JAKARTA-Kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur menggegerkan warga pada malam hari setelah KA Argo Bromo dilaporkan menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti di jalur arah Cikarang.
Insiden ini memicu kepanikan besar, dengan suara tabrakan yang disebut saksi terdengar seperti ledakan bom.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih terus berlangsung. Petugas gabungan dari PT KAI, kepolisian, hingga tim medis masih berupaya mengevakuasi korban serta memindahkan gerbong yang terdampak agar perjalanan kereta bisa kembali normal.
Peristiwa kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur ini terjadi sekitar pukul 00.00 WIB. Sejumlah ambulans silih berganti datang ke lokasi untuk membawa korban luka ke rumah sakit terdekat.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Jakarta Mendadak Bikin Warga Panik, PLN Ungkap Penyebab dan Fokus Penormalan.
Saksi Mata Sebut Tabrakan Sangat Keras
Salah satu saksi mata bernama Henri mengungkapkan, sebelum tabrakan terjadi, KRL yang berada di jalur tersebut sempat berhenti cukup lama sekitar 15 menit.
Menurutnya, saat itu kereta yang ia tumpangi lebih dulu berhenti di Bekasi Timur. Tidak lama kemudian, KA Argo Bromo datang dari arah belakang dan diduga melaju cukup kencang.
“Kereta saya dulu berhenti di Bekasi Timur sekitar 15 menit. Lalu datang kereta Argo Bromo, akhirnya Argo Bromo menabrak gerbong paling belakang yang banyak ditempati penumpang perempuan,” ujar Henri.
Ia menyebut benturan sangat keras hingga menimbulkan asap tebal dan suara menggelegar yang membuat seluruh penumpang panik.
“Suara tabrakannya seperti bom, saking kerasnya. Semua langsung kaget, lampu di kereta langsung mati,” katanya.
Gerbong Belakang Jadi Titik Tabrakan Terparah
Henri menjelaskan, gerbong paling belakang KRL menjadi titik benturan paling parah. Bagian gerbong tersebut terlihat masuk ke dalam akibat dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo.
Penumpang yang berada di dalam gerbong langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, penumpang dari kereta Argo Bromo juga ikut turun dan berkumpul di area peron.
Dari pengamatannya, posisi dirinya hanya berjarak sekitar tiga meter dari lokasi benturan sehingga ia bisa melihat langsung proses awal evakuasi.
“Saya langsung ke lokasi, jaraknya paling sekitar tiga meter. Saat itu semua orang langsung berteriak dan mencari tahu apa yang terjadi,” jelasnya.
Puluhan Ambulans Datang ke Lokasi
Tak lama setelah tabrakan terjadi, petugas langsung menghubungi rumah sakit dan mengarahkan ambulans menuju lokasi kejadian. Henri mengaku melihat sekitar 35 ambulans datang secara bertahap.
Bahkan, hingga proses evakuasi berlangsung, jumlah korban yang berhasil dikeluarkan dari gerbong yang ditabrak diperkirakan sudah mencapai sekitar 60 orang.
“Dari tadi sudah ada sekitar 60 orang keluar dari gerbong yang ditabrak. Ambulans juga banyak sekali, mungkin lebih dari 35 unit,” ungkapnya.
Namun, hingga kini jumlah pasti korban luka maupun kemungkinan korban meninggal masih belum dapat dipastikan karena proses evakuasi masih berlangsung.
Petugas juga masih berupaya memastikan tidak ada penumpang yang masih terjebak di dalam gerbong.
Perjalanan Kereta Masih Terganggu
Akibat kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur ini, operasional perjalanan kereta sempat terganggu. Petugas masih fokus pada penanganan korban dan pemindahan rangkaian kereta agar jalur bisa kembali digunakan.
Suasana di stasiun masih dipenuhi petugas, ambulans, dan aparat keamanan yang berjaga. Sejumlah penumpang juga terlihat masih menunggu informasi lanjutan terkait perjalanan mereka.
Pihak berwenang diharapkan segera memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti tabrakan antara KA Argo Bromo dan KRL tersebut.
Sementara itu, warga berharap seluruh korban bisa segera tertangani dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tragis yang mengguncang Stasiun Bekasi Timur ini. (*)
Editor : Isna Dzikirianti