JAKARTA – Pernyataan mengejutkan datang dari pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie terkait kondisi ekonomi nasional. Ia menilai melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.000 per dolar AS menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh dianggap sepele.
Dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa (10/3/2026), Connie Rahakundini Bakrie menyoroti kondisi rupiah yang menurutnya menunjukkan bahwa situasi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Menurutnya, kondisi rupiah Rp17.000 bukan sekadar fluktuasi biasa di pasar keuangan. Angka tersebut disebut sebagai peringatan serius yang bisa berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional.
“Indonesia tidak baik-baik saja. Ketika dolar mencapai angka ini, kita harus sadar bahwa kita sedang berada di dalam jurang,” kata Koni dalam video yang beredar di media sosial.
Ia juga mengaitkan situasi ekonomi tersebut dengan dinamika geopolitik global, terutama konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Dampak Konflik Timur Tengah
Koni menilai konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah dapat memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Menurutnya, ketegangan geopolitik sering kali memicu gejolak pasar keuangan internasional. Kondisi ini biasanya berdampak langsung pada nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Konflik Timur Tengah ini bisa menjadi alarm besar bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian global membuat investor cenderung menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, nilai tukar rupiah berpotensi semakin tertekan.
Rupiah Rp17.000 Jadi Sinyal Bahaya
Dalam pernyataannya, Connie Rahakundini Bakrie menegaskan bahwa rupiah Rp17.000 merupakan tanda bahwa Indonesia harus segera mengambil langkah antisipasi.
Ia bahkan menyebut bahwa kondisi ekonomi nasional bisa memasuki fase yang sangat berbahaya jika pelemahan rupiah tidak segera diatasi.
“Kalau dolar terus naik, kita harus sangat waspada,” tegasnya.
Menurut Connie Rahakundini Bakrie, dampak dari pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh sektor keuangan, tetapi juga bisa mempengaruhi harga barang impor, inflasi, hingga daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Diskusi dengan Mantan Gubernur BI dan Menteri Keuangan
Koni mengungkapkan bahwa kekhawatiran tersebut bukan sekadar asumsi pribadi. Ia mengaku telah berdiskusi langsung dengan sejumlah tokoh ekonomi nasional.
Di antaranya adalah para mantan Gubernur Bank Indonesia dan mantan Menteri Keuangan yang pernah menangani berbagai krisis ekonomi di masa lalu.
Menurutnya, diskusi tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mencari langkah antisipatif agar nilai tukar rupiah tidak semakin melemah.
“Dua malam yang lalu saya diundang oleh semua mantan Gubernur Bank Indonesia dan semua mantan Menteri Keuangan Indonesia,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai kemungkinan skenario ekonomi dibahas, termasuk potensi tekanan terhadap rupiah dalam beberapa bulan ke depan.
Peringatan Jika Rupiah Tembus Rp22.000
Yang paling mengejutkan dari pernyataan Connie adalah prediksinya mengenai kemungkinan nilai tukar rupiah jika tekanan ekonomi global semakin memburuk.
Ia menyebut bahwa jika rupiah terus melemah hingga menyentuh Rp22.000 per dolar AS, kondisi tersebut bisa menjadi titik kritis bagi perekonomian Indonesia.
“Kalau dolar mencapai Rp22.000 dan tidak bisa kita tahan, Indonesia selesai,” ujarnya.
Meski pernyataan tersebut terdengar sangat keras, Connie menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk memberikan peringatan agar semua pihak lebih waspada.
Ia berharap pemerintah, otoritas keuangan, dan pelaku ekonomi dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, kewaspadaan sejak dini sangat penting agar Indonesia tidak mengalami tekanan ekonomi yang lebih berat di masa depan.
“Ini bagian dari upaya saya untuk menjaga Indonesia,” pungkasnya. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana