TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Gempa NTT bermagnitudo 7,7 memaksa puluhan pasien rumah sakit dievakuasi ke luar ruangan karena khawatir terjadi gempa susulan. Di salah satu rumah sakit rujukan utama Nusa Tenggara Timur, sekitar 70 pasien harus menjalani perawatan sementara di luar gedung, termasuk lima pasien bersalin dan sejumlah pasien ICU.
Evakuasi dilakukan ketika gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Pasien dikeluarkan dari bangunan rumah sakit untuk mengantisipasi risiko kerusakan akibat guncangan lanjutan.
Pihak rumah sakit menyebut kondisi darurat pasien telah ditangani dokter spesialis bedah bersama para dokter lainnya secara terkoordinasi. Pasien perinatal dan pasien ICU termasuk yang dievakuasi dari dalam ruangan.
“Yang dirawat di rumah sakit saat ini kurang lebih 70 orang,” ujar pihak rumah sakit dalam laporan tersebut. Pasien yang berada di luar ruangan kemudian mendapatkan penanganan sementara karena kondisi bangunan rumah sakit terdampak gempa.
Baca Juga: Gempa NTT Magnitudo 7,7, BNPB Catat 38 Orang Meninggal di Nagekeo
Kerusakan Rumah Sakit dan Infrastruktur
Dampak gempa juga terlihat di Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng. Rekaman kondisi pascagempa memperlihatkan sejumlah ruangan rumah sakit mengalami kerusakan. Fasilitas di bagian apotek juga dilaporkan terdampak.
Pasien yang sebelumnya dirawat di dalam rumah sakit kemudian dipindahkan ke lokasi yang dianggap lebih aman. Rumah sakit dan Stadion Golo Dukal juga menjadi lokasi untuk merawat pasien yang dievakuasi setelah bangunan rumah sakit terdampak gempa.
Di wilayah Ruteng, masyarakat masih enggan kembali masuk ke rumah masing-masing. Sejumlah warga memilih mendirikan tenda di depan rumah sebagai tempat berlindung.
Situasi tersebut terjadi setelah gempa utama mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Laporan dari lapangan menyebut gempa susulan sempat dirasakan di Kabupaten Manggarai pada pagi hari. Namun hingga siang hari dalam laporan tersebut, tidak ada lagi gempa susulan yang dirasakan di lokasi pemantauan.
7.670 Warga Mengungsi
Kapolda Nusa Tenggara Timur Irjen Rudi Darmoko menyampaikan jumlah korban meninggal yang masuk ke Posko Mapolda NTT mencapai 55 orang hingga pukul 18.00. Selain itu, terdapat 67 orang mengalami luka berat dan 123 orang luka ringan.
Data pengungsi yang tercatat di Posko Polda NTT mencapai 7.670 orang yang tersebar di 38 titik. Kapolda menegaskan data tersebut masih dinamis dan dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Kerusakan juga terlihat pada sejumlah jalan dan infrastruktur. Beberapa akses bahkan tertutup batu berukuran besar sehingga menyulitkan petugas untuk menjangkau wilayah terdampak.
Tim SAR kemudian mulai menyalurkan bantuan ke lokasi yang sulit dijangkau. Bantuan yang dibawa antara lain beras, makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan.
Pemerintah daerah sebelumnya juga sempat meminta warga pesisir mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Namun imbauan tersebut kemudian dicabut setelah BMKG menyatakan tidak terdapat perubahan permukaan laut yang signifikan.
Di Kabupaten Manggarai, pemerintah daerah dan pemerintah pusat terus berkoordinasi untuk mengirimkan bantuan serta kebutuhan warga. Penanganan diprioritaskan bagi masyarakat yang membutuhkan makanan dan perlengkapan dasar.
Kepala BNPB juga bergerak menuju wilayah yang dilaporkan mengalami dampak cukup parah. Sejumlah wilayah masih terisolasi sehingga proses pendropingan bantuan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Kondisi pascagempa NTT menunjukkan penanganan tidak hanya berfokus pada korban luka dan kerusakan bangunan. Evakuasi pasien, pemulihan akses, distribusi bantuan, serta pemenuhan kebutuhan warga di pengungsian menjadi bagian penting dari respons darurat setelah gempa bermagnitudo 7,7.
Baca Juga: Gempa NTT Magnitudo 7,7 Bukan Megathrust, Ini Penjelasan BMKG
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest