Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sri Mulyani Bocorkan Subsidi Mobil Listrik 2026, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen dan Siap Menuju 6 Persen

Adinda Putri Sefiana • Rabu, 6 Mei 2026 | 10:39 WIB
Sri Mulyani optimistis ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 di tengah tekanan global.
Sri Mulyani optimistis ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 di tengah tekanan global. (KOMPAS)

JAKARTA – Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia terus melaju di tengah tekanan global yang belum mereda. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai 5,61 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut disebut menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi nasional berhasil keluar dari “kutukan” pertumbuhan 5 persen yang selama ini menjadi tantangan besar pemerintah. Dalam paparannya terkait realisasi APBN hingga Maret 2026, Sri Mulyani juga membocorkan rencana subsidi mobil listrik dan motor listrik untuk mendorong konsumsi masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi kita sudah 5,61 persen. Ini menunjukkan reformasi ekonomi yang dilakukan mulai memberikan dampak nyata,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN.

Ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur ekspansi meski situasi global dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, kenaikan harga minyak, hingga perlambatan ekonomi dunia.

Subsidi Mobil Listrik Mulai Juni 2026

Salah satu kebijakan yang paling menyita perhatian adalah rencana pemberian subsidi mobil listrik 2026. Pemerintah menyiapkan insentif untuk 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit motor listrik tahap pertama.

Skema subsidi tersebut direncanakan mulai berjalan pada Juni 2026 untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga dan kuartal keempat.

Sri Mulyani mengatakan kebijakan ini bukan hanya untuk meningkatkan konsumsi domestik, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau habis, nanti kita tambah lagi kuotanya,” katanya.

Pemerintah juga menyiapkan skema berbeda untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel dan nonnikel. Kendaraan listrik berbasis nikel akan memperoleh dukungan lebih besar agar hilirisasi industri nikel nasional semakin kuat.

Pemerintah Pastikan Daya Beli Tetap Terjaga

Selain subsidi kendaraan listrik, pemerintah mengklaim terus menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai stimulus ekonomi. Selama Ramadan dan Idulfitri 2026, pemerintah menggelontorkan anggaran untuk diskon transportasi, bantuan pangan, hingga tunjangan hari raya (THR).

THR yang disalurkan mencapai Rp51,6 triliun, sedangkan bantuan pangan mencapai Rp13,37 triliun. Sri Mulyani menyebut inflasi Indonesia tetap terkendali di angka 2,4 persen pada April 2026.

Menurutnya, angka tersebut membuktikan Indonesia jauh dari ancaman hiperinflasi seperti yang ramai dibahas di media sosial.

“Ekonomi kita tidak kepanasan. Hiperinflasi masih jauh,” tegasnya.

Sektor Manufaktur dan Konsumsi Rumah Tangga Menguat

Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen ditopang oleh sejumlah sektor utama. Industri manufaktur tumbuh 5,04 persen, perdagangan meningkat, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh hingga 5,52 persen.

Pemerintah juga mulai mendorong sektor swasta agar lebih agresif bergerak. Industri tekstil, sepatu, dan manufaktur berorientasi ekspor akan mendapat akses pembiayaan murah untuk peremajaan mesin produksi.

“Kita ingin semua mesin ekonomi berjalan. Bukan hanya pemerintah, tetapi sektor swasta juga hidup,” kata Sri Mulyani.

Ia menilai konsumsi masyarakat masih sangat kuat dan menjadi bukti daya beli belum melemah seperti banyak diprediksi sejumlah pengamat.

APBN Masih Aman Meski Harga Minyak Tinggi

Di sisi fiskal, Sri Mulyani memastikan kondisi APBN tetap aman. Pemerintah bahkan sudah menghitung asumsi harga minyak mentah hingga 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun.

Pendapatan negara hingga Maret 2026 tumbuh 10 persen, sedangkan penerimaan pajak melonjak 20,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Belanja negara juga meningkat 31 persen untuk mempercepat efek stimulus ke ekonomi nasional. Pemerintah sengaja mempercepat belanja sejak awal tahun agar dampaknya lebih merata.

“Kita tidak takut melakukan investasi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Pemerintah Optimistis Ekonomi Menuju 6 Persen

Sri Mulyani optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh mendekati 6 persen secara bertahap. Pemerintah mengklaim kondisi fundamental ekonomi nasional masih kuat dibanding banyak negara lain.

Surplus neraca perdagangan tetap terjaga, aliran modal asing mulai masuk kembali, dan sistem keuangan dinilai stabil.

Menurutnya, berbagai prediksi negatif terkait ekonomi Indonesia yang disebut akan mengalami krisis seperti tahun 1998 tidak sesuai data.

“Kalau ada yang bilang ekonomi Indonesia mau hancur, lihat dulu datanya,” ujarnya.

Pemerintah kini fokus menjaga permintaan domestik, memperkuat industri nasional, serta memastikan investasi terus masuk agar momentum pertumbuhan ekonomi tidak terhenti. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Subsidi mobil listrik 2026 #Inflasi Indonesia #sri mulyani #APBN 2026 #pertumbuhan ekonomi indonesia