TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Fenomena bediding mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa seiring meluasnya musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan fenomena ini merupakan kondisi musiman yang umum terjadi setiap musim kemarau, bukan cuaca ekstrem maupun anomali cuaca.
Fenomena bediding menyebabkan suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibanding biasanya. Kondisi tersebut mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, terutama kawasan dataran tinggi dan pegunungan.
Prakirawan cuaca BMKG, Dina Ikke, menjelaskan kepada Kompas.com pada Minggu, 5 Juli 2026, bahwa bediding merupakan fenomena yang rutin terjadi saat musim kemarau. Menurutnya, masyarakat tidak perlu menganggap kondisi ini sebagai gejala cuaca ekstrem.
Baca Juga: 14 Fakta Unik Kucing yang Jarang Diketahui, dari Otak Mirip Manusia hingga Pulau Kucing di Jepang
BMKG: Bediding Merupakan Fenomena Musiman
BMKG menjelaskan bahwa bediding muncul ketika langit berada dalam kondisi cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit.
Pada situasi tersebut, panas yang tersimpan di permukaan bumi sepanjang siang hari lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat hingga terasa lebih dingin menjelang pagi.
Menurut BMKG, kondisi ini merupakan siklus yang lazim terjadi setiap musim kemarau sehingga tidak termasuk kategori cuaca ekstrem maupun anomali atmosfer.
Fenomena tersebut biasanya mulai dirasakan ketika musim kemarau memasuki pertengahan tahun.
Penyebab Suhu Udara Menjadi Lebih Dingin
Selain langit yang cerah, BMKG menyebut terdapat beberapa faktor lain yang memengaruhi munculnya bediding.
Kelembapan udara yang rendah membuat udara lebih kering sehingga pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif.
Curah hujan yang mulai berkurang selama musim kemarau juga turut mempercepat penurunan suhu udara.
Faktor lainnya adalah dominasi aliran massa udara kering yang berasal dari Benua Australia. Massa udara tersebut menjadi salah satu penyebab suhu malam hingga pagi hari terasa lebih rendah dibandingkan musim hujan.
Gabungan seluruh faktor tersebut menyebabkan udara pada malam hingga dini hari menjadi lebih dingin di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
Daerah Dataran Tinggi Lebih Merasakan Bediding
BMKG menjelaskan bahwa fenomena bediding memang dapat terjadi di berbagai wilayah Pulau Jawa.
Namun, penurunan suhu umumnya lebih terasa di kawasan dataran tinggi maupun pegunungan.
Hal itu terjadi karena proses pelepasan panas pada malam hari berlangsung lebih efektif dibandingkan daerah dataran rendah.
Meski demikian, BMKG menegaskan fenomena ini tidak terjadi setiap malam secara terus-menerus.
Intensitas bediding juga dapat berbeda setiap tahun karena dipengaruhi kondisi atmosfer selama musim kemarau berlangsung.
Peluang Bediding Memuncak pada Juli hingga Agustus
Menurut Dina Ikke, peluang terjadinya bediding mulai meningkat sejak Juni.
Fenomena tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung penurunan suhu udara pada malam hingga pagi hari.
Pada periode tersebut, masyarakat di sejumlah daerah berpotensi merasakan udara yang jauh lebih dingin dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Daftar Wilayah dengan Suhu Terendah di Jawa Timur
BMKG mencatat sejumlah daerah di Jawa Timur mengalami penurunan suhu yang cukup signifikan selama fenomena bediding.
Kabupaten Probolinggo menjadi wilayah dengan suhu terendah, yakni mencapai 5,1 derajat Celcius.
Selanjutnya, Kabupaten Pasuruan mencatat suhu sekitar 14 derajat Celcius.
Kabupaten Malang memiliki suhu sekitar 14,6 derajat Celcius.
Kabupaten Bondowoso mengalami suhu sekitar 15,9 derajat Celcius.
Sementara Kabupaten Trenggalek mencatat suhu sekitar 16 derajat Celcius.
Data tersebut menunjukkan wilayah dataran tinggi di Jawa Timur menjadi kawasan yang paling merasakan dampak fenomena bediding.
Wilayah Jawa Tengah yang Mengalami Suhu Dingin
Di Jawa Tengah, beberapa daerah juga diperkirakan mengalami suhu udara cukup rendah.
Wonosobo diperkirakan memiliki suhu antara 14 hingga 17 derajat Celcius.
Magelang berada pada kisaran 16 hingga 20 derajat Celcius.
Temanggung diperkirakan mengalami suhu 13 hingga 19 derajat Celcius.
Sementara Salatiga memiliki suhu berkisar 16 hingga 19 derajat Celcius.
Sebagian besar wilayah tersebut merupakan kawasan dataran tinggi yang memang lebih rentan mengalami penurunan suhu saat musim kemarau.
Garut dan Ciwidey Ikut Merasakan Udara Dingin
Fenomena bediding juga mulai dirasakan di beberapa wilayah Jawa Barat.
Garut diperkirakan mengalami suhu udara antara 11 hingga 17 derajat Celcius.
Sementara Ciwidey diperkirakan memiliki suhu sekitar 15 derajat Celcius.
Kedua wilayah tersebut dikenal memiliki karakteristik dataran tinggi sehingga suhu malam hingga pagi hari cenderung lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya.
BMKG Imbau Masyarakat Menjaga Kondisi Tubuh
BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah berpotensi mengalami bediding agar menjaga kondisi kesehatan.
Penggunaan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari menjadi salah satu langkah yang disarankan untuk mengurangi dampak udara dingin.
Selain itu, masyarakat juga diminta rutin memantau informasi cuaca yang dikeluarkan BMKG selama musim kemarau berlangsung.
Informasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca, terutama ketika suhu udara mulai menurun secara signifikan.
BMKG kembali menegaskan bahwa fenomena bediding merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang terjadi secara alami setiap tahun. Intensitasnya dapat berbeda-beda tergantung kondisi atmosfer, namun secara umum peluang kemunculannya meningkat pada pertengahan hingga akhir musim kemarau, khususnya di wilayah dataran tinggi Pulau Jawa.
Editor : Fadhilah Salsa Bella