JAKARTA - IPO WBSA resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/4/2026), sekaligus menjadi emiten pertama yang melakukan initial public offering (IPO) di tahun ini. Kehadiran saham logistik ini langsung menyedot perhatian pasar, terbukti dari tingginya minat investor yang membuat penawaran umum perdana tersebut mengalami kelebihan permintaan alias oversubscribe hingga 387 kali.
Euforia IPO WBSA ini terjadi di tengah kondisi pasar saham yang cenderung fluktuatif. Meski begitu, saham ini tetap berhasil menarik minat karena membawa cerita pertumbuhan sektor logistik berbasis teknologi yang sedang berkembang pesat di Indonesia.
Dalam penawarannya, perseroan menetapkan harga saham di level Rp168 per saham, mendekati batas atas dari kisaran harga bookbuilding sebelumnya. Dengan melepas sekitar 1,8 miliar saham atau setara 20,75 persen dari total modal disetor, perusahaan berhasil meraup dana segar sebesar Rp302,4 miliar.
Baca Juga: Prediksi Pasar Saham Pekan Ini: Sinyal Bullish Muncul, Dow Jones hingga Nasdaq Siap Reli?
Profil dan Strategi Bisnis WBSA
WBSA merupakan perusahaan logistik yang terintegrasi dengan teknologi digital. Awalnya, perusahaan ini berkembang dari startup logistik berbasis teknologi bernama Warx. Seiring pertumbuhan bisnis, pada 2022 perusahaan mulai melakukan ekspansi dengan mengakuisisi entitas logistik konvensional untuk memperkuat armada operasionalnya.
Saat ini, fokus bisnis WBSA berada di sektor transportasi darat yang menyumbang sekitar 58 persen pendapatan, disusul oleh layanan freight forwarding dan pergudangan. Dengan model bisnis yang tergolong asset light, perusahaan mampu mencatatkan kinerja keuangan yang cukup efisien.
Per September 2025, total aset WBSA tercatat mencapai Rp1,1 triliun dengan pendapatan sebesar Rp1,5 triliun. Sementara laba bersihnya mencapai Rp24 miliar.
Ekspansi ke Sektor Tambang dan Luar Jawa
Dana hasil IPO WBSA akan digunakan untuk memperluas bisnis ke sektor baru, terutama pertambangan dan komoditas. Selain itu, perusahaan juga berencana memperluas jangkauan operasional ke luar Pulau Jawa guna menangkap peluang logistik nasional yang lebih luas.
Langkah ekspansi ini dinilai strategis mengingat tingginya kebutuhan distribusi di sektor energi dan komoditas, terutama di wilayah Indonesia timur.
Namun demikian, dari sisi valuasi, saham WBSA dinilai cukup premium. Dengan price to earnings ratio (PER) mencapai 44 kali, angka ini jauh di atas rata-rata perusahaan transportasi yang sebelumnya melantai di bursa.
IHSG Menguat Tipis, Ditopang Saham Konglomerasi
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat tipis 0,39 persen ke level 7.308. Penguatan ini ditopang oleh lonjakan signifikan pada beberapa saham konglomerasi yang naik lebih dari 15 persen.
Namun, tekanan justru datang dari sektor perbankan. Saham-saham besar seperti BCA dan BRI mengalami aksi jual oleh investor asing dengan nilai net sell mencapai triliunan rupiah.
Di pasar global, sentimen masih cenderung negatif akibat kenaikan harga minyak dunia. Meski demikian, harapan terhadap keberlanjutan gencatan senjata di Timur Tengah memberikan sedikit optimisme bagi investor.
Aksi Korporasi Lain: Right Issue dan Dividen
Selain IPO WBSA, pasar juga diramaikan oleh sejumlah aksi korporasi lainnya. Salah satunya adalah rencana right issue dari Minapadi Investama dengan target dana Rp113 miliar. Perseroan menawarkan rasio 5:1 dengan harga pelaksanaan Rp50 per saham.
Di sisi lain, beberapa emiten juga mengumumkan pembagian dividen. Avia Avian membagikan total dividen Rp23 per saham untuk tahun buku 2025. Sido Muncul juga mengumumkan dividen tunai sebesar Rp15 per saham.
Bank OCBC NISP turut membagikan dividen sebesar Rp45 per saham, meski lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Prospek dan Antusiasme Pasar
Tingginya oversubscribe IPO WBSA menunjukkan bahwa minat investor terhadap saham baru masih sangat besar, terutama yang memiliki cerita pertumbuhan kuat. Namun, investor tetap diingatkan untuk mencermati valuasi dan fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dengan momentum sebagai emiten pertama tahun ini, WBSA berpotensi menjadi barometer minat pasar terhadap IPO selanjutnya di 2026. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana