Saham TLKM dan Paradoks Laba Kuartal Pertama 2026: Alasan Utama Rekomendasi Strong Buy Investor

Dinar Ananda Putri • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 18:45 WIB
Ulasan saham TLKM terkait paradoks laba kuartal I 2026, deviden jumbo Rp22,1 T, dan spin-off aset fiber ke Infranexia. Cek target harga dan risetnya di sini!
Ulasan saham TLKM terkait paradoks laba kuartal I 2026, deviden jumbo Rp22,1 T, dan spin-off aset fiber ke Infranexia. Cek target harga dan risetnya di sini!

TRENGGALEK – Kinerja keuangan PT Telkom Indonesia Tbk pada kuartal pertama tahun ini memicu dinamika yang menarik perhatian para pelaku pasar modal. Laporan keuangan emiten telekomunikasi raksasa berode saham TLKM tersebut menunjukkan kontradiksi tajam antara penurunan laba bersih utama dengan respons positif berupa peningkatan rekomendasi saham dari sejumlah perusahaan sekuritas terkemuka.

Pada laporan resmi kuartal I 2026, laba bersih saham TLKM tercatat merosot hingga 22 persen secara tahunan (year-on-year). Kendati demikian, sekuritas papan atas seperti Mandiri Sekuritas dan Ciptadana Sekuritas justru menaikkan peringkat saham BUMN tersebut hingga memberikan rekomendasi Strong Buy (sangat layak beli). Riset mendalam menunjukkan bahwa penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh faktor non-operasional, yakni kerugian mark-to-market nilai investasi pada saham GoTo serta penyesuaian depresiasi aset.

Jika efek sementara non-operasional tersebut dikeluarkan, angka normalized net profit Telkom justru melonjak 21,6 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter) menjadi Rp5,1 triliun. Hal ini menegaskan bahwa kinerja operasional dasar perusahaan tetap berjalan solid di tengah iklim kompetisi industri yang ketat.

Baca Juga: Saham TLKM dan Aksi Restrukturisasi: Dampak Pemangkasan Anak Usaha dan Risiko Buyback triliunan Rupiah

Efisiensi ARPU dan Dividen Jumbo Kuartal I 2026

Di tengah sengitnya persaingan tarif antar-operator, Telkom berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5 persen secara tahunan. Kunci keberhasilan operasional Telkom terletak pada peralihan strategi komersial, di mana manajemen fokus meningkatkan kualitas monetisasi pelanggan dibanding sekadar mengejar kuantitas lewat perang tarif murah. Strategi ini sukses mendongkrak rerata pendapatan per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) sebesar 6,4 persen menjadi Rp45.100.

Perbaikan kualitas operasional ini berdampak langsung pada kemampuan perseroan mencetak arus kas bebas (free cash flow). Telkom membagikan dividen jumbo senilai total Rp21,9 triliun atau setara Rp221 per lembar saham. Tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) yang ditawarkan tergolong sangat atraktif, yakni diperkirakan mencapai 6,6 persen.

Kedisiplinan keuangan ini didukung oleh penekanan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex). Rasio capex terhadap pendapatan Telkom pada kuartal pertama 2026 berhasil ditekan hingga angka 13,2 persen, jauh di bawah rata-rata historis yang biasanya menyentuh kisaran 24 persen.

Baca Juga: Bonang Penerus Punya Teknik Imbal dan Seleh yang Bikin Tabuhan Gamelan Makin Rumit

Spin-off Infranexia dan Target Harga Saham TLKM

Langkah vital dalam transformasi penataan portofolio bisnis Telkom (TLKM 3.0) dilakukan melalui spin-off aset fiber optic ke anak usahanya, Infranexia. Pada fase pertama, Telkom telah mengalihkan lebih dari 50 persen aset fiber bernilai Rp35,8 triliun. Sementara itu, pemindahan fase kedua yang akan melengkapi total transfer aset hingga Rp90 triliun ditargetkan rampung sepenuhnya di tahun ini. Selain penguatan bisnis fiber, Telkom juga berada dalam tahap akhir masuknya investor strategis untuk unit bisnis data center.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa pemisahan dan penguatan Infranexia diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan baru yang memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui optimalisasi aset infrastruktur digital.

Konsensus analis pasar modal di Bloomberg mencatatkan optimisme tinggi terhadap saham TLKM. Dari 41 analis yang disurvei, tidak ada satu pun yang memberikan rekomendasi jual, sementara 31 analis menyarankan beli dan 10 sisanya menyarankan tahan (hold). Konsensus 12 bulan Bloomberg menetapkan target harga Rp3.234 per lembar, sementara Ciptadana Sekuritas memasang target harga mencapai Rp3.500 yang menawarkan potensi kenaikan (upside) hingga mendekati 23 persen.

Baca Juga: Gamelan Jawa: Ki Dunung Raharjo Kenalkan Bonang Barung dan Teknik Imbalu Seleb

 

Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : You Tube
saham TLKM Telkom Indonesia Dividen Telkom 2026 Infranexia Kinerja keuangan TLKM