JAKARTA – Pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026, sempat terkoreksi setelah dibuka di zona hijau.
Meski begitu, analis masih optimistis IHSG berpotensi melanjutkan tren penguatan seperti yang terjadi pada penutupan awal pekan.
Berdasarkan pantauan di Bursa Efek Indonesia, IHSG pada pukul 09.52 WIB tercatat berada di level 8.370 atau melemah 0,31 persen setara 25 basis poin.
Nilai transaksi pagi ini telah mencapai Rp6,6 triliun, mencerminkan aktivitas perdagangan yang tetap ramai di tengah tekanan pasar.
Baca Juga: Hari Pers Nasional 2026 Dipusatkan di Banten, Usung Tema Pers Sehat Ekonomi Berdaulat Bangsa Kuat
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (23/2), IHSG ditutup menguat lebih dari 1 persen. Tren positif tersebut menjadi modal penting bagi pelaku pasar untuk mempertahankan optimisme di tengah berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi arah pergerakan indeks.
Kapital Asing Topang IHSG
VP of Equity Retail Kum Securitas, Octavianus Audi, memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak menguat sepanjang hari ini.
Menurutnya, salah satu faktor pendorong utama adalah derasnya aliran dana asing (capital inflow) yang tercatat mencapai Rp1,14 triliun di seluruh perdagangan.
Arus masuk dana asing ini menopang saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps. Emiten unggulan di sektor perbankan dan pertambangan menjadi penopang utama, sehingga mampu menjaga stabilitas indeks meski sempat terkoreksi di awal sesi.
Baca Juga: Heboh Patrol Sahur Sound Horeg di Jombang, 15 Sound dan Dancer Seksi Bikin Ribuan Warga Tumpah Ruah.
Selain itu, sentimen global juga turut berperan. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif dagang baru.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menetapkan tarif sebesar 15 persen selama 150 hari tanpa persetujuan Kongres.
Kondisi ini mendorong investor global berburu aset safe haven. Namun, bagi pasar domestik, situasi tersebut justru memberi peluang bagi saham-saham berbasis komoditas, khususnya sektor tambang, untuk mencatatkan kinerja positif dan menopang IHSG.
Rupiah Menguat, Sentimen Eksternal Positif
Penguatan nilai tukar rupiah juga menjadi katalis positif bagi IHSG. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah berada di level Rp16.802 per dolar AS atau menguat 0,51 persen.
Meski pada Selasa pagi rupiah terkoreksi tipis ke Rp16.820 per dolar AS, sentimen penguatan masih terasa di pasar.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Aswaibi, menilai penguatan rupiah dipicu oleh data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar. Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal IV hanya tumbuh 1,4 persen.
Selain itu, putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif resiprokal turut menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan global.
Lembaga tersebut memutuskan bahwa tarif dagang diberlakukan rata 10 persen terhadap sejumlah negara, sekaligus menyatakan presiden tidak memiliki kewenangan menetapkan tarif global berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).
Putusan ini memberikan angin segar bagi mata uang regional, termasuk rupiah, karena meredakan kekhawatiran terhadap eskalasi perang dagang yang lebih luas.
Reformasi Pasar Modal dan Respons MSCI
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari reformasi pasar modal yang tengah digencarkan regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) terus mendorong perbaikan struktural guna memperdalam pasar keuangan Indonesia.
Morgan Stanley Capital International atau MSCI disebut merespons positif proposal reformasi yang diajukan Indonesia.
Meski demikian, MSCI masih menantikan realisasi konkret dari sejumlah action plan yang telah disusun regulator.
Salah satu langkah strategis adalah rencana kenaikan batas minimal free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
Kebijakan ini diharapkan meningkatkan likuiditas serta daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Selain itu, regulator juga memperkuat granularitas data investor serta meningkatkan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1 persen.
Sebelumnya, batas pelaporan kepemilikan umumnya berada di bawah 5 persen. Transparansi ini diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat fondasi pasar modal.
Dengan kombinasi kapital asing, penguatan rupiah, serta reformasi struktural, IHSG dinilai masih memiliki ruang untuk bergerak positif.
Meski volatilitas jangka pendek tak terhindarkan, pelaku pasar tetap menaruh harapan pada fundamental domestik yang relatif solid. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana