JAKARTA – Pergerakan saham perbankan kembali menjadi perhatian investor di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif. Beberapa saham bank besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI mengalami pergerakan berbeda pada perdagangan awal Maret 2026.
Meski sebagian mengalami penurunan, sejumlah analis menilai harga beberapa saham perbankan justru mulai mendekati area menarik untuk dikoleksi, terutama bagi investor jangka panjang.
Penurunan harga tersebut terjadi di tengah tekanan pasar saham secara umum. Namun, secara fundamental, sejumlah saham perbankan dinilai masih memiliki kinerja yang solid dan potensi dividen yang menarik.
BBCA Masih Bertahan di Area Support
Saham Bank Central Asia (BBCA) pada perdagangan terakhir tercatat turun sekitar 1,7 persen. Meski demikian, penurunan ini dianggap tidak terlalu dalam dibandingkan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Secara teknikal, area support terdekat BBCA berada di kisaran Rp6.700. Sementara level resistance jangka pendek berada di sekitar Rp6.900.
Dalam beberapa pekan terakhir, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih. Bahkan sejak awal Februari, arus dana asing keluar dari saham BBCA diperkirakan mencapai sekitar Rp5,2 triliun.
Meski begitu, dari sisi valuasi, saham BBCA masih dianggap menarik. Saat ini, price to book value (PBV) BBCA berada di sekitar 3 kali, lebih rendah dibandingkan valuasi historis yang biasanya berada di atas 4 kali.
Fundamental perusahaan juga dinilai tetap solid, dengan pertumbuhan pendapatan yang masih positif meski laju kenaikannya sedikit melambat pada kuartal keempat.
Bank Mandiri Dinilai Paling Menarik Secara Valuasi
Berbeda dengan BBCA, saham Bank Mandiri (BMRI) mengalami penurunan lebih dalam, yakni sekitar 3,21 persen. Penurunan ini membawa harga sahamnya mendekati area support teknikal di kisaran Rp4.720.
Meski harga turun, secara fundamental Bank Mandiri justru dinilai sangat menarik.
Saat ini, rasio price to earnings (PER) saham BMRI berada di kisaran 7,9 kali, sementara PBV sekitar 1,5. Angka ini tergolong rendah untuk bank dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp447 triliun.
Pendapatan Bank Mandiri juga tercatat meningkat sepanjang 2025, termasuk pada kuartal keempat yang menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan.
Dari sisi dividen, Bank Mandiri juga dikenal memiliki rasio pembagian laba yang cukup tinggi, biasanya berada di kisaran 60–70 persen dari laba bersih.
Dengan kombinasi valuasi murah dan potensi dividen menarik, saham ini dinilai cukup layak untuk investasi jangka panjang.
BBRI Dekati Area Bottom
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengalami koreksi sekitar 2,7 persen dan kembali mendekati area support di kisaran Rp3.550–Rp3.570.
Volatilitas BBRI memang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Dalam satu hari perdagangan, saham ini bahkan bisa bergerak naik atau turun hingga 3–4 persen.
Secara valuasi, BBRI saat ini memiliki PER sekitar 9 kali dan PBV sekitar 1,6. Meski masih menarik, kinerja laba perusahaan pada 2025 tercatat mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun demikian, BBRI tetap menjadi salah satu saham favorit investor karena konsistensi pembagian dividen dan fundamental bisnis yang relatif stabil.
BBNI Justru Menguat
Di tengah tekanan saham bank lainnya, saham Bank Negara Indonesia (BBNI) justru mencatat kenaikan tipis sekitar 0,47 persen.
Harga sahamnya sempat turun ke area support Rp4.130 sebelum akhirnya memantul dan ditutup di kisaran Rp4.290.
Menariknya, pada perdagangan tersebut investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih sekitar Rp69 miliar. Arus dana asing ini diduga menjadi salah satu faktor yang menjaga pergerakan harga BBNI tetap positif.
Secara valuasi, saham BBNI juga tergolong murah. PBV-nya bahkan sudah berada di bawah 1 kali, sementara PER sekitar 7,9 kali.
Kondisi ini membuat saham BBNI juga masuk dalam radar investor yang mencari saham bank dengan valuasi relatif rendah.
Prospek Saham Bank Masih Menarik
Meski pergerakan pasar masih fluktuatif, saham-saham bank besar di Indonesia secara umum masih memiliki fundamental kuat.
Bagi investor jangka panjang, kondisi koreksi harga justru bisa menjadi kesempatan untuk mulai mengakumulasi saham secara bertahap.
Namun demikian, pelaku pasar tetap disarankan untuk memperhatikan kondisi ekonomi global, arus dana asing, serta tren pasar sebelum mengambil keputusan investasi. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana