Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Review Jujur BYD M6: Mobil Listrik Rp 400 Jutaan Ini Bikin BT, Full Safety tapi Banyak PR!

Novica Satya Nadianti • Senin, 2 Maret 2026 | 18:15 WIB

BYD M6 jadi MPV listrik 7-seater termurah, range 530 km, dipakai Grab dan Bluebird, tapi rem dan interior jadi sorotan.
BYD M6 jadi MPV listrik 7-seater termurah, range 530 km, dipakai Grab dan Bluebird, tapi rem dan interior jadi sorotan.

JAKARTA - Review jujur BYD M6 kembali jadi sorotan setelah seorang konten kreator otomotif membagikan pengalaman pribadinya menggunakan mobil listrik keluarga tersebut. Dalam ulasannya, ia mengaku membeli dua unit BYD M6 sekaligus, masing-masing varian 7-seater dan 6-seater. Namun, ekspektasi tinggi yang ia pasang sejak awal justru berujung pada sejumlah kekecewaan.

Menurutnya, BYD M6 memang menawarkan spesifikasi yang sangat kompetitif di atas kertas. Bahkan, ia berani menyebut secara fitur dan tenaga, mobil ini bisa berada di atas lini Hyundai Ioniq. Namun dalam praktik penggunaan harian, ada beberapa hal yang menurutnya terasa “tricky” dan cukup merepotkan.

Masalah Wall Charger dan Pengisian Daya

Salah satu poin krusial dalam review jujur BYD M6 ini adalah soal pengisian daya. Ia menyoroti bahwa pembelian unit tidak otomatis mendapatkan wall charger. Konsumen harus membeli sendiri perangkat tersebut, serta mengurus pemasangan listrik tambahan jika daya rumah tidak mencukupi.

“BYD jual mobilnya tanpa wall charger, jadi harus beli lagi. Bukan masalah uangnya, tapi prosesnya ribet,” ujarnya.

Ia juga mengungkap pengalaman pengisian daya yang tidak semudah dibayangkan. Di rumahnya, mobil tidak bisa langsung dicas karena sistem keamanan BYD sangat sensitif terhadap grounding listrik. Uniknya, charger yang sama bisa digunakan di mobil listrik lain tanpa kendala.

Pengisian di SPKLU pun bukan solusi instan. Waktu pengisian minimal enam jam, belum termasuk biaya parkir per jam yang ikut dihitung. Hal ini dinilai perlu menjadi pertimbangan serius bagi calon pembeli yang tidak memiliki fasilitas charging pribadi.

Full Safety Tapi Terlalu Sensitif

Dalam review jujur BYD M6 ini, ia juga menyinggung fitur keselamatan yang menurutnya terlalu agresif. Alarm seatbelt hingga baris ketiga akan terus berbunyi jika tidak digunakan, termasuk saat anak kecil duduk di belakang.

“Memang safety, tapi over protective,” katanya.

Selain itu, varian 7-seater yang ia beli ternyata kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Posisi duduk baris kedua dinilai kurang ideal, terutama untuk postur tinggi. Ia bahkan menyarankan jika ingin membeli BYD M6 untuk kebutuhan keluarga jarak jauh, lebih baik memilih varian 6-seater.

Performa dan Fitur Tidak Bermasalah

Terlepas dari kritiknya, ia tetap mengakui bahwa secara performa, BYD M6 tergolong memuaskan. Akselerasi responsif dan tenaga terasa instan khas mobil listrik. Dari sisi fitur, ia hampir tidak memiliki komplain berarti.

Interiornya pun dinilai jauh lebih modern dibandingkan Toyota Innova. Bahkan ia secara blak-blakan menyebut kualitas interior BYD M6 lebih unggul dibanding Innova.

Namun, menurutnya ada satu hal yang hilang.

Soal “Rasa” Berkendara

Dalam review jujur BYD M6 ini, ia menekankan bahwa mobil Tiongkok, termasuk BYD, sering kali unggul di angka dan spesifikasi, tetapi kurang menghadirkan “rasa” berkendara yang berkesan.

Ia membandingkannya dengan mobil seperti Toyota Innova atau bahkan BMW dan Mercedes-Benz yang dinilai punya karakter kuat dan feel yang membuat pengemudi rindu untuk kembali mengemudikannya.

“Semua spek dikasih, tenaga ada, fitur ada, mewah ada. Tapi rasa itu enggak ada,” tegasnya.

Menurutnya, untuk petrol head atau pecinta mobil sejati, mobil seperti BYD M6 lebih cocok dijadikan kendaraan kerja harian Senin sampai Jumat. Sementara untuk penggunaan penuh satu minggu atau perjalanan emosional, mobil konvensional masih punya daya tarik tersendiri.

Konsumsi dan Efisiensi Tetap Jadi Nilai Plus

Dalam pemakaian kombinasi rute Cengkareng, PIK, Pondok Indah, hingga Bekasi, baterai tersisa sekitar 21–22 persen setelah lima hari penggunaan. Dari sisi efisiensi energi, ia menyebut mobil ini tergolong sangat baik.

Ia menilai BYD M6 cocok untuk pekerja dengan mobilitas tinggi di dalam kota. Namun bagi pembeli pertama mobil listrik, ia mengingatkan agar benar-benar menghitung biaya jangka panjang, termasuk depresiasi dan infrastruktur pendukung.

“Mobil listrik itu murah di awal kelihatannya. Tapi hitung juga lima tahun ke depan, worth it atau tidak,” ujarnya.

Kesimpulan: Layak, Tapi Jangan Terlalu Berekspektasi Tinggi

Secara keseluruhan, dalam review jujur BYD M6 ini ia memberi nilai 7,5 dari 10. Untuk kebutuhan kerja harian, ia bahkan memberi skor 9 dari 10. Namun untuk penggunaan all time sebagai satu-satunya kendaraan keluarga, ia menyarankan berpikir ulang.

BYD M6 tetap menjadi opsi menarik di segmen mobil listrik keluarga Rp 400 jutaan. Fitur lengkap, tenaga responsif, dan kabin kedap jadi keunggulan utama. Namun persoalan charging, varian kursi, serta “rasa” berkendara menjadi catatan penting.

Bagi yang ingin beralih ke mobil listrik, review jujur BYD M6 ini bisa menjadi gambaran realistis sebelum memutuskan membeli.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#BYD M6 jarak tempuh #BYD M6 #BYD M6 harga