JAKARTA - BYD M6 semakin sering terlihat di jalanan ibu kota. Popularitasnya meroket sebagai MPV listrik tiga baris dengan harga kompetitif. Namun bagaimana rasanya jika dipakai harian dalam jangka waktu lebih lama? Tes seminggu BYD M6 ini mengungkap plus minus yang jarang dibahas, termasuk fakta menarik soal pajak nol rupiah.
Dalam pengujian selama satu pekan, BYD M6 digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari aktivitas dalam kota, tol, hingga dipakai pindahan rumah. Dari situ terlihat jelas karakter asli mobil listrik tujuh penumpang ini.
Satu hal yang langsung bikin penasaran publik adalah pajak BYD M6. Untuk Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), nilainya nol rupiah. Pemilik hanya membayar SWDKLLJ dan biaya administrasi STNK serta TNKB. Totalnya sekitar Rp443 ribu atas nama perusahaan. Fakta pajak nol ini tentu menjadi daya tarik besar bagi calon konsumen mobil listrik.
Empat Kekurangan BYD M6
1. Kapasitas Versi Six Seater Kurang Fleksibel
Unit yang diuji adalah versi captain seat (six seater). Konfigurasi ini memang nyaman untuk penumpang, tetapi kurang maksimal untuk membawa barang besar. Kursi baris kedua tidak bisa dilipat rata seperti versi seven seater, sehingga ruang angkut jadi terbatas.
Untuk kebutuhan membawa barang panjang atau pindahan ringan, versi tujuh penumpang lebih direkomendasikan.
2. Modulasi Rem Kurang Halus
Salah satu catatan penting adalah karakter rem. Modulasi pedal terasa kurang presisi. Sentuhan ringan bisa terasa mendadak, namun saat ditekan lebih dalam justru tidak progresif. Bagi pengemudi yang belum terbiasa, kondisi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama saat stop and go di kemacetan.
3. Suspensi Belakang Terasa Mental
Dalam kondisi kosong, bantingan belakang terasa agak memantul. Depan terasa cukup stabil, tetapi bagian belakang seperti “ngayun”. Ketika melewati jalan bergelombang atau aspal keriting, suspensi terasa kurang refine.
Menariknya, karakter ini berubah saat mobil terisi penuh.
4. Layar Terlalu Terang Saat Malam
Layar infotainment besar memang jadi daya tarik khas BYD. Resolusi tajam dan tampilannya modern. Namun tingkat kecerahannya dinilai terlalu terang, bahkan saat sudah diatur paling rendah dan menggunakan dark mode. Saat berkendara malam hari, layar terasa mengganggu dan membuat mata cepat lelah.
Empat Kelebihan yang Menarik
1. Suspensi Lebih Nyaman Saat Terisi Penuh
Ironisnya, kekurangan suspensi tadi justru berubah menjadi kelebihan ketika mobil diisi penuh penumpang atau barang. Dengan beban lebih berat, suspensi terasa lebih stabil dan empuk. Mobil jadi lebih “nempel” ke jalan.
Karakter ini membuat BYD M6 cocok untuk operasional dengan muatan penuh, seperti kendaraan keluarga besar atau bahkan armada transportasi.
2. Akselerasi Galak Khas Mobil Listrik
Soal performa, BYD M6 tidak main-main. Tenaganya lebih dari 200 HP dengan torsi 310 Nm. Akselerasi 0–100 km/jam diklaim 8,6 detik. Respons pedal sangat instan, bahkan di mode normal.
Untuk kebutuhan overtaking dalam kota maupun tol, tenaga ini terasa sangat memadai. Namun tetap perlu kontrol karena karakter tarikan mobil listrik bisa terasa “nagih”.
3. Akses Masuk Kabin Lebih Ramah
Dibanding rival seperti Toyota Innova Zenix, lantai BYD M6 justru terasa lebih ramah untuk penumpang dengan tinggi rata-rata orang Indonesia. Akses masuk ke baris kedua relatif mudah, terutama untuk orang tua.
Bukaan pintu lebar dan posisi duduk memudahkan proses naik turun tanpa perlu usaha ekstra.
4. Fitur Keselamatan Responsif
Fitur keselamatan jadi nilai tambah penting. Sistem pengingat sabuk pengaman aktif hingga baris ketiga. Jika ada penumpang belum mengenakan seat belt, sistem langsung memberi peringatan.
Hal ini meningkatkan kesadaran keselamatan seluruh penumpang, sesuatu yang sering diabaikan di mobil keluarga pada umumnya.
Konsumsi Energi dan Biaya Operasional
Selama pemakaian kombinasi dalam kota, macet, tol, hingga perjalanan luar kota, konsumsi energi tergolong efisien untuk ukuran MPV listrik besar. Jika dikonversi ke biaya per 100 km, pengeluaran listrik jauh lebih hemat dibanding konsumsi BBM mobil konvensional di kelas yang sama.
Ditambah lagi bebas aturan ganjil-genap dan pajak nol rupiah, biaya operasional BYD M6 tergolong sangat kompetitif.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, BYD M6 menawarkan paket yang menarik: MPV listrik tiga baris, fitur melimpah, tenaga besar, pajak nol, dan biaya operasional rendah. Memang masih ada catatan pada rem, suspensi saat kosong, serta layar yang terlalu terang.
Namun dengan harga yang kompetitif dibanding rival Jepang di segmen serupa, wajar jika BYD M6 semakin banyak dipilih sebagai kendaraan keluarga maupun operasional harian di kota besar.
Editor : Novica Satya Nadianti