JAKARTA – Kenaikan harga plastik naik secara signifikan dalam beberapa hari terakhir mulai menimbulkan keresahan di masyarakat.
Lonjakan harga yang disebut-sebut dipicu situasi geopolitik di Timur Tengah ini bahkan telah menyentuh angka lebih dari 50 persen di tingkat pengecer.
Fenomena harga plastik naik ini tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga konsumen dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat bawah hingga menengah ke atas kini mulai terdampak, terutama karena plastik merupakan kebutuhan penting dalam aktivitas sehari-hari.
Di sejumlah pasar tradisional di Jakarta Barat, kondisi ini terlihat nyata. Para pedagang mengeluhkan kenaikan harga yang terjadi secara drastis dan cepat.
Bahkan, dalam beberapa kasus, harga plastik mengalami perubahan hingga beberapa kali dalam sehari.
Seorang pedagang plastik, Haji Jack, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir dan cukup memberatkan. Ia menyebut, harga plastik kemasan yang sebelumnya berada di kisaran Rp30 ribuan kini melonjak menjadi Rp54 ribu per kilogram.
“Betul, naiknya lebih dari 50 persen. Dulu plastik untuk minyak atau gula itu sekitar Rp30 ribuan, sekarang sudah Rp54 ribu. Untuk plastik anti panas malah sudah Rp65 ribu per kilo,” ujarnya.
Lonjakan ini tentu berdampak langsung pada rantai distribusi barang, terutama kebutuhan pokok. Plastik yang selama ini menjadi bahan utama kemasan kini menjadi beban tambahan bagi pedagang.
Pedagang Terjepit, Harga Ikut Naik
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang kebutuhan pokok. Wawan, salah satu pedagang di pasar, mengaku berada dalam posisi dilematis.
Baca Juga: Prediksi Pasar Saham Pekan Ini: Sinyal Bullish Muncul, Dow Jones hingga Nasdaq Siap Reli?
Di satu sisi, plastik sangat dibutuhkan untuk membungkus barang dagangan. Namun di sisi lain, harga yang terus naik membuat biaya operasional meningkat.
“Sekarang jadi dilema. Dulu sempat ada gerakan mengurangi plastik, tapi sekarang tetap dibutuhkan. Mau tidak mau harus beli, walaupun harganya naik,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga plastik tidak bisa dihindari karena ketersediaan stok yang terbatas. Bahkan, dalam satu hari harga bisa berubah hingga tiga kali.
“Pedagang makanan, sayur, semuanya butuh plastik. Kalau harga plastik naik, otomatis harga jual juga bisa ikut naik. Ini yang ditakutkan,” imbuhnya.
Kenaikan harga plastik ini juga berpotensi memicu inflasi, terutama pada sektor makanan dan minuman. Sebab, hampir seluruh produk потребكonsumsi menggunakan plastik sebagai kemasan utama.
Dampak Meluas ke Konsumen
Dampak dari harga plastik naik tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga konsumen akhir. Kenaikan biaya kemasan membuat harga barang ikut terkerek, sehingga daya beli masyarakat berpotensi menurun.
Kondisi ini semakin berat di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Masyarakat harus menghadapi kenaikan harga dari berbagai sektor secara bersamaan.
Para pelaku usaha berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku plastik. Mereka juga meminta adanya intervensi terhadap distribusi dan pasokan agar tidak terjadi kelangkaan.
“Kami berharap ada kestabilan dari pemerintah maupun supplier. Jangan sampai semua beban ditanggung konsumen,” ujar Wawan.
Harapan Stabilitas Harga
Kenaikan harga plastik yang dipicu faktor global menunjukkan betapa rentannya sektor domestik terhadap gejolak internasional. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Selain itu, momentum ini juga bisa menjadi pengingat pentingnya mencari alternatif kemasan ramah lingkungan yang lebih stabil secara harga. Namun dalam jangka pendek, stabilisasi harga tetap menjadi kebutuhan mendesak.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi efek domino yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah.(*)
Editor : Isna Dzikirianti