Gempa NTT Magnitudo 7,7 Bukan Megathrust, Ini Penjelasan BMKG

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:18 WIB
Gempa NTT magnitudo 7,7 bukan dipicu megathrust. BMKG menjelaskan gempa terjadi akibat Flores Back Arc Thrust yang merupakan patahan aktif (Pinterest).
Gempa NTT magnitudo 7,7 bukan dipicu megathrust. BMKG menjelaskan gempa terjadi akibat Flores Back Arc Thrust yang merupakan patahan aktif (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM- Gempa NTT magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi dipastikan bukan dipicu aktivitas zona megathrust. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan gempa tersebut terjadi akibat pergerakan Flores Back Arc Thrust atau sesar naik Flores.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan gempa yang mengguncang NTT merupakan gempa dangkal dengan mekanisme pergerakan naik. Flores Back Arc Thrust sendiri merupakan patahan aktif yang berada di dasar laut dan membentang sekitar 800 kilometer.

Patahan tersebut membentang mulai dari utara Pulau Bali, melewati laut utara Lombok, hingga bagian utara Pulau Flores. Flores Back Arc Thrust terbentuk akibat tekanan tumbukan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia di bawah wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Baca Juga: Judul: Gempa Flores NTT Magnitudo 7,7, Korban Meninggal Capai 69 Jiwa

Membentang hingga Ratusan Kilometer

Flores Back Arc Thrust terbagi dalam sejumlah segmen. Data yang dijelaskan BMKG mencatat segmen Bali memiliki panjang sekitar 84 kilometer, Lombok-Sumbawa 310 kilometer, Nusa Tenggara Barat 217 kilometer, Nusa Tenggara Timur 236 kilometer, Nusa Tenggara Tengah 173 kilometer, hingga segmen Wetar sepanjang 216 kilometer.

Setiap segmen memiliki laju pergeseran yang berbeda. Berdasarkan data peta sumber dan bahaya gempa Indonesia, sejumlah bagian Flores Barat dan Flores Tengah memiliki laju pergeseran hingga 11,6 milimeter per tahun.

Penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggunakan data GPS pada periode 2019 hingga 2023 juga menunjukkan adanya pergerakan hingga puluhan milimeter per tahun. Data tersebut sekaligus menunjukkan adanya tekanan atau kompresi yang menandakan akumulasi energi di kawasan tersebut.

Kondisi itu membuat Flores Back Arc Thrust menjadi salah satu sumber gempa yang perlu diperhatikan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Secara historis, patahan tersebut juga berkaitan dengan sejumlah gempa besar yang pernah menimbulkan tsunami dan korban jiwa.

Pada 22 November 1815, gempa Bali Utara berkekuatan magnitudo 7,0 memicu tsunami dan menewaskan sekitar 10.000 orang. Sementara itu, gempa Flores pada 12 Desember 1992 berkekuatan magnitudo 7,8 dan memicu tsunami hingga 50 meter. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 2.500 orang.

Flores Back Arc Thrust juga disebut berkaitan dengan rangkaian gempa Lombok pada 2018 yang menyebabkan lebih dari 500 orang meninggal dunia.

Gempa Picu Peringatan Tsunami

Gempa NTT magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 kemudian membuat BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Langkah tersebut dilakukan menyusul gempa besar yang terjadi di wilayah Flores.

Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada waktu yang disebutkan BMKG dalam informasi tersebut. Sebelumnya, alat pemantau sempat mencatat kenaikan muka laut di sejumlah wilayah.

Kenaikan muka laut tercatat sebesar 0,94 meter di Maurole dan 0,54 meter di Bulukumba. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan BMKG setelah gempa utama mengguncang NTT.

Aktivitas gempa juga masih berlanjut setelah guncangan utama. Hingga pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 54 gempa susulan. Pada saat yang sama, sejumlah laporan menyebut adanya korban meninggal dunia serta bangunan yang mengalami kerusakan parah akibat guncangan.

Penjelasan BMKG mengenai sumber gempa menjadi penting karena gempa NTT magnitudo 7,7 bukan berasal dari zona megathrust seperti yang sempat menjadi perhatian publik. Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust, patahan aktif di dasar laut yang memiliki sejarah memicu gempa besar dan tsunami di kawasan Bali serta Nusa Tenggara.

Dengan masih tercatatnya gempa susulan, kondisi wilayah terdampak tetap membutuhkan pemantauan. Aktivitas Flores Back Arc Thrust menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki sumber gempa aktif yang perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi bencana.

Baca Juga: Gempa Flores 7,7 Picu 235 Susulan, Ancaman Belum Berakhir

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Flores Back Arc Thrust Gempa Flores Gempa NTT Magnitudo 7 Tsunami NTT