JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan pertemuan strategis dengan sejumlah pengusaha Amerika Serikat di Washington DC. Agenda Prabowo Subianto temui pengusaha Amerika ini disebut menjadi momentum penting untuk mendorong peningkatan nilai perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Informasi tersebut disampaikan Ketua Umum Kadin, Anindya Novyan Bakrie. Ia mengungkapkan, pertemuan akan berlangsung pada sore hari waktu setempat dan direncanakan dirangkaikan dengan acara buka puasa bersama atau iftar.
Menurut Anindya, Prabowo Subianto temui pengusaha Amerika yang tergabung dalam sejumlah organisasi bisnis besar, seperti US Chamber of Commerce, US-ASEAN Business Council, serta USINDO.
Ketiga lembaga tersebut selama ini menjadi mitra strategis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dalam memperkuat kerja sama ekonomi bilateral.
Perkuat Kerja Sama Dagang dan Investasi
Anindya menjelaskan, pada Mei 2025 lalu, Kadin telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan US Chamber dan US-ASEAN Business Council. Sementara itu, hubungan dengan USINDO sudah terjalin cukup panjang.
“Semua ini adalah mitra kerja sama dengan Kadin. Tujuannya untuk memanfaatkan kerja sama perdagangan ini, termasuk reciprocal trade agreement, sekaligus menjadi ajang untuk saling berinvestasi di dua negara,” ujar Anindya.
Ia menilai, pertemuan Presiden Prabowo dengan kalangan pengusaha Amerika bukan sekadar pertemuan simbolis.
Agenda ini dinilai sebagai langkah konkret memperkuat hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Saat ini, nilai perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat disebut telah mencapai sekitar USD 45 miliar. Angka tersebut dinilai cukup baik, namun masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan.
Target Perdagangan Bisa Dua Kali Lipat
Anindya menegaskan, salah satu tujuan utama dari pertemuan tersebut adalah membuat neraca perdagangan lebih seimbang sekaligus meningkatkan volume perdagangan secara signifikan.
“Trade ini bagus, sudah 45 miliar dolar. Tujuannya dibikin supaya lebih seimbang, tapi juga untuk memultiplikasikan perdagangan ini. Siapa tahu bisa dua kali lipat,” ungkapnya.
Jika target tersebut tercapai, nilai perdagangan Indonesia–Amerika Serikat berpotensi menembus lebih dari USD 90 miliar dalam beberapa tahun ke depan.
Hal itu tentu akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan daya saing produk ekspor Indonesia.
Selain memperbesar volume perdagangan, kerja sama ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan investasi langsung (foreign direct investment/FDI) dari Amerika Serikat ke Indonesia.
Sektor Unggulan Ekspor Indonesia
Dalam konteks ekspor, sejumlah sektor unggulan Indonesia berpeluang besar mendapatkan manfaat dari penguatan hubungan dagang ini. Anindya menyebut beberapa komoditas utama, seperti sepatu, tekstil, garmen, dan elektronik.
Produk-produk tersebut selama ini memang menjadi andalan ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat.
Dengan adanya penguatan kerja sama melalui forum-forum bisnis seperti US Chamber of Commerce dan US-ASEAN Business Council, diharapkan akses pasar semakin terbuka luas.
Tak hanya itu, perjanjian dagang yang bersifat timbal balik juga dinilai bisa menciptakan iklim perdagangan yang lebih adil dan saling menguntungkan.
Peluang Bagi Pengusaha Amerika
Di sisi lain, pengusaha Amerika juga memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor ke Indonesia. Beberapa komoditas yang disebut antara lain kapas (cotton), gandum (wheat), dan kedelai (soybean).
Komoditas tersebut merupakan bahan baku penting bagi berbagai industri di Indonesia, mulai dari tekstil hingga industri pangan.
Dengan meningkatnya kerja sama bilateral, pasokan bahan baku dari Amerika Serikat diharapkan semakin stabil dan kompetitif.
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto di Washington DC ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah Indonesia serius memperkuat diplomasi ekonomi.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas pasar ekspor, menarik investasi, serta menjaga stabilitas perdagangan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Jika agenda Prabowo Subianto temui pengusaha Amerika berjalan sesuai rencana dan menghasilkan kesepakatan konkret, maka hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat berpotensi memasuki babak baru yang lebih strategis dan saling menguntungkan. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana