JAKARTA – Rumah Mewah Palsu Majalengka mendadak viral di media sosial. Bangunan yang sekilas tampak megah bak istana itu ternyata tidak sepenuhnya terbuat dari tembok cor seperti rumah pada umumnya. Pemiliknya, Dadang, justru mengandalkan bahan-bahan tak biasa seperti abu, GRC, bambu, hingga parabola bekas.
Fenomena Rumah Mewah Palsu Majalengka ini menarik perhatian publik karena tampilannya terlihat besar dan kokoh dari luar, namun sebagian struktur di dalamnya ternyata hanya cangkang. Meski demikian, rumah tersebut tetap berdiri tegak dan difungsikan sebagai hunian.
Lokasinya berada di Kampung Sidar Maning, Desa Buninagara, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dadang mengaku membangun rumah itu secara bertahap dengan konsep eksperimen dan kreativitas demi menekan biaya.
Baca Juga: THR ASN 2026 Disebut Cair Awal Ramadan, TPG Februari Masih Tunggu Validasi Info GTK
Bangun Rumah dari Abu dan Bahan Bekas
Dadang mengungkapkan, pada tahap awal ia menggunakan abu sisa pembakaran (hawu) yang dibeli Rp100 ribu untuk 10 karung. Abu tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai campuran material bangunan.
“Orang-orang bilang buat apa beli abu, tapi saya manfaatkan. Yang penting bisa dipakai,” ujarnya.
Tak hanya itu, beberapa bagian dinding luar dibuat dari lemari bekas yang disusun dan dilapisi tipis semen. Dari luar tampak seperti tembok tebal, padahal di dalamnya berongga.
Beberapa tiang juga bukan penopang utama, melainkan hanya berdiri sebagai ornamen. Struktur penopang utama tetap menggunakan bagian tembok asli yang dibangun lebih dahulu.
Untuk pintu dan dinding variasi, Dadang memakai GRC agar tampilan tetap elegan namun lebih ringan dan murah dibandingkan material konvensional.
Parabola Jadi Payung, Ban Bekas Jadi Akses Jalan
Keunikan Rumah Mewah Palsu Majalengka tak berhenti di situ. Di bagian halaman, Dadang memasang parabola bekas yang disulap menjadi payung besar. Selain unik, ia mengklaim sinyal telepon di area tersebut justru menjadi lebih kuat setelah pemasangan parabola.
Akses jalan menuju rumah pun dibuat sendiri menggunakan ban bekas truk dan L300. Semua dikerjakan tanpa las mahal, melainkan dirakit dengan teknik sederhana menggunakan repet dan tambang.
“Kalau enggak ada uang, ya harus kreatif,” kata Dadang.
Bagian dalam rumah terdiri dari kombinasi kayu mahoni, kayu jati, besi holo, dan bambu yang dilapisi cor tipis. Lantainya sebagian besar menggunakan kayu, sementara beberapa struktur atas didominasi rangka besi.
Biaya Jauh Lebih Hemat
Menurut Dadang, jika membangun rumah ukuran 6x12 meter dengan bata biasa, biaya bisa menembus Rp300 juta. Namun dengan metode kreatif seperti yang ia terapkan, biaya bisa ditekan hingga sekitar Rp100 juta, tergantung luas dan material.
Ia mengibaratkan rumah seperti perempuan yang dipercantik oleh polesan. Struktur pokoknya sama, namun ornamenlah yang membuatnya tampak mahal.
“Yang bikin mahal itu ornamennya,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui metode bangunannya belum melalui uji teknis resmi. Namun selama ini rumah tersebut aman ditempati.
Dikaitkan dengan Ramalan
Menariknya, viralnya Rumah Mewah Palsu Majalengka sempat dikaitkan dengan ramalan Hart Gumai. Dalam sebuah perbincangan, disebut adanya petunjuk tentang burung, danau tosca, kampung pelosok, hingga hutan.
Di sekitar rumah Dadang memang terdapat burung peliharaan, kolam ikan mujair yang tampak kehijauan, serta lingkungan kampung yang masih dikelilingi hutan.
Dadang sendiri menanggapi santai keterkaitan tersebut. Ia menganggapnya hanya kebetulan atau tafsir simbolis semata.
“Saya bikin ini ya karena ingin dan mampu sebisanya. Soal ramalan itu urusan masing-masing,” katanya.
Inspirasi atau Kontroversi?
Rumah ini menuai pro dan kontra. Ada yang memuji kreativitas Dadang sebagai “duta irit Indonesia”, ada pula yang mempertanyakan keamanan konstruksinya.
Baca Juga: Jalan Utama ke Desa Gading Ambrol Warga Bergotong Royong Lakukan Perbaikan Darurat
Namun satu hal yang tak terbantahkan, Rumah Mewah Palsu Majalengka berhasil mencuri perhatian publik karena membuktikan bahwa keterbatasan biaya bukan penghalang untuk berkreasi.
Di tengah mahalnya biaya material bangunan saat ini, kisah Dadang menjadi inspirasi bahwa inovasi dan keberanian bereksperimen bisa menghadirkan solusi alternatif.
Editor : Natasha Eka Safrina