Pakar kesehatan masyarakat dari University of Florida College of Public Health, Dr. John Lednizky, mengatakan hingga kini belum diketahui secara pasti jenis hantavirus yang menyerang para penumpang kapal pesiar tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa identifikasi jenis virus menjadi kunci utama untuk memahami sumber penularan dan tingkat bahayanya.
Menurut Lednizky, wabah hantavirus bisa saja berasal dari paparan tikus di kapal, tetapi tidak menutup kemungkinan penularan terjadi saat penumpang singgah di pelabuhan tertentu di Amerika Selatan. Hal itu karena beberapa jenis hantavirus diketahui endemik di wilayah Chile dan Argentina.
“Hantavirus biasanya dibawa oleh tikus. Virus dapat menyebar melalui kotoran, urine, atau partikel udara yang terkontaminasi,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox 35 News Plus.
Hantavirus Bisa Menyebar Lewat Udara
Lednizky menjelaskan, penularan hantavirus paling umum terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang tercemar kotoran tikus. Risiko meningkat ketika area kotor dibersihkan tanpa perlindungan sehingga partikel virus beterbangan di udara.
Selain itu, tangan yang terkontaminasi juga dapat menjadi jalur penularan apabila menyentuh mata, hidung, atau mulut. Meski demikian, sebagian besar kasus terjadi melalui inhalasi atau pernapasan.
Yang membuat kasus kapal pesiar ini semakin mengkhawatirkan adalah dugaan keterlibatan Andes virus, salah satu jenis hantavirus dari Amerika Selatan yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.
“Jika ini Andes virus, maka penularannya berbeda karena bisa terjadi antar manusia dan menyebabkan infeksi paru-paru yang sangat berat,” jelasnya.
Tingkat Kematian Hantavirus Bisa Capai 40 Persen
Wabah hantavirus menjadi perhatian karena beberapa variannya memiliki tingkat fatalitas hingga 40 persen. Penyakit ini umumnya menyerang sistem pernapasan dan dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Pada kondisi berat, virus menyebabkan kebocoran pembuluh darah kecil di paru-paru sehingga pasien mengalami gangguan pernapasan serius. Dalam beberapa kasus, jantung juga ikut terdampak sehingga kondisi pasien semakin kritis.
Meski demikian, Lednizky mengingatkan bahwa tidak semua hantavirus memiliki tingkat keganasan yang sama. Beberapa jenis bahkan hanya menimbulkan gejala ringan dan belum sepenuhnya dipahami para peneliti.
“Banyak orang mungkin pernah terpapar hantavirus tanpa sadar karena gejalanya mirip flu atau infeksi pernapasan biasa,” katanya.
Lingkungan Kapal Pesiar Dinilai Berisiko
Kapal pesiar disebut menjadi lingkungan yang rawan penyebaran penyakit menular karena sistem ventilasi udara yang tertutup dan padat penumpang. Kondisi tersebut sebelumnya juga terbukti mempercepat penyebaran virus seperti norovirus maupun COVID-19.
Lednizky menilai karantina tetap penting dilakukan, tetapi belum tentu cukup efektif jika virus sudah menyebar sebelum gejala muncul. Sebab, hantavirus dapat berada di dalam tubuh selama lebih dari 10 hari sebelum penderita menunjukkan tanda sakit.
Ia menyarankan seluruh penumpang dan kru kapal segera menjalani pemeriksaan laboratorium menggunakan metode RT-PCR untuk memastikan apakah mereka membawa virus tersebut.
“Langkah kesehatan masyarakat harus dilakukan secepat mungkin untuk memutus rantai penularan,” tegasnya.
Belum Ada Obat Khusus Hantavirus
Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk menangani hantavirus. Penanganan medis masih berfokus pada terapi suportif seperti pemberian oksigen, cairan, dan pemantauan kondisi jantung serta paru-paru pasien.
Pasien dengan kondisi berat biasanya harus dirawat intensif di rumah sakit agar fungsi pernapasan tetap stabil. Meski begitu, peluang sembuh cukup besar apabila penanganan dilakukan lebih awal.
Lednizky menyebut penelitian terkait hantavirus masih sangat terbatas karena minimnya pendanaan riset. Padahal, menurutnya, virus tersebut kemungkinan jauh lebih banyak beredar dibanding yang selama ini terdeteksi.
Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
Kasus wabah hantavirus di kapal pesiar kini memicu kekhawatiran baru di dunia kesehatan global. Para ahli menilai investigasi harus segera dilakukan untuk memastikan sumber penularan dan mencegah penyebaran lebih luas.
Selain itu, kapal pesiar juga perlu diperiksa menyeluruh untuk memastikan tidak ada tikus pembawa virus di dalam sistem ventilasi maupun area penyimpanan kapal.
“Hal terpenting sekarang adalah mengetahui jenis virusnya, bagaimana penularannya, dan memastikan kapal benar-benar bersih agar tidak muncul ancaman lebih besar di masa depan,” pungkas Lednizky. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana