JAKARTA – BYD Atto 1 resmi meluncur di GIIAS dan langsung mencuri perhatian. Bukan cuma karena statusnya sebagai mobil listrik, tetapi juga karena harganya yang sangat agresif: mulai Rp195 juta hingga Rp235 juta untuk varian tertinggi.
Di harga tersebut, BYD Atto 1 bukan sekadar mobil listrik kecil, melainkan mobil “proper” dengan empat pintu, kabin lega, dan fitur yang tak pelit. Tim Motomobi pun menjajal langsung unit ini untuk melihat seperti apa rasa berkendaranya.
Harga Menggoda, Fitur Tak Murahan
Varian termurah dibanderol Rp195 juta dengan baterai 30 kWh dan klaim jarak tempuh sekitar 300 km. Sementara varian termahal Rp235 juta membawa baterai 38,8 kWh dengan klaim hingga 380 km.
Secara hitungan kasar, efisiensinya menyentuh sekitar 10 km/kWh, angka yang tergolong baik di kelas city car listrik.
Masuk ke kabin, kesan murah tidak langsung terasa. Setir sudah dibalut kulit. Untuk varian tertinggi, tersedia pengaturan tilt dan telescopic, sementara varian bawah hanya tilt.
Layar tengah sudah mendukung Apple CarPlay dan Android Auto. Fitur seperti electronic parking brake, auto brake hold, cruise control, hingga defogger depan-belakang juga tersedia. Bahkan wireless charging hadir di tipe tertinggi.
Jika dibandingkan mobil bensin di rentang harga serupa seperti Toyota Agya atau Honda Brio, kelengkapan fitur Atto 1 terasa sangat kompetitif.
Sensasi Berkendara: Halus Tapi Tidak Galak
Saat dikendarai, BYD Atto 1 terasa nyaman untuk mobil sekelasnya. Suspensinya cukup empuk untuk penggunaan harian. Dengan pelek 16 inci dan ban 185/55, bantingan terasa lebih stabil dibanding city car kecil kebanyakan.
Akselerasinya halus. Karakter pedal gas dibuat gradual, tidak menghentak meski dalam mode Sport. Power delivery terasa aman dan ramah untuk pengemudi pemula.
Namun ada catatan pada electric power steering (EPS). Saat setir diputar mendadak, terasa sedikit lag atau batas assist-nya. Dalam manuver cepat, bobot setir terasa berubah.
Pada kecepatan rendah dan kondisi macet, karakter pedal gas yang lembut justru menguntungkan. Mobil tidak menyentak saat “nyodok-nyodok” di kemacetan.
Handling dan Kenyamanan
Wheelbase yang relatif panjang—karakter khas mobil listrik karena baterai di lantai—membuat mobil terasa lebih stabil. Meski begitu, karena dimensinya tetap kompak, gejala limbung kecil masih terasa saat manuver agresif.
Kekedapan kabin tergolong baik untuk mobil Rp200 jutaan. Meski suara ban cukup terdengar, secara keseluruhan masih dalam batas wajar.
Fitur hill start assist juga hadir, membantu saat berhenti di tanjakan. Electronic parking brake akan aktif otomatis saat tombol P ditekan.
Empat Airbag dan Perlengkapan Lengkap
Varian tertinggi dilengkapi empat airbag (depan dan samping). Varian termurah mendapat dua airbag. Ini menjadi nilai tambah signifikan di kelas harga tersebut.
Lampu sudah auto, cruise control tersedia, dan sebagian besar tombol penting masih berbentuk fisik, bukan full layar sentuh. Ini memudahkan pengoperasian saat berkendara.
Dengan paket seperti ini, banyak yang menilai BYD seperti “salah hitung harga”. Sebab, kombinasi fitur, performa, dan harga terasa sulit ditandingi kompetitor.
Bisa Gantikan LCGC?
Pertanyaan besarnya: apakah BYD Atto 1 bisa menggeser dominasi LCGC bensin?
Secara fitur dan biaya operasional, jelas sangat menarik. Tidak perlu beli bensin, bebas ganjil genap, dan biaya energi jauh lebih murah.
Namun untuk menjadi mobil utama keluarga, masih perlu pertimbangan, terutama soal infrastruktur pengisian daya dan fleksibilitas perjalanan jarak jauh.
Meski begitu, sebagai mobil kedua atau kendaraan harian di kota, BYD Atto 1 sangat masuk akal. Kehadirannya bukan hanya mengguncang pasar mobil listrik murah, tetapi juga berpotensi mengusik segmen hatchback bensin konvensional.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin konsumen yang tadinya melirik mobil bensin murah akan beralih ke listrik. Dan BYD Atto 1 berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Editor : Novica Satya Nadianti