JAKARTA – Isu pelemahan rupiah, anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG), hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah kembali memanas. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, sejumlah tokoh dan pejabat menyampaikan pandangan tajam terkait kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
Sorotan utama tertuju pada nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Situasi tersebut memicu kekhawatiran publik karena dianggap berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Dalam pernyataannya, seorang narasumber menilai kondisi ekonomi saat ini membutuhkan transparansi dan kepastian dari pemerintah.
Menurutnya, publik tidak membutuhkan narasi penenang semata, melainkan arah kebijakan yang jelas di tengah ancaman perlambatan ekonomi global.
“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, dan tabungan masyarakat tergerus,” ujarnya.
Ia juga menyinggung situasi geopolitik dunia yang memanas, termasuk konflik di Timur Tengah dan ancaman cuaca ekstrem El Nino yang diperkirakan berdampak pada sektor pangan nasional.
Kritik terhadap Pemerintah dan Kebijakan Fiskal
Dalam video tersebut, kritik tajam diarahkan kepada pemerintah yang dianggap belum menunjukkan keteladanan di tengah kondisi ekonomi sulit. Pemerintah dinilai meminta rakyat berhemat, namun di sisi lain masih melakukan pemborosan anggaran pada sektor yang dianggap bukan prioritas.
Selain itu, perubahan kebijakan yang dinilai terlalu cepat juga disebut membuat pasar dan investor kebingungan. Kondisi itu disebut memicu ketidakpastian sehingga sebagian investor memilih menahan investasi bahkan keluar dari pasar Indonesia.
“Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan sebagian kabur,” lanjutnya.
Meski demikian, pemerintah melalui jajaran kementerian ekonomi memastikan kondisi fiskal Indonesia masih terkendali. Defisit anggaran disebut tetap dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah juga membantah anggapan bahwa kondisi ekonomi Indonesia akan mengarah seperti krisis 1998. Menurut penjelasan pejabat terkait, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan pertumbuhan ekonomi tetap positif.
“Kita belum resesi, ekonomi masih tumbuh. Pondasi ekonomi kita bagus,” kata salah satu pejabat pemerintah dalam sesi wawancara dengan wartawan.
Rupiah Melemah, Bank Indonesia Jadi Sasaran Kritik
Tak hanya pemerintah, Bank Indonesia (BI) juga menjadi sasaran kritik keras dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI. Sejumlah anggota dewan mempertanyakan kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan nasional.
Salah seorang anggota DPR menyoroti fakta bahwa rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang negara lain seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga euro.
Ia bahkan menyebut kredibilitas Bank Indonesia sedang dipertanyakan oleh pasar global. Kritik itu memuncak saat ia meminta pimpinan BI untuk bersikap “gentleman” dan mempertimbangkan mundur apabila dinilai gagal menjalankan tugas.
“Kalau tidak bisa melakukan tugas dengan baik, mungkin saatnya mengundurkan diri,” ujarnya dalam rapat tersebut.
Pernyataan itu langsung menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pihak menilai kritik tersebut mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional saat ini.
Pemerintah Klaim Situasi Masih Aman
Di tengah derasnya kritik, pemerintah tetap optimistis kondisi ekonomi nasional masih terkendali. Otoritas fiskal dan moneter disebut telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar, termasuk intervensi di pasar obligasi.
Pemerintah juga memastikan investor asing tidak perlu khawatir terhadap kondisi Indonesia. Bahkan masyarakat diminta tetap tenang menghadapi gejolak pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Kita akan masuk ke market lebih signifikan supaya pasar obligasi terkendali dan investor asing tidak keluar,” ujar pejabat tersebut.
Selain itu, pemerintah menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibanding faktor domestik. Konflik geopolitik, kenaikan suku bunga global, hingga tekanan pasar keuangan internasional disebut menjadi pemicu utama.
DPR Dorong Penguatan Kerja Sama Internasional
Dalam rapat yang sama, anggota DPR juga mendorong penguatan kerja sama perdagangan internasional menggunakan Local Currency Transaction (LCT). Langkah itu dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan.
Selain itu, Indonesia sebagai anggota BRICS disebut memiliki peluang memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara produsen energi dan pangan.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar sekaligus memperkuat komunikasi kepada publik agar kepanikan tidak semakin meluas.
Di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah, masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memastikan daya beli rakyat tetap aman. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana