Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari Jadi Sorotan, Menteri ESDM Beberkan Hambatan Sumur Tua hingga Klarifikasi Ekspor Batu Bara Indonesia

Adinda Putri Sefiana • Sabtu, 20 Juni 2026 | 10:59 WIB
MENTERI ESDM : Menyatakan penyebab pemadaman listrik PLN dikarenakan adanya kendala pemenuhan kebutuhan batu bara kalori medium. (IG: NARASINEWSROOM)
MENTERI ESDM : Menyatakan penyebab pemadaman listrik PLN dikarenakan adanya kendala pemenuhan kebutuhan batu bara kalori medium. (IG: NARASINEWSROOM)

JAKARTA – Target lifting minyak 610 ribu barel per hari pada 2026 menjadi fokus pembahasan dalam rapat kerja antara pemerintah dan DPR. Dalam rapat tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak nasional.

Selain membahas target lifting minyak 610 ribu barel per hari, rapat juga diwarnai klarifikasi terkait data ekspor batu bara Indonesia yang sempat menimbulkan perbedaan pemahaman antara pemerintah dan anggota DPR. Klarifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan data yang digunakan dalam pembahasan asumsi makro dan penyusunan APBN tetap akurat.

Menurut Bahlil, pemerintah tetap optimistis dapat mencapai target lifting minyak 610 ribu barel per hari pada 2026 meskipun berbagai kendala masih membayangi sektor hulu migas nasional.

Dalam penjelasannya, Bahlil menyebut sebagian besar sumur minyak Indonesia saat ini merupakan sumur tua yang secara alami mengalami penurunan produksi.

Baca Juga: GapenBI Tolak Moratorium MBG dan Penghentian SPPG Saat Libur Sekolah, Sebut Program Makan Bergizi Gratis Terancam Rugikan Ribuan Mitra

Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar terjadi di wilayah Rokan, Riau. Produksi di kawasan tersebut disebut mengalami penurunan hingga sekitar 80 ribu barel per hari dibandingkan periode sebelumnya.

“Masalahnya bukan teknologi, tetapi listrik. Teknologi secanggih apa pun akan sulit bekerja optimal jika persoalan infrastruktur pendukung belum terselesaikan,” ujarnya dalam rapat.

Selain di Rokan, penurunan produksi juga terjadi pada sejumlah lapangan minyak lepas pantai (offshore). Produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 185 ribu barel per hari kini turun menjadi kisaran 110 ribu hingga 120 ribu barel per hari.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mencari berbagai strategi agar target produksi tetap bisa tercapai.

Pemerintah menyiapkan beberapa langkah utama untuk meningkatkan lifting minyak nasional. Salah satunya adalah mempercepat pengembangan sumur baru yang dinilai memiliki potensi produksi lebih tinggi.

Selain itu, optimalisasi sumur-sumur eksisting juga akan dilakukan melalui penerapan teknologi peningkatan produksi. Langkah ini diharapkan mampu menahan laju penurunan produksi dari lapangan minyak yang sudah berusia tua.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah bersama SKK Migas akan terus melakukan evaluasi teknis guna menemukan solusi terbaik dalam meningkatkan produksi migas nasional.

Menurutnya, sekitar 60 persen blok minyak yang saat ini beroperasi berada di bawah pengelolaan Pertamina. Karena itu, sinergi antara pemerintah, SKK Migas, dan Pertamina menjadi faktor penting dalam mencapai target yang telah ditetapkan. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melepaskan tanggung jawab terhadap pencapaian target lifting nasional.

“Kami akan menyusun langkah-langkah teknis untuk meningkatkan lifting dalam rangka mencapai target 2026 maupun 2027,” katanya. Selain isu migas, rapat juga menyoroti data ekspor batu bara Indonesia yang sempat menimbulkan kebingungan dalam diskusi.

Salah satu anggota DPR mempertanyakan angka 790 juta ton yang disebut dalam pembahasan. Namun setelah dilakukan klarifikasi, angka tersebut ternyata merujuk pada proyeksi ekspor, bukan total produksi batu bara nasional.

Bahlil kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia menyampaikan konsumsi batu bara global berada di kisaran 1,3 miliar ton per tahun. Sementara pasokan yang berasal dari Indonesia diperkirakan mencapai 530 juta hingga 540 juta ton.

Baca Juga: Tahap Dua Kasus Ijazah Jokowi Dipertanyakan, Kuasa Hukum Soroti Batas Waktu P21 dan Penyerahan Tersangka ke Kejaksaan

Menurutnya, angka tersebut merupakan kontribusi Indonesia terhadap pasar ekspor dunia, sehingga tidak dapat disamakan dengan total produksi nasional.

Kesalahpahaman itu akhirnya diselesaikan dalam forum rapat dan dianggap sebagai persoalan komunikasi yang dapat diluruskan melalui penjelasan data yang lebih rinci.

Pembahasan target lifting minyak dan data ekspor batu bara menjadi bagian penting dalam penyusunan asumsi makro ekonomi serta Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL).

Hasil pembahasan tersebut nantinya akan menjadi bahan bagi Komisi XII DPR dalam proses lanjutan bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR.

Pemerintah berharap berbagai asumsi yang digunakan dalam penyusunan APBN dapat mencerminkan kondisi riil sektor energi nasional. Dengan demikian, target penerimaan negara dari sektor migas maupun mineral dan batu bara dapat dicapai secara optimal.

Meski menghadapi tantangan besar dari sumur tua dan penurunan produksi di sejumlah lapangan, pemerintah tetap menegaskan komitmennya untuk mengejar target lifting minyak 610 ribu barel per hari pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Target lifting minyak 2026 #Ekspor batu bara Indonesia #SKK Migas dan Pertamina #Produksi minyak Indonesia #bahlil lahadalia