Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Konflik Iran vs Amerika Serikat Makin Panas, Kongres AS Terbelah dan Teheran Siap “Buka Pintu Neraka

Isna Dzikirianti • Rabu, 4 Maret 2026 | 14:29 WIB

Konflik Iran vs Amerika Serikat memanas, korban berjatuhan dan gelombang protes anti-perang meluas di dua negara.
Konflik Iran vs Amerika Serikat memanas, korban berjatuhan dan gelombang protes anti-perang meluas di dua negara.

JAKARTA-Konflik Iran vs Amerika Serikat kian memanas dan memicu ketegangan global. Di satu sisi, Washington terus melanjutkan operasi militer bersama Israel. Di sisi lain, perlawanan keras datang dari Teheran yang berjanji meningkatkan serangan balasan.

Situasi ini tidak hanya memicu eskalasi di Timur Tengah, tetapi juga mengguncang politik domestik Amerika.

Konflik Iran vs Amerika Serikat kini menjadi sorotan tajam di dalam negeri AS. Laporan langsung dari New York menyebutkan, posisi resmi pemerintah Amerika Serikat terbelah tajam.

Di Kongres, anggota dari Partai Demokrat menentang operasi militer yang dilancarkan Presiden tanpa persetujuan legislatif.

Mereka mendorong voting terkait Rancangan Undang-Undang War Powers Resolution yang bertujuan membatasi kewenangan presiden dalam melancarkan aksi militer tanpa persetujuan Kongres.

Jika aturan itu lolos, maka presiden wajib menghentikan operasi militer dalam waktu 60 hingga 90 hari. Namun sejumlah pengamat meragukan efektivitasnya karena presiden memiliki hak veto.

Kongres dan Publik AS Terpecah

Dukungan terhadap operasi militer ternyata tidak dominan. Berdasarkan jajak pendapat, hanya sekitar 29 persen warga Amerika Serikat yang mendukung langkah militer tersebut. Angka tertinggi pun hanya menyentuh kisaran 40 persen.

Gelombang demonstrasi anti-perang pun marak di berbagai kota besar seperti New York, Washington DC, Los Angeles, dan San Francisco.

Massa menuntut penghentian perang terhadap Iran. Bahkan sebagian demonstran menyerukan pemakzulan Presiden karena dianggap melampaui kewenangan konstitusional.

Di tengah situasi tersebut, keamanan diperketat. FBI telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan nasional.

Di New York, kepolisian meningkatkan patroli di lokasi-lokasi strategis seperti tempat ibadah, transportasi umum, Times Square, dan sekitar markas besar PBB.

Korban Militer dan Ketegangan Global

Dari Pentagon, diumumkan enam tentara Amerika Serikat tewas akibat serangan balasan Iran yang menghantam pangkalan militer di Kuwait. Empat korban telah teridentifikasi, sementara dua lainnya belum diumumkan.

Selain itu, tiga jet tempur F-15 milik AS dilaporkan jatuh akibat kesalahan teknis atau friendly fire, bukan tembakan langsung Iran.

Meski begitu, risiko korban tambahan masih terbuka lebar karena serangan balasan terus berlangsung. Di markas besar PBB di New York, Dewan Keamanan telah menggelar sidang darurat.

Namun belum ada resolusi tegas yang dihasilkan. Sebagai presiden Dewan Keamanan bulan ini, Amerika Serikat diyakini akan menggunakan hak vetonya jika ada resolusi yang menyudutkan operasi militernya.

Teheran Membara, Warga Turun ke Jalan

Sementara itu, situasi di Teheran dilaporkan semakin genting. Serangan Israel pada 3 Maret 2026 menghantam sejumlah titik strategis, termasuk universitas di ibu kota Iran.

Iran pun membalas dengan menargetkan beberapa kota di Israel serta pangkalan militer dan fasilitas konsuler Amerika.

Warga Teheran disebut terus mendengar dentuman rudal dan sistem pertahanan udara yang aktif di langit kota.

Namun, alih-alih surut, masyarakat Iran justru rutin turun ke jalan setiap malam menyatakan dukungan kepada pemerintah.

Slogan “intiqam” atau pembalasan menggema di berbagai kota. Mereka menuntut serangan balasan yang lebih keras terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Pernyataan Tegas Presiden Iran

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam keras serangan terhadap rumah sakit, sekolah, dan universitas. Ia menyebut serangan itu sebagai penyerangan terhadap kehidupan dan masa depan bangsa.

Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah. Pernyataan lebih keras datang dari juru bicara militer IRGC yang menyatakan bahwa rudal yang digunakan saat ini hanyalah produksi lama.

Ia mengklaim rudal tercanggih Iran belum sepenuhnya dikerahkan dan memperingatkan “pintu neraka” akan terbuka bagi Israel dan pasukan Amerika.

Di sisi lain, narasi yang berkembang di Iran menyebut tujuan utama Amerika dan Israel adalah mengganti rezim Republik Islam Iran agar lebih mudah dikendalikan. Namun hingga kini, solidaritas masyarakat terhadap pemerintah disebut masih kuat.

Rencana pemakaman pemimpin tertinggi Iran juga menjadi perhatian. Meski tanggalnya belum ditentukan, lokasi pemakaman direncanakan di kota Mashhad.

Dengan eskalasi yang terus meningkat dan dukungan publik Amerika yang terpecah, konflik Iran vs Amerika Serikat berpotensi meluas menjadi krisis kawasan yang lebih besar.

Dunia kini menunggu, apakah jalur diplomasi masih mungkin ditempuh, atau Timur Tengah kembali terseret dalam perang panjang.(*) 

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Eskalasi Timur Tengah #Serangan Iran #perlawanan keras #Konflik Iran vs Amerika Serikat #operasi militer Amerika Serikat