MAGELANG – Di tengah harga bahan pokok yang terus merangkak naik, Koperasi Merah Putih hadir sebagai solusi pasar murah bagi warga desa. Program nasional gagasan Presiden Prabowo Subianto ini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, salah satunya di Desa Pancuran Mas, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Koperasi Merah Putih di desa tersebut menjadi perbincangan warga karena mampu menyediakan sembako dengan harga lebih terjangkau dibandingkan pasar umum. Selisih harga yang mencapai Rp1.000 hingga Rp2.000 per produk cukup membantu masyarakat, terutama di tengah tekanan ekonomi.
Program Koperasi Merah Putih ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Distribusi pangan disuplai langsung dari BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID Food sehingga rantai pasok lebih pendek dan harga bisa ditekan.
Baca Juga: Prabowo Tiba di AS, Siap Teken Tarif Trump 19 Persen dan Hadiri Dewan Perdamaian Gaza
Jadi Penopang di Tengah Harga Naik
Warga Desa Pancuran Mas mengaku terbantu dengan kehadiran koperasi tersebut. Selain harga lebih murah, lokasi yang dekat dengan permukiman membuat masyarakat tidak perlu mengeluarkan ongkos tambahan untuk transportasi ke pasar.
“Kalau dibandingkan pasar, selisihnya bisa Rp1.000 sampai Rp2.000. Ongkos ke pasar juga sekarang susah, angkot enggak ada di wilayah saya,” ujar salah satu warga.
Belasan unit Koperasi Merah Putih di Kabupaten Magelang disebut telah selesai dibangun dan siap beroperasi. Pemerintah daerah optimistis koperasi ini dapat menjadi instrumen stabilisasi harga sekaligus memperkuat struktur ekonomi desa.
Distribusi yang lebih langsung dari produsen atau distributor besar membuat harga kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, hingga kebutuhan harian lainnya lebih kompetitif.
Bukan Saingi Warung, Tapi Jadi Mitra
Kehadiran Koperasi Merah Putih sempat dikhawatirkan akan mematikan warung kecil di desa. Namun pemerintah menegaskan, koperasi justru dirancang untuk menjadi mitra dan penopang usaha mikro di tingkat desa.
Warung-warung kecil didorong menjadi anggota koperasi. Dengan status sebagai anggota, mereka dapat mengambil barang dari koperasi dengan harga lebih kompetitif dan menjual kembali di lingkungan sekitar.
“Nanti warung-warung kecil itu bisa menjadi anggota koperasi. Untuk mengembangkan usaha, mereka bisa ambil barang dari koperasi,” ujar perwakilan pengelola.
Selain unit perdagangan sembako, Koperasi Merah Putih juga memiliki unit simpan pinjam. Fasilitas ini diharapkan membantu pelaku usaha kecil mendapatkan akses permodalan yang lebih mudah dan terjangkau dibandingkan pinjaman informal.
Unit simpan pinjam tersebut ditujukan untuk mendukung ekonomi produktif warga desa. Dengan bunga dan skema yang lebih ringan, masyarakat bisa mengembangkan usaha tanpa terbebani biaya tinggi.
Perkuat Daya Beli dan Ekonomi Desa
Program Koperasi Merah Putih digagas sebagai penguatan ekonomi dari desa. Pemerintah ingin menjadikan koperasi sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok sekaligus wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dengan pasokan dari Bulog dan ID Food, stabilitas harga diharapkan lebih terjaga. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat belanja murah, tetapi juga sebagai instrumen pemerataan distribusi barang hingga pelosok desa.
Selain membantu konsumen, koperasi ini juga membuka peluang usaha baru di desa, mulai dari pengelolaan distribusi, administrasi, hingga unit usaha lainnya.
Warga berharap keberadaan Koperasi Merah Putih dapat terus berjalan lancar dan semakin berkembang. “Alhamdulillah lebih dekat dan mudah-mudahan ke depan bisa laris dan lancar,” ujar warga lainnya.
Baca Juga: LP2B Dapat Dialihfungsikan Dengan izin Kementerian
Di tengah dinamika harga kebutuhan pokok yang fluktuatif, Koperasi Merah Putih di Magelang menjadi contoh implementasi program nasional yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa. Pemerintah pun menargetkan model serupa dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai upaya menjaga daya beli dan memperkuat ekonomi keluarga di pedesaan.
Editor : Dyah Wulandari