JAKARTA– Aksi patrol sahur sound horeg di Jombang mendadak jadi perbincangan hangat warga Jawa Timur. Kegiatan yang digelar di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang ini menyedot perhatian ribuan warga hingga memadati jalan desa sejak dini hari.
Patrol sahur sound horeg di Jombang tersebut berlangsung meriah dengan menghadirkan belasan perangkat sound system berukuran besar.
Dentuman musik keras yang menggelegar memecah suasana sahur dan mengundang masyarakat dari berbagai penjuru desa untuk datang menyaksikan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, total ada sekitar 15 sound horeg yang tampil dalam acara tersebut.
Tak hanya sekadar konvoi membangunkan sahur, kegiatan ini juga disertai hiburan tambahan yang memancing pro dan kontra di tengah masyarakat.
Ribuan Warga Padati Jalan Desa
Sejak dimulai pada dini hari, ribuan warga sudah berkumpul di sepanjang jalan Desa Jatibanjar. Mereka rela berdesakan demi menyaksikan langsung parade sound horeg yang melintas bergantian.
Suasana semakin semarak ketika masing-masing pemilik sound system unjuk kebolehan menampilkan kualitas audio terbaiknya.
Dentuman bass yang kuat serta lampu-lampu sorot warna-warni membuat suasana bak konser musik terbuka.
Baca Juga: Sekolah Dipersilakan Tak Terima MBG Harus Ajukan Surat Resmi ke Penyedia
Beberapa warga mengaku sengaja datang lebih awal agar bisa mendapat posisi strategis. “Ramai sekali, seperti festival. Jarang ada acara sebesar ini saat sahur,” ujar salah satu penonton di lokasi.
Kegiatan patrol sahur memang menjadi tradisi tahunan di sejumlah daerah di Jawa Timur. Namun, konsep menggunakan sound horeg berdaya besar membuat acara di Jombang kali ini berbeda dan jauh lebih masif.
Hadirkan Dancer, Picu Sorotan
Ironisnya, di tengah semaraknya acara, sebagian pemilik sound turut menghadirkan dancer yang berpakaian seksi untuk menghibur warga.
Penampilan tersebut sontak menjadi perhatian karena dianggap kurang sesuai dengan suasana Ramadan. Aksi dancer dengan iringan musik remix tersebut memicu beragam reaksi.
Ada yang menganggapnya sebagai bentuk hiburan semata, namun tak sedikit pula yang menilai hal itu berlebihan untuk kegiatan sahur. Meski demikian, antusiasme warga tidak surut.
Ribuan orang tetap bertahan menyaksikan hingga acara usai. Beberapa bahkan merekam momen tersebut dan membagikannya ke media sosial, sehingga video patrol sahur sound horeg di Jombang cepat viral.
Fenomena sound horeg sendiri belakangan memang marak di berbagai daerah. Selain digunakan untuk karnaval dan hajatan, sound horeg kini juga merambah kegiatan patrol sahur.
Ukurannya yang besar dengan daya suara menggelegar menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Berlangsung Hingga Pagi Hari
Aksi patrol sahur ini tidak berlangsung singkat. Sejak dimulai pada dini hari, kegiatan baru berakhir menjelang pagi.
Konvoi sound horeg berjalan bergantian menyusuri jalan desa dengan pengawalan dan pengaturan dari panitia setempat.
Total sekitar 15 sound horeg ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Masing-masing menampilkan konsep berbeda, mulai dari tata lampu, variasi musik, hingga atraksi tambahan di atas kendaraan.
Kepadatan warga yang tumpah ruah membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat. Namun secara umum, acara berjalan lancar tanpa laporan insiden besar.
Viralnya patrol sahur sound horeg di Jombang ini kembali memunculkan perdebatan soal batasan hiburan selama bulan Ramadan.
Baca Juga: Satpol PP Trenggalek Akan Gelar Patroli Gabungan, Sasar Kos-Kosan dan Kafe Selama Ramadan
Di satu sisi, masyarakat menikmati kemeriahan dan kebersamaan. Di sisi lain, muncul kekhawatiran terkait unsur hiburan yang dinilai kurang pantas.
Terlepas dari pro dan kontra, kegiatan ini menunjukkan tingginya antusiasme warga terhadap tradisi patrol sahur yang dikemas lebih modern dan spektakuler.
Fenomena sound horeg seolah menjadi magnet baru dalam setiap perhelatan rakyat, termasuk di momen sahur Ramadan.
Ke depan, banyak pihak berharap agar kegiatan serupa tetap memperhatikan norma dan nilai masyarakat setempat, sehingga tradisi membangunkan sahur tetap berjalan khidmat tanpa mengurangi semangat kebersamaan.(*)
Editor : Adinda Putri Sefiana