JAKARTA - Ancaman kesehatan baru kini tengah membayangi masyarakat Indonesia setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan temuan kasus suspek Hantavirus di sejumlah wilayah. Hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat sebanyak 251 kasus suspek penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat ini telah teridentifikasi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah kini dalam posisi siaga penuh untuk mencegah penyebaran virus yang dikenal cukup berbahaya tersebut.
Kewaspadaan ini meningkat seiring dengan adanya tambahan dua kasus suspek terbaru yang masing-masing ditemukan di Jakarta Utara dan Kulon Progo, Yogyakarta. Hantavirus bukanlah ancaman sembarangan; data global menunjukkan angka kematian akibat infeksi ini berkisar antara 5 hingga 15 persen. Bahkan, pada kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), angka kematian bisa melonjak drastis hingga menyentuh 38 persen jika tidak segera ditangani secara medis.
Menanggapi situasi ini, Menkes Budi menyatakan telah berkoordinasi secara intensif dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Langkah konkret yang diambil adalah memperkuat sistem surveilans dan menyiapkan fasilitas deteksi dini. Beruntung, infrastruktur mesin PCR yang melimpah pasca-pandemi Covid-19 dapat dimanfaatkan kembali. "Kita sudah koordinasi dengan WHO untuk melakukan screening. Reagen khusus untuk mesin PCR sedang disiapkan agar deteksi virus ini bisa lebih mudah dan cepat," ujar Menkes.
Mengenal Bahaya Hantavirus dan Gejalanya
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Di Indonesia, pembawa utama virus ini adalah tikus rumah, tikus sawah, hingga mencit. Penularan terjadi saat manusia menghirup partikel debu yang terkontaminasi, atau terkena kontak langsung dengan air liur, urin, dan kotoran tikus yang terinfeksi.
Masyarakat diminta mengenali gejala awal infeksi yang seringkali menyerupai flu, seperti demam tinggi, sakit kepala, mata merah, serta nyeri punggung dan perut. Dalam kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak napas parah akibat paru-paru terisi cairan, hingga potensi gagal ginjal dan pendarahan dalam. Kecepatan diagnosa menjadi kunci utama mengingat hingga saat ini belum ditemukan vaksin atau obat spesifik untuk menangani Hantavirus.
Fokus pada Pencegahan dan Kebersihan Lingkungan
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1976 di Korea Selatan dan sudah lama terpantau di pelabuhan-pelabuhan besar melalui tikus yang terbawa kapal laut. Meski potensinya menjadi pandemi global dianggap kecil karena penularan antarmanusia yang sangat terbatas, Dicky mengingatkan agar masyarakat tidak lengah terhadap kebersihan rumah dan gudang.
"Tikus-tikus liar inilah yang membawa virus. Strategi paling efektif adalah menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Jika membersihkan gudang yang banyak kotoran tikusnya, gunakan metode basah dengan disinfektan agar debu tidak terbang dan terhirup. Jangan lupa memakai masker dan sarung tangan," saran Dicky. Ia juga menekankan pentingnya mencuci produk kaleng atau buah-buahan yang disimpan di tempat yang berpotensi dijamah tikus sebelum dikonsumsi.
Tragedi Kapal Pesiar MV Hondius
Kekhawatiran global terhadap Hantavirus sempat memuncak setelah video viral mengenai situasi di kapal pesiar MV Hondius yang membawa 150 penumpang. Kapal tersebut sempat diisolasi di perairan Tanjung Verde setelah ditemukan wabah Hantavirus yang menewaskan tiga penumpang asal Belanda dan Jerman. Kejadian ini menjadi pengingat nyata bahwa mobilitas internasional melalui jalur laut memiliki risiko tinggi dalam penyebaran virus zoonosis jika protokol kebersihan di area kargo dan penyimpanan makanan tidak terjaga dengan ketat.
Kemenkes kini terus memantau titik-titik rawan seperti pelabuhan dan kawasan urban padat penduduk. Fokus utama saat ini adalah memastikan reagen PCR tersedia di puskesmas dan rumah sakit rujukan di daerah temuan kasus. Masyarakat diimbau untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala setelah melakukan aktivitas di lingkungan yang tidak bersih atau memiliki populasi tikus yang tinggi. Dengan deteksi dini dan menjaga sanitasi, diharapkan rantai penyebaran Hantavirus di Indonesia dapat segera diputus.
Editor : Vicky Permana Saputra