JAKARTA - BYD Seal Performance akhirnya menjalani tes jalan jangka panjang. Bukan varian biasa, melainkan tipe tertinggi dengan klaim akselerasi 0–100 km/jam hanya 3,8 detik. Angka yang identik dengan supercar. Pertanyaannya, apakah klaim tersebut benar? Dan apakah performanya sebanding dengan harganya yang “hanya” Rp719 juta?
Sejak awal, BYD Seal Performance memang mengejutkan pasar mobil listrik Indonesia. Dengan tenaga 523 hp dan torsi 670 Nm dari sistem penggerak all wheel drive (AWD), sedan listrik ini secara spesifikasi berada di atas rival sekelasnya. Bahkan, jika dibandingkan dengan Hyundai Ioniq 6 atau Tesla Model 3 Performance, harga Seal jauh lebih agresif.
Akselerasi 3,8 Detik, Terbukti Valid
Pengujian 0–100 km/jam dilakukan menggunakan alat GPS khusus, bukan sekadar membaca speedometer bawaan mobil. Hasilnya? Catatan waktu 3,8 detik tercapai. Bahkan on-board timer sempat menunjukkan 3,6 detik.
Dorongan tenaganya terasa instan namun tetap halus. Tidak se-“brutal” Model 3 Performance yang terasa menampar dari belakang, tetapi tetap menghentak kuat. Karakter tenaganya lebih gradual, namun tetap sangat cepat. Sensasinya sunyi, tanpa suara mesin, membuat akselerasi terasa seperti “ditarik kekuatan tak terlihat”.
Top speed memang dibatasi 180 km/jam. Namun untuk penggunaan di Indonesia, performa tersebut sudah lebih dari cukup.
Handling Presisi, Bobot Berat Jadi Keuntungan
BYD menggunakan baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate) berkapasitas 82,56 kWh. Secara teori, baterai LFP lebih berat dibanding lithium-ion biasa. Namun bobot ini justru menurunkan titik gravitasi mobil karena diletakkan di lantai bawah.
Hasilnya, handling terasa presisi. Minim limbung dan stabil saat menikung cepat. Dalam kondisi jalan agak basah pun, sistem AWD memberikan rasa percaya diri tinggi. ESC juga tidak bisa dimatikan sepenuhnya, menjaga keamanan saat mobil mulai kehilangan traksi.
Karakter bantingannya memang tidak empuk seperti sedan nyaman pada umumnya. Suspensinya cenderung kaku, namun masih jauh dari kategori menyiksa seperti supercar.
Range Tidak Sampai 580 Km?
Secara klaim, BYD menyebut jarak tempuh hingga 580 km. Namun dalam pengujian pemakaian normal dalam kondisi lalu lintas Jakarta, konsumsi rata-rata berada di kisaran 5,5–6 km/kWh.
Artinya, jarak tempuh riil berada di sekitar 450–500 km dalam kondisi ideal. Angka ini memang di bawah klaim pabrikan, tetapi tetap tergolong efisien untuk mobil dengan tenaga di atas 500 hp.
Untuk pengisian daya, mobil ini mendukung DC fast charging hingga 150 kW dengan port CCS2. Pengisian 0–80 persen bisa dilakukan dalam waktu relatif singkat, membuatnya masih praktis untuk perjalanan luar kota.
Interior Premium, Fitur Melimpah
Masuk ke kabin, kesan premiumnya terasa kuat. Material soft touch dan alcantara mendominasi. Layar tengah bisa diputar portrait atau landscape, khas mobil listrik modern. Wireless charging ganda, panoramic roof, kamera 360 derajat dengan transparent mode, hingga child lock independen kanan-kiri menjadi nilai tambah.
Namun ada beberapa catatan. Pendingin kabin terasa kurang menggigit saat cuaca sangat panas. Pengaturan charging juga tergolong simpel, tanpa opsi pembatasan persentase baterai atau pengaturan arus detail seperti pada Hyundai Ioniq 5.
Visibilitas belakang juga terbatas akibat desain atap yang melandai.
Head to Head dengan Rival
Jika dibandingkan dengan Ioniq 6, Seal unggul jauh dalam performa dengan harga lebih murah. Sementara melawan Ioniq 5, karakter keduanya berbeda. Ioniq 5 lebih lega dan nyaman, sedangkan Seal jauh lebih sporty dan agresif.
Dengan banderol Rp719 juta, Seal Performance praktis menjadi mobil listrik 500 hp termurah di Indonesia. Bahkan untuk merasakan akselerasi setara supercar, opsi ini menjadi yang paling rasional secara harga.
Kesimpulannya, BYD Seal Performance bukan hanya gimmick angka 3,8 detik. Ia benar-benar menghadirkan sensasi supercar dalam paket sedan listrik yang tetap nyaman dipakai harian. Dengan harga setengah dari rival terdekatnya, sulit rasanya tidak menyebut mobil ini sebagai salah satu pilihan paling “worth it” di segmennya.
Editor : Novica Satya Nadianti