlipat.
Keutamaan membaca Al-Quran di bulan Ramadan bukan sekadar khatam, tapi soal kualitas dan pahala berlipat.

JAKARTA - Keutamaan membaca Al-Quran di bulan Ramadan kembali menjadi sorotan menjelang dan selama bulan suci. Banyak umat Islam berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Quran, namun tak sedikit yang belum memahami esensi sebenarnya dari amalan tersebut.

Dalam sebuah hadis populer yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok paling dermawan, dan kedermawanan itu semakin meningkat ketika memasuki bulan Ramadan. Terlebih lagi saat Malaikat Jibril mendatangi beliau setiap malam untuk mengajarkan Al-Quran.

Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Abbas itu menegaskan bahwa keutamaan membaca Al-Quran di bulan Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian inti dari agenda ibadah Rasulullah SAW. Interaksi intens dengan Al-Quran menjadi ciri utama ibadah Ramadan beliau.

Interaksi Al-Quran Jadi Agenda Utama Ramadan

Para ulama sepakat bahwa Ramadan memiliki keterkaitan erat dengan Al-Quran. Hal ini diperkuat dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Quran.

Artinya, puasa dan Al-Quran adalah dua ibadah yang tidak bisa dipisahkan. Jika seseorang berpuasa dari fajar hingga magrib, melaksanakan salat tarawih di malam hari, namun minim interaksi dengan Al-Quran, maka ada nilai ibadah Ramadan yang kurang sempurna.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa setiap malam Ramadan, Malaikat Jibril datang untuk “yudarisuhu al-Quran” — mengajarkan dan mengkaji Al-Quran bersama Nabi SAW. Dari sini para ulama mengambil pelajaran bahwa membaca saja tidak cukup, tetapi harus ada unsur pembelajaran, pengkajian, bahkan penyetoran bacaan.

Kualitas Bacaan Lebih Penting dari Banyaknya Khatam

Fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Quran sebanyak mungkin. Namun, esensi keutamaan membaca Al-Quran di bulan Ramadan bukan terletak pada kuantitas semata.

Nabi Muhammad SAW memang dikabarkan mengkhatamkan Al-Quran setidaknya satu kali setiap Ramadan. Bahkan pada Ramadan terakhir sebelum wafat, beliau mengkhatamkannya dua kali. Meski demikian, beliau tidak mencontohkan jumlah khataman yang terlalu banyak agar tidak memberatkan umatnya.

Pesan yang ingin ditekankan adalah kualitas bacaan. Jika belum lancar, dianjurkan membaca di hadapan guru agar tajwid dan makhrajnya benar. Hadis lain menyebutkan bahwa orang yang terbata-bata membaca Al-Quran namun bersungguh-sungguh, akan mendapat dua pahala: pahala membaca dan pahala atas kesungguhannya.

Setiap huruf Al-Quran bernilai sepuluh kebaikan. Jika dilipatgandakan karena kesungguhan belajar, maka pahala yang diperoleh semakin besar. Inilah yang menjadi motivasi agar umat Islam tidak pesimis meski belum lancar membaca.

Tiga Bentuk Interaksi dengan Al-Quran

Secara umum, interaksi dengan Al-Quran di bulan Ramadan dapat dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama, qiraah atau membaca secara rutin. Kedua, tilawah yang disertai pemahaman dan pengkajian makna. Ketiga, tahfiz atau menghafal Al-Quran, baik lafaz maupun maknanya.

Bagi yang sudah lancar membaca dan pernah menyetorkan bacaan kepada guru, diperbolehkan membuat target khatam. Misalnya, satu kali khatam dalam 10 hari pertama dengan membaca tiga juz per hari. Atau satu kali khatam dalam sepekan dengan membaca lima juz per hari.

Namun bagi yang belum lancar, fokus utama adalah memperbaiki kualitas bacaan meski hanya satu halaman per hari. Sebab, bacaan yang benar dan sesuai tajwid jauh lebih utama daripada mengejar jumlah tanpa ketepatan.

Manfaat Spiritual Membaca Al-Quran di Ramadan

Keutamaan membaca Al-Quran di bulan Ramadan tidak hanya bernilai pahala berlipat ganda. Ada dampak spiritual yang nyata dirasakan pembacanya.

Pertama, menghadirkan ketenangan jiwa. Al-Quran disebut sebagai sumber ketenteraman hati. Kedua, membantu meredakan beban pikiran dan persoalan hidup. Banyak ulama menganjurkan agar ketika menghadapi masalah, seseorang membuka mushaf dan membaca beberapa ayat untuk mendapatkan kejernihan berpikir.

Ketiga, membaca Al-Quran dengan niat mengikuti sunah Nabi SAW menjadi sarana penghapus dosa. Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperbanyak pahala yang dapat menutupi kesalahan masa lalu.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membangun kedekatan dengan Al-Quran. Sebab di bulan inilah kitab suci diturunkan, dan di bulan ini pula Rasulullah SAW mencontohkan interaksi paling intens dengannya.

Dengan memahami esensi tersebut, umat Islam diharapkan tidak sekadar mengejar target khatam, tetapi juga menghadirkan kualitas, pemahaman, dan kesungguhan dalam setiap ayat yang dibaca.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#bulan ramadhan #amalan ramadan #Khatam Al Quran #keutamaan membaca Alquran