JAKARTA – Eskalasi politik di lingkaran internal Presiden Prabowo Subianto dikabarkan tengah memanas seiring dengan masuknya sejumlah tokoh "loyalis" mantan Presiden Jokowi ke dalam struktur kekuasaan. Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan analisis tajam mengenai adanya upaya sistematis dari kelompok yang ia sebut sebagai Geng Solo untuk melemahkan posisi Prabowo Subianto dari dalam kabinet.
Said Didu menilai bahwa langkah Prabowo yang menarik tokoh-tokoh oposisi seperti Jumhur Hidayat ke dalam pemerintahan adalah sinyal keberanian untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu. Namun, di saat yang sama, kehadiran sosok-sosok "Die Hard" Jokowi seperti Hasan Nasbi, Qodari, hingga Dudung Abdurachman dianggap sebagai pintu masuk oligarki yang sengaja ditempatkan untuk mengontrol gerak-gerik sang Presiden.
Pertarungan Dua Kubu di Istana
Menurut Said Didu, kabinet saat ini bukan sekadar hasil reshuffle biasa, melainkan medan pertempuran antara kubu "anti-Jokowi tulen" dengan kelompok "Jokowi 24 karat". Penunjukan Jumhur Hidayat, tokoh yang konsisten mengkritik kebijakan Omnibus Law, dipandang sebagai upaya Prabowo untuk memiliki watchdog atau anjing penjaga yang lurus.
"Prabowo ingin menyampaikan ke Jokowi, 'eh, aku sekarang ingin bersama orang-orang lurus'. Simbolnya adalah Jumhur," ujar Said Didu. Kehadiran figur oposisi ini diyakini membuat gerah sejumlah menteri lama yang terbiasa dengan pola kerja era sebelumnya. Said Didu mensinyalir adanya faksi yang mulai resah karena merasa ruang gerak mereka kini diawasi oleh "drone" politik yang siap melaporkan penyimpangan langsung kepada Prabowo.
Misteri Mayor Teddy dan Simbol PIK 2
Salah satu poin paling kontroversial dalam analisis Said Didu adalah posisi Mayor Teddy Indra Wijaya. Ia menyoroti fenomena kiriman bunga ulang tahun untuk Teddy yang didominasi oleh entitas bisnis besar, termasuk dari pengembang proyek PIK 2. Said Didu menyebut hal ini sebagai "Tangan Tuhan sedang bekerja" untuk menunjukkan kepada publik di mana sebenarnya pintu masuk kepentingan besar ke dalam lingkaran terdalam Prabowo.
"Pintu masuk kami adalah Teddy. Itu yang ingin mereka tunjukkan," tegas Said Didu. Ia juga menceritakan momen spontan saat bertemu Prabowo dan menanyakan mengapa proyek PIK 2 masih berjalan. Reaksi Prabowo yang tampak terkejut mengindikasikan adanya informasi yang tersumbat atau kebijakan yang berjalan di luar kendali langsung sang Presiden akibat pengaruh faksi tertentu.
Ancaman dari Dalam Rezim
Said Didu memperingatkan bahwa musuh utama yang membahayakan rezim Prabowo bukanlah pihak luar, melainkan faksi abu-abu di dalam kabinet. Ia menyebut kelompok Geng Solo tidak akan pernah berhenti melakukan pembusukan terhadap citra Prabowo, terutama jika Prabowo enggan berkomitmen untuk maju kembali bersama gerbong lama pada pemilu 2029 mendatang.
"Diksi-diksi memusuhi satu kelompok tertentu, seperti istilah 'kabur ke Yaman', itu gaya Hasan Nasbi. Saya berharap itu pertama dan terakhir kali Prabowo mengeluarkan kata-kata seperti itu karena bertolak belakang dengan moto persatuan yang ia bangun," ungkapnya. Strategi komunikasi yang menyerang kelompok tertentu dianggap sebagai upaya "penumpang gelap" untuk merusak basis dukungan murni Prabowo.
Serangan Terhadap Jusuf Kalla
Tak hanya di internal kabinet, Said Didu juga melihat adanya gerakan serentak untuk menghantam tokoh nasional seperti Jusuf Kalla (JK). Ia meyakini serangan terhadap JK, mulai dari isu ijazah hingga persoalan kredit bank, adalah instruksi yang terorganisir. "Sangat susah dibantah bahwa di belakang ini adalah Geng Solo. Serangan ini muncul setelah Pak JK meminta transparansi terkait ijazah Jokowi," jelasnya.
Menutup analisanya, Said Didu menekankan pentingnya Prabowo untuk tetap waspada terhadap faksi-faksi yang mencoba mengadu domba dirinya dengan pendukung setianya. Transformasi kabinet menjadi institusi yang bersih dan transparan hanya bisa terjadi jika Prabowo berani melakukan pembersihan total terhadap elemen-elemen yang lebih mementingkan kepentingan oligarki daripada kepentingan bangsa.
Editor : Vicky Permana Saputra