JAKARTA - Rupiah tembus 17.000 per dolar AS pada awal pekan ini setelah gejolak geopolitik global memicu lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan yang meningkat akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu gangguan pasokan energi global, terutama di kawasan strategis Selat Hormus.
Kondisi tersebut langsung berdampak pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dilaporkan melemah hingga menyentuh level psikologis 17.000 per dolar AS, turun sekitar 0,56 persen dibanding penutupan akhir pekan lalu yang berada di kisaran 16.925 per dolar.
Praktisi pasar modal Hans menjelaskan bahwa rupiah tembus 17.000 per dolar terutama dipengaruhi faktor eksternal. Ketegangan geopolitik membuat investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Ketika perang terjadi, investor cenderung kembali ke aset yang dianggap aman. Salah satunya adalah dolar AS. Itu yang menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Hans dalam wawancara virtual.
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ketegangan di Timur Tengah juga memicu lonjakan harga minyak mentah global. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat menembus 110 dolar per barel, sementara minyak Brent mencapai sekitar 116 dolar per barel.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh gangguan pasokan di Selat Hormus, jalur vital yang menjadi rute pengiriman sekitar 26 persen minyak mentah dunia dan 20 persen gas alam cair (LNG) global.
Menurut Hans, gangguan di jalur strategis tersebut dapat langsung mempengaruhi pasokan energi dunia.
“Ketika Selat Hormus terganggu atau bahkan ditutup, negara-negara di kawasan Teluk harus menghentikan sementara produksi. Akibatnya suplai minyak dunia berkurang drastis,” jelasnya.
Selain itu, konflik meningkat setelah Israel dilaporkan menyerang fasilitas penyimpanan minyak milik Iran.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa infrastruktur energi akan menjadi target dalam konflik.
“Ketika infrastruktur minyak mulai diserang, pasar khawatir pemulihan pasokan akan memakan waktu lama. Itu yang membuat harga minyak melonjak sangat cepat,” katanya.
Tekanan bagi Rupiah dan Ekonomi Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, kenaikan harga energi biasanya akan berdampak pada peningkatan inflasi.
Jika harga minyak terus bertahan tinggi, pemerintah berpotensi menghadapi tekanan besar pada anggaran subsidi energi.
Hans menjelaskan bahwa setiap kenaikan 1 dolar harga minyak dapat meningkatkan beban subsidi negara hingga sekitar Rp10,3 triliun per tahun.
“Saat ini asumsi harga minyak dalam APBN masih sekitar 76 dolar per barel. Sementara harga pasar sudah menembus lebih dari 100 dolar. Selisihnya cukup besar,” ujarnya.
Jika kondisi ini berlangsung lama, pemerintah kemungkinan harus melakukan penyesuaian kebijakan energi, termasuk opsi menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi.
Namun kebijakan tersebut tidak mudah, terutama menjelang periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Lebaran.
“Kenaikan BBM akan berdampak langsung pada biaya transportasi dan harga barang. Semua harga bisa ikut naik, mulai dari makanan hingga kebutuhan pokok,” tambah Hans.
Peran Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah
Dalam kondisi ini, Bank Indonesia dinilai memiliki peran penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi pasar kemungkinan dilakukan untuk mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Hans menyebut level 17.000 per dolar merupakan batas psikologis penting di pasar.
“Kalau rupiah ditutup konsisten di atas 17.000, biasanya pergerakannya bisa menjadi lebih liar. Karena itu Bank Indonesia berusaha menjaga agar tidak menembus level tersebut,” katanya.
Upaya stabilisasi tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing maupun pasar obligasi. Namun langkah itu juga membuat cadangan devisa berpotensi tergerus.
Saat ini cadangan devisa Indonesia masih relatif kuat, tetapi lebih kecil dibandingkan beberapa negara Asia lainnya seperti Thailand dan India.
Dampak ke Pasar Saham dan Investor
Gejolak global juga berdampak pada pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan mengalami tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga energi dan pelemahan rupiah.
Meski demikian, Hans menilai kondisi ini masih bisa bersifat sementara apabila konflik geopolitik dapat segera mereda.
“Pasar biasanya bereaksi berlebihan di awal. Jika perang bisa cepat diselesaikan, maka pasar keuangan termasuk saham bisa kembali stabil,” ujarnya.
Bagi investor ritel, kondisi pasar yang melemah justru bisa menjadi peluang untuk melakukan pembelian bertahap pada saham dengan fundamental kuat.
Namun ia tetap mengingatkan investor untuk berhati-hati karena ketidakpastian geopolitik masih cukup tinggi.
“Investor sebaiknya tetap disiplin dalam manajemen risiko. Jangan panik, tapi juga jangan terlalu agresif,” pungkasnya. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana