JAKARTA – Dugaan manipulasi harga ekspor kembali mencuat. Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkap adanya indikasi permainan harga ekspor yang dilakukan sejumlah perusahaan besar di Indonesia, khususnya di sektor crude palm oil (CPO) dan batu bara.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat berdialog dengan awak media dalam sebuah forum ekonomi. Ia menyebut telah melakukan pengecekan terhadap 10 perusahaan besar dan menemukan pola yang dinilai cukup signifikan terkait dugaan manipulasi harga ekspor.
Menurutnya, praktik tersebut membuat nilai ekspor Indonesia terlihat lebih rendah dibanding harga sebenarnya di negara tujuan ekspor, terutama Amerika Serikat.
“Kalau ditanya saya akan jawab, tapi kalau enggak ditanya saya diam saja,” ujar Purbaya sambil menunjukkan sejumlah data yang disebutnya cukup sensitif.
Dugaan Manipulasi Harga Ekspor CPO
Purbaya menjelaskan, dari hasil pemeriksaan acak terhadap perusahaan-perusahaan besar itu, ditemukan selisih harga yang sangat mencolok antara nilai ekspor dari Indonesia dan harga impor yang tercatat di Amerika Serikat.
Ia memberi contoh salah satu perusahaan yang mengirim barang dengan nilai ekspor sekitar Rp2.600, namun ketika masuk ke Amerika Serikat tercatat bernilai Rp4.200. Selisihnya mencapai sekitar 57 persen.
Bahkan, ada pula perusahaan lain yang disebut mencatat perbedaan lebih ekstrem. Nilai ekspor dari Indonesia tercatat sekitar Rp1.444, tetapi harga impornya di Amerika mencapai lebih dari Rp4.400.
“Perubahan harganya sampai 200 persen,” katanya.
Purbaya menegaskan, dugaan manipulasi harga ekspor tersebut dapat dideteksi secara detail hingga level pengiriman kapal per kapal. Karena itu, ia menilai praktik semacam ini berpotensi merugikan Indonesia dalam jumlah besar.
Menurut dia, ketika harga ekspor dicatat lebih rendah, maka pendapatan perusahaan di Indonesia terlihat lebih kecil. Akibatnya, nilai ekspor nasional juga ikut turun dan berdampak terhadap penerimaan negara.
“Income kita lebih rendah, nilai ekspor juga lebih rendah. Jadi kita rugi banyak,” ujarnya.
Tidak Hanya CPO, Batu Bara Juga Disorot
Dalam keterangannya, Purbaya menyebut dugaan manipulasi harga tidak hanya terjadi di sektor CPO. Ia mengindikasikan praktik serupa juga berpotensi terjadi pada komoditas batu bara.
Namun demikian, ia belum bersedia mengungkap nama perusahaan yang diduga terlibat. Ia berdalih data tersebut masih dalam tahap kajian dan perlu disampaikan secara hati-hati.
“Saya cek 10 besar dulu supaya datanya kuat. Kalau semuanya dicek kan rumit,” katanya.
Pernyataan ini langsung menarik perhatian pelaku pasar dan ekonom karena menyangkut integritas data ekspor Indonesia. Jika terbukti benar, manipulasi harga ekspor dapat berdampak pada penerimaan pajak, devisa negara, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Bahas Stabilitas Rupiah dan Pembelian Obligasi
Selain menyinggung dugaan manipulasi harga ekspor, Purbaya juga menjelaskan langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, termasuk pembelian obligasi pemerintah.
Ia mengatakan pemerintah telah membeli surat utang negara senilai lebih dari Rp1,2 triliun dalam beberapa hari terakhir. Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus memberi ruang bernapas bagi nilai tukar rupiah.
Menurut Purbaya, pemerintah tidak memiliki target khusus terkait nilai tukar rupiah karena hal tersebut menjadi kewenangan bank sentral.
“Tidak ada target nilai tukar. Yang jelas kita bantu supaya ada ruang bernapas untuk rupiah,” katanya.
Ia juga menyebut investor asing masih menilai surat utang Indonesia cukup menarik. Hal itu terlihat dari minimnya aksi jual obligasi di tengah kondisi pasar global yang masih fluktuatif.
“Kalau harga obligasi stabil dan yield stabil, asing akan masuk. Mereka juga melihat peluang keuntungan dari penguatan rupiah,” jelasnya.
Klaim Fiskal Indonesia Masih Kredibel
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya turut menepis anggapan bahwa kondisi fiskal Indonesia sedang bermasalah atau terlalu agresif.
Ia mengaku sempat berdiskusi dengan sejumlah investor asing mengenai pengelolaan fiskal Indonesia. Menurutnya, banyak pihak luar justru terkejut dengan strategi fiskal pemerintah yang dinilai cukup disiplin.
Purbaya mengatakan kebijakan fiskal dan moneter Indonesia saat ini masih berjalan seimbang sehingga tidak perlu dikhawatirkan berlebihan oleh investor.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya menjaga kepercayaan pasar di tengah isu manipulasi harga ekspor dan tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana