JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati level psikologis Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan eksternal berupa lonjakan harga minyak mentah dunia serta memanasnya sentimen geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) pada perdagangan pagi ini melemah 0,12 persen ke posisi Rp17.710 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat dibuka stagnan di level Rp17.688 per dolar AS, sama seperti posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Di pasar spot, pelemahan rupiah juga terus berlanjut. Mata uang domestik diperdagangkan mendekati level Rp17.700 per dolar AS atau turun 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan Senin kemarin. Kondisi ini menandakan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, terutama akibat kombinasi sentimen global dan domestik yang belum mereda.
Harga minyak dunia kini menjadi sorotan bagi warga Indonesia karena tekanan baru dari dampak melemahnya dollar yang terjadi saat ini. Salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah adalah tingginya harga minyak mentah dunia. Saat ini, minyak mentah jenis Brent tercatat berada di level USD109,41 per barel.
Harga minyak yang tinggi biasanya berdampak langsung terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Beban impor energi meningkat dan kebutuhan dolar AS ikut melonjak, sehingga menekan kurs rupiah.
Meski demikian, tekanan harga minyak dunia mulai sedikit mereda. Tercatat, harga minyak mengalami koreksi sekitar 2,4 persen setelah adanya sinyal meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sentimen tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan penundaan rencana serangan terhadap Iran.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar global karena sebelumnya konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.
Trump mengungkapkan bahwa sejumlah negara sekutu AS di kawasan Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab meminta waktu untuk mengedepankan solusi diplomatik.
Pernyataan itu memberikan sedikit angin segar bagi pasar keuangan Asia yang sebelumnya berada dalam tekanan besar. Mata uang asia mulai rebound
Di tengah tekanan terhadap rupiah, sejumlah mata uang Asia justru mulai menunjukkan penguatan. Baht Thailand tercatat menguat sekitar 0,22 persen, sementara ringgit Malaysia naik sekitar 0,1 persen.
Penguatan mata uang regional tersebut dipicu optimisme pelaku pasar terhadap potensi meredanya konflik geopolitik yang sempat memicu kepanikan global.
Namun, rupiah masih bergerak lebih lemah dibanding mata uang kawasan lainnya. Hal ini menunjukkan pasar masih mencermati berbagai faktor domestik yang dianggap dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Selain itu, indeks dolar AS juga masih bertahan cukup kuat di level 99,03. Kuatnya dolar AS menjadi tantangan tersendiri bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara ini, para investor Indonesia waspadai tekanan rupiah sampai sekarang.
Analis pasar menilai pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Jika harga minyak kembali melonjak dan konflik Timur Tengah semakin memanas, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut. Sebaliknya, apabila tensi geopolitik mereda dan aliran modal asing kembali masuk ke pasar emerging market, nilai tukar rupiah berpeluang stabil kembali.
Bank Indonesia juga diperkirakan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga volatilitas rupiah agar tidak bergerak terlalu tajam.
Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS menjadi perhatian serius pelaku pasar. Sebab, kondisi ini dapat berdampak pada kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, hingga beban utang luar negeri.
Di sisi lain, sektor ekspor berpotensi mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Pelaku usaha dan investor kini menanti perkembangan terbaru dari situasi global, khususnya terkait konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia yang menjadi faktor utama penggerak pasar keuangan saat ini. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana