Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik setelah mengalami dua kali erupsi dalam dua hari terakhir.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun menaikkan status gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut menjadi Level III (Siaga) menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan dan indikasi pergerakan magma menuju permukaan.
Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena kolom abu vulkanik yang terlontar mencapai sekitar 200 meter di atas puncak kawah.
Selain itu, pengamatan satelit juga mendeteksi adanya titik panas di sekitar puncak gunung yang memperkuat indikasi meningkatnya aktivitas vulkanik.
Dengan naiknya status menjadi Level III, masyarakat, wisatawan, hingga pendaki diminta mematuhi rekomendasi otoritas dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Dua Kali Erupsi dalam Dua Hari
Aktivitas erupsi pertama terjadi pada Kamis siang. Saat itu, kolom abu vulkanik teramati membumbung setinggi sekitar 200 meter dari atas puncak kawah.
Abu berwarna kelabu hingga hitam pekat terlihat mengarah ke barat laut mengikuti arah angin.
Baca Juga: Pesawat AMA Dibakar di Yahukimo, Pilot Diduga Tewas Ditembak, Aparat Selidiki Kasus
Erupsi kembali terjadi pada Jumat. Pada letusan kedua tersebut, asap kawah berwarna putih hingga kelabu masih terus keluar dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas puncak.
Meski tinggi letusan tergolong tidak terlalu besar dibandingkan beberapa erupsi sebelumnya, peningkatan aktivitas internal gunung menjadi perhatian utama para petugas pemantauan gunung api.
Aktivitas Gempa Vulkanik Meningkat
PVMBG mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang mengindikasikan suplai magma masih berlangsung di bawah tubuh Gunung Anak Krakatau.
Dalam periode pengamatan terbaru, tercatat sekitar 20 kali gempa hybrid disertai tremor yang menjadi salah satu indikator adanya pergerakan fluida maupun magma menuju permukaan.
Selain data kegempaan, citra satelit Sentinel juga merekam munculnya titik-titik panas di sekitar puncak gunung.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya peningkatan energi panas yang mendorong magma semakin dekat ke permukaan.
Kondisi ini menjadi salah satu dasar utama pemerintah menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Masyarakat Diminta Tidak Mendekati Kawah
Seiring peningkatan status tersebut, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi aktivitas vulkanik susulan.
PVMBG meminta warga, nelayan, wisatawan maupun pendaki tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Larangan tersebut bertujuan mengantisipasi potensi lontaran material vulkanik maupun peningkatan intensitas erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Petugas juga terus melakukan pemantauan intensif melalui pos pengamatan serta memanfaatkan citra satelit untuk mendeteksi perkembangan aktivitas gunung api secara real time.
Aktivitas Magma Masih Berlangsung
Berdasarkan hasil pemantauan, sejak pertengahan Juni mulai terlihat adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang disertai munculnya titik panas di sekitar puncak gunung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa energi di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau masih terus mendorong magma ke permukaan sehingga potensi erupsi susulan masih perlu diwaspadai.
Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan resmi dari PVMBG maupun Badan Geologi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pemerintah juga mengimbau seluruh pihak agar mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan demi menghindari risiko akibat aktivitas vulkanik.
Baca Juga: Pilot AMA Air Nicholas F. Goselin Berhasil Dievakuasi, TNI Kejar Pelaku Penembakan di Yahukimo
Dengan pemantauan yang terus dilakukan serta kepatuhan masyarakat terhadap zona bahaya, diharapkan potensi dampak erupsi dapat diminimalkan meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan tren peningkatan.
Editor : Jonathan Alinskie Winata