JAKARTA – Ekonomi China menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang semakin jelas. Pemerintah China bahkan menurunkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) menjadi sekitar 4,5 hingga 5 persen pada tahun ini. Target tersebut menjadi yang terendah sejak awal 1990-an.
Penurunan target pertumbuhan itu diumumkan dalam sidang tahunan “Two Sessions”, forum politik penting di China yang melibatkan National People’s Congress (NPC) dan Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC).
Dalam sidang pembukaan di Great Hall of the People, Beijing, Perdana Menteri China menyampaikan laporan kerja pemerintah yang menegaskan bahwa ekonomi China kini menghadapi tekanan dari berbagai sektor. Mulai dari krisis properti, lemahnya konsumsi rumah tangga, hingga perubahan demografi.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada China sendiri, tetapi juga berpotensi mempengaruhi negara mitra dagang, termasuk Indonesia.
Krisis Properti Jadi Pemicu Perlambatan
Selama puluhan tahun, sektor properti menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi China. Perumahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai instrumen investasi utama bagi masyarakat.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini mengalami tekanan serius. Krisis bermula ketika pemerintah China memperketat aturan utang bagi pengembang properti pada 2020.
Kebijakan itu membuka kelemahan dalam industri yang selama ini bergantung pada pembiayaan berbasis utang.
Akibatnya, pasar properti China masuk dalam lingkaran penurunan. Permintaan rumah melemah, pembiayaan semakin ketat, dan banyak proyek pembangunan tertunda.
Data ekonom menunjukkan bahwa harga rumah di China telah turun sekitar 30 persen sejak puncaknya pada 2021.
Penurunan tersebut memukul kekayaan rumah tangga. Banyak calon pembeli rumah memilih menunda pembelian karena khawatir harga akan terus turun.
Sementara itu, pemilik rumah yang ingin menjual properti mereka sering kali harus menerima kerugian.
Padahal sebelumnya, sektor properti dan industri terkait menyumbang hampir seperempat dari PDB China. Kini kontribusinya diperkirakan turun menjadi kurang dari seperlima.
Tekanan Deflasi dan Konsumsi Melemah
Dampak dari melemahnya sektor properti langsung terasa pada perilaku konsumsi masyarakat.Ketika nilai aset rumah tangga turun, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Permintaan yang melemah akhirnya memicu tekanan harga di berbagai sektor. Banyak perusahaan terpaksa memangkas harga untuk menarik konsumen. Situasi ini memicu deflasi yang sudah berlangsung sejak 2023.
Deflasi menjadi tantangan besar bagi perekonomian. Ketika masyarakat memperkirakan harga akan terus turun, mereka cenderung menunda pembelian.
Akibatnya, perusahaan mengalami tekanan pada margin keuntungan. Investasi melambat, dan kemampuan perusahaan menaikkan upah pekerja menjadi terbatas.
Pemerintah China menyebut fenomena persaingan harga yang terlalu ketat ini sebagai “involution”, yakni kondisi ketika perusahaan saling menekan harga demi bertahan di pasar.
Tantangan Demografi Jangka Panjang
Selain masalah ekonomi domestik, ekonomi China juga menghadapi tantangan struktural dari perubahan demografi.
Jumlah kelahiran di China terus menurun. Pada 2016 angka kelahiran mencapai sekitar 17,9 juta bayi. Namun pada 2025 jumlahnya hanya sekitar 7,9 juta. Penurunan drastis ini membuat struktur populasi berubah.
Proporsi penduduk usia kerja juga menyusut. Pada 2015 kelompok usia 16 hingga 59 tahun mencapai lebih dari 70 persen populasi. Namun pada 2025 turun menjadi sekitar 60 persen.
Di sisi lain, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat. Perubahan demografi ini berpotensi memengaruhi produktivitas tenaga kerja, konsumsi masyarakat, hingga inovasi teknologi di masa depan.
Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, pemerintah China meningkatkan investasi pada sektor teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, robotika, dan bioteknologi.
Ekspor Jadi Penopang Terakhir
Di tengah melemahnya permintaan domestik, sektor ekspor masih menjadi penopang utama ekonomi China.
Pada 2025, ekspor neto menyumbang sekitar sepertiga pertumbuhan PDB China, proporsi terbesar sejak 1997.
Produsen China juga mulai meningkatkan ekspor produk bernilai tinggi seperti kendaraan listrik, panel surya, dan peralatan manufaktur.
Strategi tersebut membuat surplus perdagangan China mencapai sekitar 1,2 triliun dolar AS pada 2025. Namun ketergantungan pada ekspor juga memiliki risiko.
Semakin banyak negara mulai membatasi impor dari China melalui tarif, kuota, maupun kebijakan perlindungan industri domestik.
Dampaknya bagi Indonesia
Perlambatan ekonomi China menjadi perhatian penting bagi Indonesia. China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Perubahan kondisi ekonomi di negara tersebut dapat memengaruhi permintaan ekspor, harga komoditas, hingga arus investasi di kawasan Asia.
Jika ekonomi China melambat lebih dalam, dampaknya bisa terasa pada sektor perdagangan, industri, hingga stabilitas ekonomi regional.
Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia perlu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang muncul dari perubahan arah ekonomi China dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana