JAKARTA – Penantian panjang pendukung Skuad Garuda untuk menyaksikan tangan dingin pelatih kelas dunia akhirnya terbayarkan. Dalam laga taktik debut John Herdman, Timnas Indonesia tampil digdaya dengan melibas perwakilan Kepulauan Karibia, Saint Kitts and Nevis, empat gol tanpa balas. Kemenangan meyakinkan ini tidak hanya menjadi modal positif secara skor, tetapi juga memamerkan gairah baru di pinggir lapangan yang selama ini dirindukan publik sepak bola tanah air.
Dominasi Indonesia sudah terasa sejak peluit kick-off dibunyikan. Dua bintang Persib Bandung, Beckham Putra Nugraha dan Ole Romeny, tampil menggilas pertahanan lawan, ditambah gol cantik dari Mauro Zijlstra yang mengunci kemenangan absolut atas negara peringkat 154 dunia tersebut. Namun, sorotan utama kamera sepanjang pertandingan justru tertuju pada sosok John Herdman. Pelatih asal Inggris itu tak sedetik pun duduk diam di bench, ia terus berteriak memberikan instruksi dengan penuh semangat kepada Rizky Ridho cs.
Kepada awak media, Herdman mengakui bahwa aksinya yang sangat ekspresif di touchline merupakan bentuk gairah besarnya menangani Timnas Indonesia. Ia menyebut karakter tersebut terinspirasi dari budaya sepak bola di Newcastle, kota asalnya. "Gairah itu harus ada. Dalam fase awal ini, pelatih harus lebih terlibat secara konstan untuk mengingatkan kerangka taktis, identitas, dan strategi kita hingga para pemain benar-benar memilikinya secara mandiri," ujar eks pelatih Timnas Kanada tersebut.
Eksperimen Kedalaman Skuad Jelang Final
Meskipun menang besar, taktik debut John Herdman sebenarnya merupakan bagian dari skenario besar untuk menguji kedalaman skuad. Analis sepak bola senior, M. Kusnaeni, menilai Herdman sengaja tidak menurunkan seluruh pemain starter utamanya sejak awal. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana kualitas pemain pelapis dalam menerjemahkan skema permainan cepat dan vertikal yang ia usung sebelum menghadapi ujian sesungguhnya.
"Coach Herdman sudah menyiapkan skenario ini sesuai kebutuhan tim. Ia ingin melihat kemampuan semua pemain yang ada sebagai persiapan menghadapi laga yang jauh lebih berat di partai puncak nanti," ujar Kusnaeni. Meski demikian, masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus segera dibenahi, terutama dalam memperkuat penguasaan bola di lapangan tengah agar transisi permainan menjadi lebih stabil sepanjang 90 menit.
Menantang Bulgaria di Partai Puncak
Kini, Timnas Indonesia resmi melangkah ke final FIFA Series 2026 untuk menantang tim kuat asal Eropa, Bulgaria. Laga yang dijadwalkan berlangsung pada Senin mendatang ini akan menjadi pembuktian sesungguhnya dari taktik debut John Herdman. Walaupun turnamen mini ini tidak memperebutkan trofi fisik, namun gengsi dan posisi Indonesia di peringkat FIFA menjadi taruhan besar di mata dunia.
Bulgaria yang memiliki materi pemain di liga-liga top Eropa jelas berada di level yang berbeda dibandingkan Saint Kitts and Nevis. Gaya juang dan kedisiplinan taktis anak asuh Herdman akan diuji secara total. Publik berharap, gairah "Newcastle" yang dibawa Herdman mampu membakar semangat juang Skuad Garuda untuk kembali membuat kejutan dan membuktikan bahwa proses pembangunan sepak bola Indonesia berada di jalur yang tepat.
Editor : Natasha Eka Safrina