Gempa Flores 7,7 Picu 235 Susulan, Ancaman Belum Berakhir

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:08 WIB
Gempa Flores 7,7 memicu 235 gempa susulan hingga magnitudo 6,2. Ancaman belum berakhir karena risiko longsor dan kestabilan tanah (Pinterest).
Gempa Flores 7,7 memicu 235 gempa susulan hingga magnitudo 6,2. Ancaman belum berakhir karena risiko longsor dan kestabilan tanah (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Gempa Flores 7,7 pada 15 Agustus 2026 tidak langsung mengakhiri ancaman bagi masyarakat setelah guncangan utama berhenti. BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan magnitudo 2,5 hingga 6,2. Proses alami untuk meredakan aktivitas gempa diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.

Gempa utama terjadi sekitar pukul 05.58 WITA dengan pusat gempa di laut sekitar 68 kilometer barat laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kedalaman gempa disebut sangat dangkal, sekitar 10 sampai 15 kilometer. Kondisi tersebut membuat guncangan terasa kuat hingga menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah Flores.

Data yang disampaikan dalam video juga menyebut BNPB mencatat 995 gempa susulan di NTT. Di tengah aktivitas tersebut, gempa magnitudo 5,8 kembali mengguncang NTT pada 17 Agustus 2026.

Baca Juga: Mikutopia Kota Batu, Wisata Dunia Dongeng dengan 20 Wahana dan Spot Foto Colorful

Berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust

BMKG menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores. Struktur tersebut disebut menjadi salah satu sumber gempa yang mengancam Flores dan wilayah sekitarnya.

Kedalaman sumber gempa menjadi salah satu faktor yang membuat dampaknya terasa kuat. Semakin dangkal sumber gempa, semakin sedikit energi yang hilang sebelum mencapai permukaan sehingga guncangan yang diterima masyarakat dan bangunan dapat menjadi lebih besar.

Gempa kali ini juga disebut memiliki kemiripan dengan gempa besar pada 1992. Lokasi dan mekanismenya dinilai memiliki kesamaan karena sama-sama berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Gempa pada 1992 berkekuatan magnitudo 7,8 dan diikuti tsunami yang menewaskan ribuan orang.

Kemiripan tersebut membuat potensi tsunami menjadi perhatian setelah gempa 15 Agustus. Peringatan dini tsunami sempat diberlakukan di sejumlah wilayah, termasuk NTT, Sulawesi Selatan, NTB, dan Kota Bau-Bau di Sulawesi Tenggara.

Gelombang tsunami kemudian tercatat di sejumlah wilayah. Di Bonea, Selayar, muncul tsunami kecil yang tidak cukup tinggi untuk merusak struktur bangunan. Sementara jaringan Tide Gauge mencatat gelombang tertinggi mencapai 1,61 meter di Reo, Manggarai, disusul 0,94 meter di Maurole, Nagekeo.

Setelah pemantauan dilakukan selama beberapa jam dan ancaman dinilai mereda, BMKG mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami. Namun, risiko bencana belum sepenuhnya hilang.

Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Data dalam video mencatat 53 orang meninggal dunia dan 135 lainnya mengalami luka-luka. Sedikitnya 5.000 warga mengungsi karena bangunan rusak atau kondisi lingkungan belum dianggap aman.

Kebutuhan pengungsi mencakup makanan, selimut, dan obat-obatan. Di sisi lain, kerusakan infrastruktur membuat distribusi bantuan menjadi tantangan.

Jalan Ruteng-Waelengga dilaporkan mengalami longsor hingga putus total. Bangunan BRI di Borong, Manggarai Tengah, disebut rusak parah. Pelabuhan Maumere juga mengalami kerusakan.

Pemerintah kemudian memperkuat penanganan darurat. Pada 16 Agustus, BNPB menetapkan delapan langkah strategis, termasuk mendorong enam kabupaten terdampak menetapkan status darurat dan membentuk posko terpadu dengan melibatkan TNI dan Polri.

Posko utama ditempatkan di Labuan Bajo, sedangkan posko taktis berada di Maumere. Operasi SAR diperkuat dengan pengerahan helikopter, kapal, dan pesawat untuk menjangkau wilayah yang terisolasi.

Pemerintah juga menargetkan listrik, air bersih, BBM, dan komunikasi dapat kembali berfungsi secara terbatas dalam tujuh hari.

Meski peringatan tsunami telah berakhir, masyarakat Flores masih menghadapi risiko gempa susulan, longsor, dan masalah kestabilan tanah. Pengalaman gempa 1992 menjadi pengingat bahwa bencana dapat menimbulkan dampak berantai. Karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap diperlukan selama aktivitas gempa belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: Mikutopia Kota Batu Gratis Masuk 14-20 Maret 2026, Ada 20 Wahana

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Gempa Flores 7 Flores Back Arc Thrust Gempa Susulan bnpb Gempa NTT