JAKARTA – Polemik Presiden BEM Universitas Mulawarman mengundurkan diri usai foto pertemuannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo beredar luas di media sosial berakhir dengan keputusan pengunduran diri. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban moral demi menjaga independensi organisasi mahasiswa dan memulihkan kepercayaan publik terhadap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman.
Keputusan itu disampaikan setelah foto dirinya saat bertamu ke kediaman pribadi Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, memicu perdebatan di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Hitan Hersyaputra mengakui bahwa keputusannya menemui tokoh politik di tengah masa jabatannya sebagai Presiden BEM merupakan sebuah kekeliruan yang menimbulkan persepsi negatif terhadap lembaga yang dipimpinnya.
Baca Juga: Sepeda Listrik Terbaik 2026: Rekomendasi Fitur Pintar IoT, NFC, dan Baterai Awet Bebas Rugi
Polemik bermula setelah foto pertemuan Hitan Hersyaputra dengan Joko Widodo tersebar di ruang publik. Pertemuan tersebut menuai sorotan karena dinilai bertentangan dengan prinsip independensi yang selama ini dijunjung gerakan mahasiswa.
Di lingkungan Universitas Mulawarman, foto tersebut dianggap dapat mencederai marwah organisasi mahasiswa. Sebagai pimpinan tertinggi BEM, Hitan dinilai membawa simbol kelembagaan sehingga setiap aktivitasnya berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap organisasi.
Dalam pernyataannya, Hitan mengakui bahwa posisinya sebagai representasi mahasiswa seharusnya tetap steril dari simbol-simbol yang dapat dimaknai sebagai bentuk kompromi politik.
Baca Juga: Sepeda Listrik Terbaik 2026: Rekomendasi Fitur Canggih Baterai Awet Bebas Mahal
Meski menjadi sorotan publik, Hitan menegaskan bahwa pertemuan dengan Joko Widodo tidak memiliki agenda politik, transaksi ekonomi, maupun konflik kepentingan.
Namun, klarifikasi tersebut tidak meredakan kritik yang berkembang. Desakan agar integritas organisasi mahasiswa tetap terjaga akhirnya mendorongnya mengambil keputusan mundur dari jabatan Presiden BEM Universitas Mulawarman.
Menurut Hitan, langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral atas kegaduhan yang telah terjadi. Ia memilih menanggalkan jabatannya agar nama baik organisasi tetap terjaga serta kepercayaan mahasiswa terhadap BEM tidak semakin menurun.
Baca Juga: Sepeda Listrik Murah Terbaik 2026: Rekomendasi Fitur Canggih Baterai Lithium Awet Bebas Macet
Dalam pernyataan resminya, Hitan juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh civitas akademika Universitas Mulawarman serta masyarakat Kalimantan Timur.
Ia berharap keputusan yang diambil dapat menjadi pelajaran bagi aktivis mahasiswa lainnya agar senantiasa menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan. Menurutnya, independensi merupakan salah satu prinsip penting yang harus dipertahankan dalam gerakan mahasiswa.
Meski telah mengundurkan diri, Hitan menegaskan bahwa sikap kritis terhadap penyelenggara negara harus tetap dijaga. Baginya, pergantian jabatan tidak mengubah komitmen untuk terus menyuarakan kepentingan masyarakat dan mahasiswa.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan pemimpin organisasi mahasiswa dapat menimbulkan dampak luas terhadap kepercayaan publik. Karena itu, menjaga independensi dan menghindari persepsi konflik kepentingan dinilai menjadi bagian penting dalam mempertahankan legitimasi gerakan mahasiswa di mata masyarakat.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino