JAKARTA- Kecelakaan udara kembali terjadi. Pesawat Pelita Air jatuh di Nunukan, Kalimantan Utara, saat mengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina. Insiden ini terjadi di Desa Pabetung, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, dan mengakibatkan satu orang pilot meninggal dunia.
Pesawat Pelita Air tersebut dilaporkan lepas landas dari Bandara Long Bawan menuju Tarakan pada pukul 12.10 WITA.
Namun, hanya sekitar 10 menit mengudara, tepatnya pukul 12.20 WITA, petugas Air Traffic Control (ATC) Tarakan menerima sinyal darurat dari pesawat tersebut.
Tak lama berselang, pesawat nahas itu dilaporkan jatuh dan terbakar.Informasi pesawat Pelita Air jatuh di Nunukan pertama kali diketahui warga sekitar pukul 12.33 WITA.
Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan pegunungan terjal, tepatnya di Gunung Paramayo, sekitar 3 hingga 4 kilometer dari permukiman warga.
Kronologi Pesawat Jatuh
Komandan Koramil Krayan Timur, Letnan Satu Infanteri Supardi, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan dari anggota terkait adanya pesawat jatuh.
Mendapat informasi tersebut, ia langsung mengumpulkan personel dan berkoordinasi dengan Satgas untuk melakukan pencarian.
“Begitu menerima laporan, kami langsung bergerak cepat menuju lokasi yang diduga menjadi titik jatuhnya pesawat,” ujarnya.
Pesawat diketahui mengangkut BBM Pertamina untuk kebutuhan wilayah perbatasan. Berdasarkan informasi yang diterima, pesawat sebelumnya mengirim BBM dari Tarakan ke Long Bawan.
Setelah proses bongkar muat selesai, pesawat kembali lepas landas menuju Tarakan sebelum akhirnya mengalami insiden.
Medan Terjal dan Cuaca Hujan
Wakil Komandan Satgas Armet 4/Parahiangan, Mayor Hizam, menyebut proses evakuasi berlangsung cukup menantang.
Lokasi jatuhnya pesawat berada di lereng Gunung Paramayo dengan kondisi jalan terjal dan licin.
“Medannya sangat terjal, ditambah saat proses evakuasi turun hujan sehingga kondisi semakin licin,” jelasnya.
Tim gabungan yang terdiri dari Koramil, Polsek setempat, BPBD, serta masyarakat bergerak cepat ke lokasi. Asap tebal yang membumbung tinggi membantu tim mengidentifikasi titik jatuhnya pesawat dengan lebih cepat.
Meski jarak dari perkampungan sekitar 3 kilometer, posisi pesawat yang jatuh terlihat jelas oleh warga karena berada di area terbuka pegunungan.
Satu Korban Jiwa
Pesawat tersebut hanya diawaki satu orang pilot. Saat tim tiba di lokasi, kondisi badan pesawat sudah hancur dan terbakar hebat. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia akibat terbakar.
“Korban sudah kami evakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Pratama di Long Bawan,” tambah Mayor Hizam.
Evakuasi dilakukan dalam kondisi cuaca kurang bersahabat dan cahaya yang mulai redup. Meski begitu, tim tetap berupaya maksimal agar proses berjalan cepat dan aman.
Menunggu Investigasi Lanjutan
Terkait bangkai pesawat, aparat setempat telah melaporkan kronologi kejadian kepada unsur terkait.
Hingga saat ini, pihak di lapangan masih menunggu instruksi lebih lanjut dari otoritas pusat untuk proses investigasi mendalam. Belum diketahui secara pasti penyebab jatuhnya pesawat Pelita Air tersebut.
Namun, sinyal darurat yang sempat diterima ATC Tarakan mengindikasikan adanya gangguan teknis sebelum pesawat kehilangan kendali.
Insiden pesawat Pelita Air jatuh di Nunukan ini menjadi perhatian serius, mengingat wilayah Krayan merupakan daerah perbatasan dengan akses transportasi yang terbatas dan sangat bergantung pada moda udara untuk distribusi logistik, termasuk BBM.
Distribusi bahan bakar ke wilayah perbatasan memang kerap menggunakan pesawat kecil karena kondisi geografis yang didominasi pegunungan dan sulit dijangkau jalur darat.
Karena itu, keselamatan penerbangan di wilayah tersebut menjadi aspek krusial. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi jatuhnya pesawat demi keamanan serta kelancaran proses investigasi.
Sementara itu, proses pengamanan lokasi masih terus dilakukan oleh aparat gabungan. Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tantangan berat operasional penerbangan di daerah terpencil dengan kondisi alam ekstrem.
Publik kini menunggu hasil investigasi resmi untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan pesawat Pelita Air tersebut. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana