JAKARTA – Pelemahan IHSG dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius regulator hingga pelaku pasar. Menyikapi kondisi tersebut, pimpinan DPR RI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Danantara, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) turun langsung melakukan peninjauan ke Bursa Efek Indonesia, Senin (19/5).
Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan pelemahan IHSG saat ini masih tergolong moderat dan lebih dipengaruhi penyesuaian fundamental pasar, termasuk dampak rebalancing MSCI yang diumumkan pada 12 Mei lalu. Menurutnya, kondisi pasar saham Indonesia masih berada dalam jalur yang sehat.
“IHSG sekarang bergerak lebih fundamental dan relatif sejalan dengan indeks acuan global seperti MSCI, LQ45, IDX30 hingga IDX80,” ujar Friderica dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia.
Dalam paparannya, Friderica menyebut tekanan di pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah bursa global juga mengalami koreksi akibat tensi geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter global yang masih cenderung hawkish.
Meski demikian, dia memastikan kondisi pasar modal Indonesia tetap stabil. Pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang, IHSG terkoreksi sekitar 1,98 persen dan kembali melemah 1,85 persen sehari setelahnya.
Di tengah pelemahan IHSG, OJK justru mencatat kabar positif dari sisi investor domestik. Friderica mengungkapkan jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat signifikan sepanjang tahun ini.
“Terdapat penambahan sekitar 6,5 hingga 7 juta investor ritel baru. Saat ini total investor pasar modal Indonesia sudah mencapai sekitar 27 juta investor,” jelasnya.
Tak hanya itu, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga mengalami kenaikan cukup besar. OJK mencatat total asset under management (AUM) industri reksa dana mencapai Rp718,44 triliun atau naik sekitar 6,39 persen.
Menurut Friderica, peningkatan jumlah investor menjadi sinyal bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia masih sangat baik meskipun terjadi fluktuasi IHSG.
“Kami melihat confidence investor tetap meningkat. Ini menunjukkan reformasi pasar modal yang dilakukan berjalan ke arah yang benar,” katanya.
DPR RI pastikan dukung penguatan pasar modal, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang hadir langsung di Bursa Efek Indonesia menyatakan pemerintah dan regulator terus berupaya menjaga kepercayaan investor, baik investor global maupun domestik.
Dasco mengatakan pihaknya telah berdiskusi dengan OJK dan pengelola bursa terkait penyempurnaan regulasi agar investor merasa lebih nyaman berinvestasi di pasar modal Indonesia.
“Kita optimistis fundamental bursa Indonesia ke depan akan semakin kuat. Investor lokal juga terus bertumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Dia menilai langkah-langkah pembenahan yang dilakukan OJK dan BEI menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas pasar modal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain itu, DPR juga mengapresiasi kerja cepat regulator dalam menghadapi dinamika pasar akibat faktor global maupun sentimen domestik. Danantara sebut saham BUMN masih menarik.
CEO Danantara Rosan Roeslani turut memberikan keyakinan bahwa investasi di pasar modal Indonesia masih sangat prospektif, terutama untuk jangka menengah dan panjang.
Menurut Rosan, sejumlah saham BUMN khususnya sektor perbankan masih memiliki valuasi yang sangat menarik dengan tingkat dividen tinggi.
“Kalau kita lihat Himbara misalnya, yield-nya bisa di atas 10 persen. Dari sisi pricing juga masih sangat menarik,” kata Rosan.
Dia menambahkan pelemahan IHSG saat ini justru dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar saham Indonesia. Apalagi, secara fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa masih menunjukkan kinerja positif.
Rosan juga menegaskan bahwa investasi saham seharusnya dilihat dalam horizon jangka panjang, bukan harian maupun mingguan.
“Kami percaya bursa Indonesia akan terus tumbuh dari sisi kapitalisasi pasar, emiten maupun jumlah investor,” tegasnya.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyampaikan mayoritas emiten yang telah melaporkan kinerja keuangan kuartal pertama 2026 menunjukkan hasil positif.
Sekitar 85 persen perusahaan tercatat di BEI sudah menyampaikan laporan keuangan. Dari data sementara, pertumbuhan laba bersih emiten tercatat naik sekitar 21,5 persen.
“Ini menunjukkan fundamental perusahaan tercatat kita relatif sangat baik,” ujarnya.
Selain itu, BEI juga mencatat pipeline penawaran saham perdana atau IPO masih cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 15 perusahaan dalam antrean pencatatan saham baru, mayoritas berasal dari kategori perusahaan besar.
Kondisi tersebut dinilai menjadi indikator bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki prospek cerah di tengah gejolak global.
OJK pun kembali mengingatkan masyarakat bahwa investasi di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang yang membutuhkan keyakinan terhadap fundamental ekonomi nasional.
“Fundamental ekonomi Indonesia dan emiten-emiten kita sangat baik. Karena itu, confidence menjadi hal paling penting saat ini,” tutup Friderica. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana