JOMBANG - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi panggung penting bagi empat nama yang disebut dalam transkrip sebagai kandidat Ketua Umum PBNU.
Mereka adalah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfud atau Gus Kikin, dan KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.
Keempat figur tersebut digambarkan memiliki latar belakang, basis dukungan, pengalaman, serta gagasan yang berbeda.
Baca Juga: Genting Kamulan Uji Mutu SNI
Kontestasi tidak hanya menyangkut pergantian kepemimpinan, tetapi juga arah NU dalam memasuki abad kedua.
Gus Yahya sebagai petahana disebut memiliki keunggulan berupa pengalaman memimpin PBNU selama satu periode.
Dalam transkrip, kepemimpinannya dikaitkan dengan upaya modernisasi dan digitalisasi tata kelola organisasi serta penguatan diplomasi NU di tingkat internasional.
Baca Juga: Bos Arisan Bodong Hadapi Lima Perkara Baru Polisi Resmi Melakukan Penahanan
Namun, posisi sebagai petahana juga membuat Gus Yahya menghadapi evaluasi terhadap perjalanan kepemimpinannya.
Transkrip menyebut sejumlah persoalan yang menjadi sorotan, antara lain tata kelola organisasi dan keuangan, konflik dengan Rais Aam KH Miftachul Akhyar, hingga polemik mengenai konsesi tambang.
Perbedaan penilaian terhadap kepemimpinan Gus Yahya disebut menjadi salah satu dinamika dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Baca Juga: Melihat Suasana HUT Ke-28 PAN di DPD PAN Trenggalek Penuh Kekeluargaan hingga Jadi Ruang Perkuat Ke
Sebagian pihak menilai sejumlah langkahnya progresif, sementara kelompok lain menganggap terdapat arah organisasi yang perlu dikembalikan ke jalur awal NU.
Empat Figur dengan Latar Berbeda
Nama kedua yang disebut adalah KH Imam Jazuli, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Dalam transkrip, Imam Jazuli digambarkan sebagai figur dari lingkungan pesantren yang membawa posisi independen.
Gagasan yang dikaitkan dengannya mencakup persatuan seluruh elemen NU, penguatan kembali marwah dan otoritas ulama, serta transformasi pesantren sebagai fondasi NU memasuki abad kedua.
Baca Juga: Pemkab Trenggalek Tebar Tiga Relaksasi Fiskal
Kandidat ketiga adalah KH Abdul Hakim Mahfud atau Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia merupakan cicit KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU.
Latar belakang keluarga dan pesantrennya membuat Gus Kikin disebut memiliki kekuatan kultural yang besar.
Dalam transkrip juga muncul spekulasi yang mengaitkan Gus Kikin dengan dukungan istana.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Trenggalek 26 Agustus, Suhu Capai 29 Derajat
Namun, narasi tersebut disebut dibantah oleh sejumlah sumber yang menyatakan pemerintah tidak berniat melakukan intervensi terhadap urusan internal para kiai.
Gus Kikin sendiri disebut membawa gagasan untuk mengembalikan NU kepada fondasi awal organisasi, dengan menjadikan Qanun Asasi karya KH Hasyim Asy'ari sebagai salah satu rujukan fundamental.
Sementara itu, kandidat keempat adalah KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.
Baca Juga: Lucunya Lomba Makan Kerupuk Hyundai Hillstate! Jeong Ji-yoon Sebut Lebih Susah Dibanding Smash
Ia memiliki pengalaman panjang dalam dunia politik dan organisasi.
Dalam transkrip, Gus Yusuf disebut pernah menjadi pemimpin PKB Jawa Tengah sebelum mengundurkan diri dari jabatan politik tersebut pada awal 2026.
Gus Yusuf menawarkan visi yang disebut Ann Nahdhoh Ats-Tsaniyah atau kebangkitan kedua Nahdlatul Ulama.
Gagasan tersebut mencakup pemulihan marwah organisasi, penguatan soliditas internal, pembenahan tata kelola dan pemberdayaan ekonomi umat.
Baca Juga: Menanti Kepulangan Megawati ke Korea, Keakraban dengan Bintang Hyundai Jeong Ji-yoon Disorot
Bukan Sekadar Perebutan Kursi
Kontestasi empat calon Ketua Umum PBNU dalam transkrip tersebut dipandang sebagai pertarungan gagasan mengenai model kepemimpinan NU di abad kedua.
Siapa pun yang memperoleh mandat nantinya akan menghadapi sejumlah pekerjaan rumah.
Di antaranya meredakan polarisasi internal, memulihkan kepercayaan warga NU, memperbaiki tata kelola organisasi dan keuangan, serta memperkuat kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Menanti Kepulangan Megawati ke Korea, Keakraban dengan Bintang Hyundai Jeong Ji-yoon Disorot
Isu independensi organisasi dari kepentingan politik juga menjadi perhatian.
Otoritas ulama disebut perlu tetap menjadi pusat pengambilan keputusan organisasi, bukan sekadar pemberi legitimasi terhadap kepentingan tertentu.
Muktamar ke-35 NU di Jombang dengan demikian tidak hanya menjadi momentum memilih pemimpin untuk periode berikutnya.
Baca Juga: Menggila di Lapangan! Aksi Jeong Ji-yoon Cetak Poin Beruntun Bikin Lini Pertahanan Lawan Kerepotan
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan tentang masa depan NU.
Transkrip menekankan pentingnya muktamar menjadi momentum islah.
Perbedaan dan ketegangan internal diharapkan dapat diselesaikan melalui persaudaraan, sehingga hasil muktamar bukan hanya menghasilkan pemenang dalam kontestasi kepemimpinan
Tetapi juga menjaga kehormatan seluruh pihak dan memperkuat persatuan Nahdlatul Ulama.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.Sumber : YouTube Nahdlatul Online