JAKARTA - Nogodino kembali menjadi sorotan, khususnya dalam tradisi pernikahan Jawa. Ilmu nogodino ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk menentukan arah lamaran hingga waktu yang dianggap tepat berdasarkan pergerakan “naga hari”.
Nogodino adalah konsep dalam budaya Jawa yang memaknai posisi naga sebagai simbol energi yang berpindah-pindah mengikuti waktu. Dalam praktiknya, nogodino tidak hanya dihitung berdasarkan hari, tetapi juga bisa dilihat dari bulan bahkan tahun. Namun, yang paling umum digunakan adalah nogodino berdasarkan bulan Jawa, terutama untuk keperluan pernikahan.
Dalam tradisi ini, arah menjadi hal penting. Ada empat arah utama yang digunakan sebagai acuan, yakni timur (wetan), selatan (kidul), barat (kulon), dan utara (lor). Setiap periode bulan Jawa, posisi naga diyakini berada di salah satu arah tersebut dan memengaruhi kelancaran suatu hajat.
Baca Juga: Peta Persaingan Juara Super League Memanas! Persib 40 Persen, Borneo FC dan Persija Kejar Ketat
Pembagian Nogodino Berdasarkan Bulan Jawa
Perhitungan nogodino untuk pernikahan biasanya dibagi menjadi empat kelompok bulan dalam kalender Jawa. Masing-masing kelompok menentukan posisi naga yang harus dihindari.
Pada tiga bulan awal, yaitu Suro, Sapar, dan Mulud, posisi naga berada di timur. Artinya, arah timur dianggap kurang baik untuk aktivitas penting seperti lamaran atau pernikahan.
Selanjutnya, pada bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir, posisi naga berpindah ke selatan. Pada periode ini, arah selatan sebaiknya dihindari.
Kemudian, bulan Rajab, Ruwah, dan Poso menempatkan naga di barat. Arah barat menjadi pantangan untuk kegiatan besar, termasuk lamaran.
Sementara itu, tiga bulan terakhir, yakni Syawal, Apit, dan Besar, menempatkan naga di utara. Dengan demikian, arah utara sebaiknya tidak dipilih dalam periode tersebut.
Baca Juga: Daftar 24 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA Match Series, Keputusan John Herdman Tuai Pro Kontra
Pengaruh Arah dalam Prosesi Lamaran
Dalam praktiknya, nogodino sering digunakan untuk menentukan arah datangnya rombongan lamaran. Misalnya, jika calon pengantin pria berasal dari utara dan calon pengantin wanita berada di selatan, maka arah perjalanan perlu disesuaikan dengan posisi naga pada bulan tersebut.
Jika arah perjalanan berlawanan dengan posisi nogodino, maka diyakini dapat menghambat kelancaran proses pernikahan. Karena itu, masyarakat biasanya memilih menunda atau mencari waktu lain yang dianggap lebih baik.
Sebagai contoh, pada bulan Jumadil Akhir yang menempatkan naga di selatan, maka perjalanan dari utara ke selatan sebaiknya dihindari. Solusinya adalah menunggu bulan berikutnya ketika posisi naga sudah berpindah.
Baca Juga: Honda QVE Motor Listrik Canggih Bak Mobil Listrik, Viral karena Harga dan Teknologi Precharge Relay
Alternatif dan Kepercayaan Masyarakat
Beberapa masyarakat mencoba mencari alternatif dengan mengubah jalur perjalanan, misalnya tidak langsung menuju arah yang dianggap kurang baik. Namun, cara ini tidak selalu direkomendasikan dalam ajaran tradisional.
Sebagian orang memilih tetap mengikuti aturan nogodino secara ketat, sementara lainnya menganggapnya sebagai pertimbangan tambahan saja. Meski demikian, kepercayaan ini tetap hidup karena diwariskan dari generasi ke generasi.
Warisan Budaya yang Masih Bertahan
Nogodino menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa memiliki sistem pengetahuan tradisional yang kompleks dalam membaca tanda alam dan waktu. Tidak hanya soal arah, tetapi juga mencerminkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan besar.
Hingga kini, penggunaan nogodino dalam pernikahan masih ditemukan di berbagai daerah. Terutama bagi mereka yang ingin menjaga tradisi dan menghormati warisan leluhur.
Di tengah modernisasi, nogodino memang tidak lagi menjadi aturan mutlak. Namun, bagi sebagian masyarakat Jawa, ajaran ini tetap memiliki nilai filosofis sebagai pengingat untuk tidak terburu-buru dan selalu mempertimbangkan setiap langkah dalam hidup.
Editor : Novica Satya Nadianti