TRENGGALEK – Dinamika sektor telekomunikasi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini menunjukkan pertumbuhan yang kian solid. Industri ini diproyeksikan membukukan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp32 triliun, atau tumbuh 10 persen secara tahunan (year-on-year). Penguatan ini terjadi di tengah konsolidasi pasar paskamerger XL Axiata dan Smartfren, yang secara resmi mengubah peta persaingan menjadi arena tiga raksasa bersama Indosat dan sang pemimpin pasar, PT Telkom Indonesia Tbk dengan kode saham TLKM.
Kendati kompetisi antar-operator berlangsung ketat, kinerja fundamental industri justru membaik berkat rasionalisasi harga yang mendorong kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU). Telkomsel masih memimpin pangsa pasar dengan 158,4 juta pelanggan dan blended ARPU tertinggi di angka Rp45.100. Di posisi berikutnya, Indosat mencatatkan 95,4 juta pelanggan, diikuti oleh gabungan XL Axiata-Smartfren yang membukukan efisiensi operasional secara kuartalan.
Di tengah optimisme industri, perhatian pelaku pasar modal tertuju pada saham TLKM akibat laporan penurunan laba bersih tercatat sebesar 21,7 persen menjadi Rp4,3 triliun. Namun, penurunan tersebut dikonfirmasi murni sebagai dampak akuntansi atas Danantara Accounting Reset. Kebijakan reformasi tata kelola di bawah lembaga Danantara ini mewajibkan BUMN melakukan percepatan depresiasi aset usang dan pencatatan penyesuaian investasi non-kas. Jika dihitung berdasarkan laba operasional ternormalisasi, kinerja saham TLKM tetap stabil di angka Rp5,09 triliun dengan arus kas operasional naik 3,1 persen.
Baca Juga: Saham TLKM dan Paradoks Laba Kuartal Pertama 2026: Alasan Utama Rekomendasi Strong Buy Investor
Perbandingan Valuasi, Rasio Utang, dan Dividen Yield
Berdasarkan analisis rasio keuangan, Indosat menjadi emiten dengan rasio Enterprise Value to EBITDA (EV/EBITDA) paling murah di kisaran 3,7 hingga 4 kali. Namun, saham TLKM yang diperdagangkan pada EV/EBITDA 4,28 hingga 5,1 kali dinilai sangat terdiskon (undervalued) untuk ukuran market leader, mengingat posisinya berada jauh di bawah rata-rata historisnya.
Dari segi kesehatan neraca, Telkom unggul dengan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) yang sangat konservatif di kisaran 0,5 kali. Angka ini jauh lebih aman dibandingkan Indosat dan XL Axiata yang memiliki DER di atas 2 kali akibat ekspansi infrastruktur 5G dan jaringan fiber. Neraca yang sehat ini memungkinkan Telkom memproyeksikan dividend yield hingga 7,2 persen pada tahun ini.
Perhitungan Harga Wajar dan Katalis Pertumbuhan TLKM
Melalui pengujian tiga model valuasi, harga wajar saham TLKM menunjukkan potensi penguatan yang signifikan dari harga pasarnya saat ini:
-
Discounted Cash Flow (DCF): Rp8.500 – Rp9.300 per lembar saham.
-
Dividend Discount Model (DDM): Rp4.010 per lembar saham.
-
EV/EBITDA Jangka Pendek: Rp2.646 per lembar saham.
Kesenjangan antara harga pasar dan nilai fundamental tersebut didorong oleh tiga katalis utama. Pertama, aksi korporasi buyback saham secara agresif oleh manajemen dengan alokasi anggaran mencapai Rp4 triliun. Kedua, penyelesaian transfer aset fiber optic tahap kedua ke anak usaha Infranexia. Ketiga, wacana integrasi jaringan PLN Icon Plus ke dalam ekosistem Telkom di bawah arahan Danantara, yang berpotensi mendongkrak EBITDA Infranexia hingga 26 persen.
Sejumlah lembaga keuangan seperti Ciptadana Sekuritas memberikan apresiasi atas langkah restrukturisasi Telkom, dengan mayoritas investment bank menetapkan rekomendasi Beli pada target harga rata-rata Rp3.785. Bagi investor bersikap defensif yang mengutamakan keamanan neraca dan arus kas dividen, Telkom menjadi pilihan utama. Sementara itu, Indosat menjadi opsi value pick bagi pemburu pertumbuhan (growth investor), sedangkan XL Axiata disarankan untuk dicermati (wait and see) hingga proses sinergi paskamerger membukukan laba secara konsisten.
Baca Juga: Bonang Penerus Punya Teknik Imbal dan Seleh yang Bikin Tabuhan Gamelan Makin Rumit
Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : You Tube