Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius terkait fenomena El Nino 2026 yang diprediksi akan membawa dampak kekeringan lebih ekstrem dan panjang di Indonesia.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, BMKG menyatakan ada peluang sebesar 62% fenomena El Nino tahun ini akan mencapai kategori Kuat, dan berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027.
Puncak musim kemarau di Indonesia diproyeksikan akan berlangsung mulai Juli hingga September 2026. Kepala BMKG menyebutkan bahwa puncak kemarau akan mulai meluas pada Juli (mencakup 12,26% wilayah), sebelum mencapai titik terbesarnya pada Agustus 2026 yang menghantam hampir separuh wilayah Indonesia atau sekitar 48,84% Zona Musim (ZOM).
Ancaman Krisis Pangan dan Gagal Panen
Kondisi kemarau yang datang lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dari kondisi normalnya ini memicu kekhawatiran besar dari berbagai pihak, termasuk organisasi lingkungan hidup seperti WALHI.
Fenomena yang dijuluki sebagian pengamat sebagai "Godzilla El Nino" ini mengintai sektor pertanian nasional secara langsung.
Kurangnya curah hujan yang drastis di wilayah lumbung padi seperti Jawa, Bali, NTB, dan sebagian Sumatra dikhawatirkan dapat memicu:
-
Gagal panen massal (fuso) akibat mengeringnya sumber air irigasi.
-
Mundurnya musim tanam berikutnya karena minimnya pasokan air.
-
Krisis pangan dan lonjakan harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat akibat menipisnya stok beras dan pangan lokal.
Pemerintah dan Masyarakat Diminta Siaga
Merespons situasi ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pengelola sumber daya air, serta para petani untuk segera melakukan langkah mitigasi.
Pengoptimalan waduk, embung, dan manajemen pola tanam yang hemat air harus segera diterapkan guna menekan risiko kerugian.
Masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih serta tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat tajam selama periode puncak kemarau ini. (*)
Editor : Adinda Okta Fitriana