JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pelaku pasar pada perdagangan Jumat pagi. IHSG dibuka melemah di level 6.065 di tengah aksi profit taking investor dan tekanan sentimen global maupun domestik yang masih membayangi pasar modal Indonesia.
Berdasarkan pantauan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pelemahan IHSG terjadi sejak pembukaan pukul 09.00 WIB. Meski sempat menunjukkan kenaikan tipis dibanding koreksi awal perdagangan, analis menilai IHSG masih berpotensi ditutup di zona merah hingga akhir sesi.
Jurnalis Metro TV, Ardan Anugerah, melaporkan bahwa tekanan terhadap IHSG dipicu kombinasi sentimen ekonomi global, data ekonomi domestik, hingga kekhawatiran investor terhadap kebijakan terbaru pemerintah terkait ekspor komoditas.
Analis pasar saham Navanaji Gusta mengatakan kondisi IHSG saat ini masih bergerak melemah secara terbatas. Menurutnya, hari terakhir perdagangan dalam sepekan biasanya dimanfaatkan investor untuk melakukan aksi ambil untung atau profit taking.
“Di hari Jumat biasanya investor cenderung melakukan profit taking sehingga indeks masih berpotensi ditutup melemah,” ujarnya.
IHSG Masih di Zona Merah
Hingga perdagangan pagi berlangsung, IHSG tercatat berada di level 6.065 atau turun sekitar 30 basis poin setara 0,51 persen. Nilai transaksi di BEI mencapai Rp5,4 triliun dengan volume perdagangan sekitar 10 miliar lembar saham.
Data perdagangan juga menunjukkan jumlah saham yang melemah jauh lebih dominan dibanding saham yang menguat. Sebanyak 396 emiten berada di zona merah, sementara hanya 226 saham menguat dan 118 saham stagnan.
Meski demikian, Navanaji menyebut kondisi IHSG saat ini sudah memasuki fase extremely oversold. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu aksi beli selektif dari investor yang mulai memburu saham-saham berharga murah. “Investor mulai melakukan pembelian selektif karena secara teknikal IHSG sudah berada di area oversold,” jelasnya.
Sentimen Global dan Domestik Jadi Penekan Pasar
Pergerakan IHSG saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi ekonomi global. Salah satu sentimen yang diperhatikan pasar adalah perkembangan konflik geopolitik dan upaya damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Meski sejumlah indeks di Wall Street sebelumnya ditutup menguat, pasar saham Indonesia belum mampu mengikuti tren positif tersebut. Investor masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi pemerintah serta dampaknya terhadap sektor usaha di dalam negeri.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati berbagai data ekonomi pemerintah yang dirilis dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ekonomi nasional dinilai masih menjadi perhatian utama investor sebelum mengambil keputusan investasi.
Saham Komoditas Masih Tertekan
Sektor komoditas seperti pertambangan, crude palm oil (CPO), minyak, hingga logistik menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Ardan, pelaku pasar masih merespons negatif kebijakan pemerintah terkait pembentukan lembaga ekspor komoditas baru. Investor dan pelaku usaha dinilai masih menunggu detail implementasi kebijakan tersebut.
“Pelaku usaha ekspor komoditas masih melihat bagaimana detail dan kelanjutan kebijakan pemerintah sehingga respons pasar masih negatif,” katanya.
Ketidakjelasan regulasi tersebut membuat saham-saham berbasis komoditas belum mampu bangkit secara signifikan. Meski sempat muncul harapan technical rebound, tekanan jual masih mendominasi perdagangan sektor tersebut.
Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.900
Tidak hanya IHSG, nilai tukar rupiah juga masih menghadapi tekanan. Rupiah pada perdagangan pagi berada di kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut, meski sebelumnya sempat mendapat sentimen positif dari keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen.
Namun, pasar kini lebih fokus pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat yang diperkirakan masih mempertahankan kebijakan hawkish.
Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.700 hingga Rp17.900 per dolar AS,” ujar Ardan.
Dengan kombinasi tekanan pada IHSG dan rupiah, investor diperkirakan masih akan bersikap hati-hati hingga ada kepastian sentimen ekonomi global maupun kebijakan pemerintah domestik dalam beberapa waktu ke depan. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana