Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ketakutan Terbesar Prabowo Terungkap? Reshuffle Kabinet Disebut Bukan Soal Kinerja, Tapi Menjaga Kekuasaan Tetap Aman

Adinda Putri Sefiana • Kamis, 21 Mei 2026 | 13:31 WIB
Pengamat politik soroti ketakutan Prabowo digoyang elit dan rakyat lewat strategi reshuffle kabinet serta MBG. (YT: Pandji Pragiwaksono)
Pengamat politik soroti ketakutan Prabowo digoyang elit dan rakyat lewat strategi reshuffle kabinet serta MBG. (YT: Pandji Pragiwaksono)

JAKARTA – Isu reshuffle kabinet kembali menjadi sorotan publik. Namun, di tengah banyaknya kritik terhadap sejumlah menteri, Presiden Prabowo Subianto justru dinilai lebih fokus menjaga stabilitas politik dibanding memperbaiki performa pemerintahan. Narasi itu mencuat dari pembahasan politik yang ramai diperbincangkan di media sosial dan YouTube.

Dalam pembahasan tersebut, ketakutan terbesar Prabowo disebut bukan sekadar kritik publik, melainkan ancaman “digoyang” dari elit politik maupun rakyat bawah. Karena itu, reshuffle kabinet dinilai dilakukan bukan untuk membersihkan menteri bermasalah, tetapi demi menjaga loyalitas politik dan mempertahankan dukungan massa.

Isu reshuffle kabinet Prabowo sebelumnya memang sempat memanas. Sejumlah kementerian seperti Komdigi, Kementerian HAM, hingga sektor pariwisata beberapa kali menjadi sasaran kritik publik karena dianggap memiliki kinerja yang kurang memuaskan. Namun hingga kini, sebagian besar pejabat yang ramai disorot tetap bertahan di kursinya.

Menurut analisis yang berkembang, langkah Prabowo justru lebih diarahkan untuk merangkul kelompok strategis, termasuk buruh dan masyarakat kelas bawah. Salah satu contohnya adalah penempatan figur yang dianggap dekat dengan kelompok pekerja ke sektor program makan bergizi gratis atau MBG.

Reshuffle Dinilai Demi Stabilitas Politik

Dalam pandangan pengamat politik yang dibahas dalam video tersebut, reshuffle kabinet kali ini memiliki pola berbeda dibanding pemerintahan sebelumnya. Biasanya, pergantian menteri dilakukan karena evaluasi kinerja. Namun kini, reshuffle dianggap lebih bernuansa politik.

“Reshuffle bukan untuk memperbaiki kinerja pemerintah, tetapi menstabilkan posisi pemerintahan,” demikian narasi yang disampaikan dalam pembahasan tersebut.

Analisis itu muncul karena sejumlah menteri yang kerap menuai kontroversi tetap aman dari pergantian. Sebaliknya, posisi baru justru diberikan kepada tokoh yang dinilai bisa memperluas dukungan politik pemerintah, terutama dari kalangan buruh dan masyarakat menengah bawah.

Strategi tersebut dianggap penting karena Prabowo diyakini memahami bahwa ancaman terbesar bagi pemerintah bukan hanya oposisi formal, melainkan konflik internal elit politik.

Elit Politik Disebut Bisa Menggoyang Pemerintahan

Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa struktur politik Indonesia masih sangat bergantung pada elit partai. Anggota DPR, kader partai, hingga pejabat kementerian dinilai tidak memiliki kekuatan penuh tanpa restu pimpinan partai.

Karena itu, menjaga hubungan dengan elit politik dianggap menjadi prioritas utama. Jabatan kabinet disebut sebagai alat kompromi agar tidak muncul kelompok “sakit hati” yang bisa berbalik menyerang pemerintah.

Narasi ini bahkan dianalogikan dengan tokoh Ephialtes dalam film 300, yakni sosok yang membocorkan kelemahan pasukannya karena kecewa dan merasa tersingkir.

Dalam dunia politik, kelompok kecewa seperti itu dianggap berbahaya karena bisa memicu ketidakstabilan pemerintahan dari dalam. Itulah sebabnya, Prabowo disebut lebih memilih mengakomodasi banyak kepentingan dibanding mengambil risiko konflik politik internal.

Program MBG dan Upaya Merebut Hati Rakyat

Selain ancaman dari elit, Prabowo juga disebut sangat memperhatikan potensi gejolak dari masyarakat bawah. Karena itu, program makan bergizi gratis atau MBG dipandang bukan sekadar program sosial, tetapi juga strategi politik untuk menjaga dukungan rakyat.

Program tersebut menyasar kelompok masyarakat bawah yang jumlahnya sangat besar di Indonesia. Dengan memberikan manfaat langsung berupa bantuan pangan dan gizi, pemerintah dianggap ingin menciptakan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat.

Pembahasan itu juga menyinggung bagaimana kebijakan terhadap buruh dan pengemudi ojek online sering dikemas sebagai keberpihakan kepada rakyat kecil. Meski demikian, sebagian kritik menyebut kebijakan tersebut belum menyentuh akar persoalan ekonomi.

Namun secara politik, pendekatan itu dinilai efektif membangun citra bahwa pemerintah hadir untuk rakyat kecil.

Prabowo Disebut Belajar dari Sejarah Politik

Analisis yang berkembang juga menyebut Prabowo sebagai sosok yang sangat memahami sejarah politik dan militer. Karena itu, ia dianggap sadar bahwa pemerintahan bisa jatuh ketika tekanan dari elit dan rakyat bertemu dalam waktu bersamaan.

Dalam sejarah banyak negara, gejolak sosial biasanya membesar ketika masyarakat mulai resah lalu dimanfaatkan oleh kelompok elit yang memiliki kepentingan politik tertentu.

Karena itu, menjaga stabilitas sosial dianggap menjadi fokus utama pemerintahan Prabowo saat ini. Program bantuan sosial, MBG, hingga pendekatan populis disebut sebagai bagian dari strategi meredam potensi gejolak.

Narasi tersebut kini ramai diperbincangkan publik dan memunculkan perdebatan baru: apakah reshuffle kabinet memang demi memperbaiki pemerintahan, atau justru sekadar menjaga kekuasaan tetap aman?. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Mbg #Pemerintahan Prabowo #Prabowo Subianto #reshuffle kabinet #politik indonesia