JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan tajam setelah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah yang terjadi dalam waktu singkat dinilai menjadi sinyal serius terhadap tekanan pasar keuangan Indonesia, baik akibat faktor global maupun sentimen domestik yang belum stabil.
Dalam perdagangan terbaru, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.505 per dolar AS. Kondisi ini memperlihatkan tekanan besar terhadap mata uang Garuda yang terus mengalami depresiasi dalam beberapa pekan terakhir.
Seorang analis ekonomi menilai pelemahan rupiah kali ini cukup mengagetkan karena hanya dalam sepekan rupiah sudah menembus dua level psikologis sekaligus, dari Rp17.400 menjadi Rp17.500 per dolar AS. Hal itu menunjukkan permintaan dolar AS di pasar masih sangat tinggi.
“Tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Demand dolar meningkat sehingga depresiasi rupiah belum mereda,” ujarnya.
Pelemahan rupiah disebut dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan indeks dolar Amerika Serikat atau DXY menjadi salah satu penyebab utama.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah, khususnya meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, membuat investor global kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS.
Akibatnya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan besar. Investor asing cenderung menarik dana dari pasar emerging market dan memindahkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, ketidakpastian global juga memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dunia. Situasi tersebut membuat arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia semakin masif.
Tak hanya faktor eksternal, kondisi dalam negeri juga dianggap belum mampu menopang penguatan rupiah. Pelaku pasar masih menaruh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia, terutama kemampuan pemerintah menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen.
Kekhawatiran itu memicu persepsi negatif di pasar sehingga aset-aset Indonesia, termasuk rupiah dan pasar saham, mengalami tekanan jual.
Meski secara fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai di atas 5,5 persen, pasar keuangan justru bergerak sebaliknya.
“Secara fundamental ekonomi sebenarnya cukup baik. Inflasi juga masih terjaga. Tetapi pasar saat ini lebih digerakkan oleh sentimen dan persepsi,” jelasnya.
Ia menambahkan, persepsi negatif terhadap Indonesia juga dipicu oleh perubahan outlook lembaga pemeringkat global yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal tersebut memperbesar aksi jual investor asing terhadap aset domestik.
Tekanan tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga disebut menjadi salah satu yang terburuk dibandingkan indeks global maupun negara tetangga.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tantangan besar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pemerintah dinilai perlu segera memperbaiki sentimen pasar agar outlook ekonomi Indonesia kembali positif. Jika persepsi negatif terus berlanjut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Di tengah tekanan besar terhadap rupiah, Bank Indonesia disebut sudah melakukan intervensi cukup agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Hal itu terlihat dari penurunan cadangan devisa yang mencapai lebih dari 6 miliar dolar AS sejak awal tahun. Penurunan tersebut menjadi indikasi BI aktif melepas dolar untuk menjaga volatilitas rupiah tetap terkendali.
Meski demikian, cadangan devisa Indonesia saat ini masih dianggap cukup aman karena mampu membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri selama sekitar 5,8 bulan.
“Secara amunisi masih cukup kuat untuk intervensi. Tetapi tren penurunan cadangan devisa juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Yang paling mengkhawatirkan, posisi rupiah saat ini sudah berada di level terendah sepanjang sejarah atau all time low. Kondisi itu membuat rupiah tidak lagi memiliki batas resistance kuat untuk menahan pelemahan berikutnya.
Analis menilai level psikologis berikutnya yang berpotensi ditembus adalah Rp18.000 per dolar AS, terutama jika konflik geopolitik global semakin memanas.
Skenario terburuk bisa terjadi apabila ketegangan Timur Tengah meningkat dan operasi militer Amerika Serikat benar-benar berlangsung. Situasi tersebut diperkirakan akan mendorong permintaan dolar AS semakin tinggi.
“Bukan tidak mungkin rupiah bisa menuju Rp18.000 jika tekanan global terus meningkat,” pungkasnya. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana