Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Laporan 3.000 Halaman Kelar! Tim Reformasi Polri Sodorkan 6 Butir Masalah ke Presiden Prabowo, Ada Skandal Jalur Berbayar Masuk Polisi?

Vicky Permana Saputra • Sabtu, 9 Mei 2026 | 13:20 WIB
Tim Reformasi Polri serahkan laporan 3.000 halaman ke Presiden Prabowo. Bongkar isu kuota khusus berbayar dan usul struktur Mabes dirampingkan!(Pinterest)
Tim Reformasi Polri serahkan laporan 3.000 halaman ke Presiden Prabowo. Bongkar isu kuota khusus berbayar dan usul struktur Mabes dirampingkan!(Pinterest)

JAKARTA – Gelombang perubahan besar di tubuh Korps Bhayangkara mulai menunjukkan titik terang. Tim Percepatan Reformasi Polri secara resmi telah menyerahkan laporan komprehensif hasil kerja selama tiga bulan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dokumen setebal 3.000 halaman tersebut merangkum seluruh aspirasi publik, mulai dari pujian hingga cercaan pedas, demi mengembalikan institusi kepolisian ke rel reformasi yang sesungguhnya.

Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, yang turut mengawal tim ini, mengungkapkan bahwa diskusi dengan Presiden Prabowo berlangsung sangat hangat dan lancar. Prabowo bahkan sempat berseloroh mengenai latar belakang militernya yang "sekelas profesor" saat menerima dokumen yang terdiri dari 10 jilid laporan tersebut. "Kami menyampaikan hasil kerja selama 3 bulan yang tertuang dalam 3.000 halaman. Apapun yang terpikir oleh masyarakat tentang Polri, sudah kami tulis semua di sana," tegas Mahfud dalam konferensi pers baru-baru ini.

Menepis Isu Kuota Khusus Berbayar

Salah satu sorotan paling tajam dalam laporan tersebut berkaitan dengan proses rekrutmen anggota Polri. Sekretaris Komisi Percepatan Reformasi Polri, Jenderal Ahmad Dofiri, mengklarifikasi adanya distorsi informasi yang beredar di masyarakat mengenai istilah "kuota khusus berbayar". Dofiri menegaskan bahwa istilah tersebut tidak pernah ada dalam sistem rekrutmen resmi, namun ia mengakui adanya praktik transaksional yang dikeluhkan masyarakat.

Baca Juga: HP Ojol 2026 Prioritas Baterai Badak: Realme C100i 7100mAh, Moto G06 Power 7000mAh, Redmi 15C Update 6 Tahun

"Aspirasi masyarakat menyebut rekrutmen masuk polisi masih ada yang membayar. Ada istilah 'menembak di atas kuda', di mana oknum mengatasnamakan kedekatan dengan pejabat tertentu untuk memeras calon anggota," ujar Dofiri. Sebagai langkah konkret, tim merekomendasikan penghapusan total jalur-jalur yang tidak transparan. Ke depan, pengumuman tes Polri diusulkan menggunakan sistem one day service dan seluruh hasilnya wajib diunggah di website resmi agar tidak bisa dimanipulasi.

Struktur Mabes Polri Diusulkan Ramping

Selain masalah budaya (kultural), tim juga menyoroti aspek kelembagaan yang dinilai timpang. Ada usulan menarik dari para purnawirawan Polri agar struktur organisasi kembali pada semangat awal reformasi: Mabes Polri yang ramping, Polda yang cukup, namun Polres yang besar dan Polsek yang kuat.

Kondisi saat ini dinilai terbalik, di mana markas besar terlalu gemuk sementara pelayanan di tingkat akar rumput (Polsek) masih lemah. "Rekomendasinya adalah memperkuat Polsek di bidang pelayanan masyarakat. Kedudukan Polri sendiri disepakati tetap berada langsung di bawah Presiden untuk menjaga stabilitas, namun dengan pengawasan yang jauh lebih ketat," tambah Dofiri.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Mantan Flagship Terbaik 2026 Mulai Rp5,2 Juta: Vivo X200 Pro Antutu 3 Juta, Xiaomi 13T Pro 120W, S22 Ultra Zoom 10x

Menghapus Budaya Kekerasan dan "Silent Blue Code"

Tim Reformasi Polri juga membedah sembilan perilaku negatif aktual yang masih menghantui institusi ini. Di antaranya adalah budaya kekerasan, militerisme yang berlebihan, fanatisme korps yang sempit, hingga fenomena silent blue code atau kode etik tutup mulut untuk melindungi sesama rekan yang melakukan pelanggaran.

Untuk mengatasi hal ini, tim merekomendasikan penguatan paradigma "Polisi Sipil" yang humanis sejak dari lembaga pendidikan. Kurikulum kepolisian akan dirombak total untuk menekankan filosofi Tribrata dan Catur Prasetya sebagai pedoman hidup, bukan sekadar hafalan. Targetnya, pada tahun 2029, Polri diharapkan sudah bertransformasi menjadi institusi yang benar-benar bersih dan transparan.

Digitalisasi Penegakan Hukum: Pantau Kasus Lewat HP

Di bidang operasional, transformasi digital menjadi harga mati. Tim merekomendasikan agar seluruh proses penyidikan perkara bisa diakses oleh pelapor secara digital. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan praktik "gantung perkara" yang membuat masyarakat frustrasi karena tidak tahu perkembangan laporannya.

Baca Juga: Review Sony Xperia 1 VII: Kamera Ultrawide Dipuji, Tapi AI dan Charging Lambat Bikin Flagship Rp25 Juta Ini Dipertanyakan

"Penyidikan harus berbasis teknologi informasi. Masyarakat harus bisa mengakses langsung sejauh mana kasusnya berjalan. Selain itu, tahap pemeriksaan wajib ditopang CCTV dan rekaman video untuk menghindari adanya praktik penyiksaan atau kekerasan oleh oknum penyidik," pungkas Dofiri. Dengan laporan yang begitu detail, kini bola panas reformasi Polri ada di tangan Presiden Prabowo untuk segera mengeksekusi rekomendasi tersebut.

Editor : Vicky Permana Saputra
#Ahmad Dofiri #Rekrutmen Polri #mahfud md #Reformasi Polri #Presiden Prabowo