Sejarah Muktamar NU: Dari Mbah Bisri yang Menolak hingga Gus Dur Jadi Ketua Umum

Anggi Septian A.P. • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:50 WIB
Sejarah Muktamar NU menyimpan kisah Mbah Bisri yang menolak jabatan Rais Aam hingga perjalanan kepemimpinan Idham Chalid dan Gus Dur.
Sejarah Muktamar NU menyimpan kisah Mbah Bisri yang menolak jabatan Rais Aam hingga perjalanan kepemimpinan Idham Chalid dan Gus Dur.

JOMBANG - Sejarah Muktamar NU menyimpan banyak cerita tentang persaingan, ketegangan politik, hingga ketawadukan para ulama.

Salah satu kisah yang menarik adalah ketika Mbah Bisri disebut telah dinyatakan memperoleh suara lebih banyak untuk menjadi Rais Aam, tetapi justru menolak jabatan tersebut karena masih ada Mbah Wahab.

Kisah itu disampaikan seorang wartawan senior yang telah mengikuti perjalanan Muktamar NU sejak 1967.

Ia pertama kali datang sebagai anggota Banser dari wilayah DKI Jakarta ketika Muktamar NU digelar di Bandung.

Saat itu usianya baru 24 tahun. Ia bersama tim dari Jakarta diperbantukan untuk mengamankan tokoh-tokoh ulama dan pengurus PBNU yang menghadiri muktamar.

Suasana Muktamar NU 1967 di Bandung berlangsung dalam situasi politik yang tegang.

Orde Baru baru saja berdiri, sementara situasi nasional masih diwarnai dampak G30S dan gerakan penumpasan PKI.

Pusat kegiatan muktamar berada di sekitar alun-alun Bandung.

Para muktamirin dari berbagai daerah berkumpul selama sekitar 10 hari. Mereka mendapatkan kupon untuk makan di sejumlah rumah makan sederhana di sekitar lokasi.

Dari pengalaman tersebut, ia melihat suasana Muktamar NU pada masa itu sangat sederhana dan guyub.

Kisah Mbah Bisri yang Menolak Jabatan

Salah satu pengalaman yang paling diingat adalah proses pemilihan Rais Aam.

Dalam forum tersebut, Mbah Bisri disebut sudah dinyatakan memperoleh suara lebih banyak.

Tepuk tangan pun membahana. Namun, Mbah Bisri justru tidak bersedia menerima posisi tersebut.

Ia memilih agar Mbah Wahab, KH Abdul Wahab Hasbullah, tetap menjadi Rais Aam selama masih ada tokoh sepuh tersebut.

Sikap itu dinilai menggambarkan ketawadukan ulama NU pada masa itu.

Menurut penutur dalam video, karakter tersebut terlihat dari tradisi para imam di masjid, surau dan musala yang saling mempersilakan ketika hendak memimpin.

Bukan berebut posisi, melainkan mendahulukan senioritas dan penghormatan kepada sesama ulama.

Cerita lain muncul dalam Muktamar NU berikutnya. Persaingan nama-nama calon ketua umum sempat ramai diberitakan media.

Namun, dalam proses pemilihan, KH Idham Chalid kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Idham Chalid kemudian dikenal dengan filosofi NU sebagai sebuah bus.

Menurut penuturan dalam video, ketua umum ibarat sopir yang membawa banyak penumpang sehingga harus berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mengeluarkan pernyataan.

Ia tidak boleh bertindak seperti pengemudi mobil balap yang hanya mempertimbangkan dirinya sendiri.

Dari Gus Dur hingga Muktamar Cipasung

Perjalanan Muktamar NU juga memasuki babak penting ketika nama Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, mulai tampil dalam kepemimpinan organisasi.

Dalam cerita tersebut, Idham Chalid disebut menunjukkan sikap legawa dengan memberikan kesempatan kepada Gus Dur.

Sebelumnya, muncul pula dinamika dan tekanan politik yang mengiringi kontestasi kepemimpinan NU.

Gus Dur kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, sementara KH Ahmad Siddiq menjadi Rais Aam.

Muktamar berikutnya juga diwarnai berbagai dinamika. Dalam Muktamar Cipasung, Gus Dur kembali terpilih.

Sementara KH Muhammad Ilyas Ruhiyat menjadi Rais Aam dengan KH Sahal Mahfudh sebagai wakilnya.

Kisah ketawadukan juga muncul dalam pemilihan tersebut.

KH Sahal Mahfudh disebut menyatakan kesediaannya menjadi wakil Rais Aam apabila Rais Aamnya adalah KH Ilyas Ruhiyat.

Cerita perjalanan Muktamar NU kemudian berlanjut hingga Muktamar Lirboyo Kediri.

Saat itu Gus Dur sudah menjadi Presiden Indonesia sehingga suasana muktamar semakin istimewa.

Gus Dur kemudian menyerahkan kepemimpinan kepada KH Hasyim Muzadi.

Dalam cerita tersebut, Muktamar Lirboyo berlangsung meriah dengan lantunan selawat dan antusiasme warga NU.

Namun, perjalanan panjang Muktamar NU juga menyisakan catatan tentang pentingnya akhlakul karimah.

Penutur menyoroti adanya peristiwa ketika seseorang memprotes kebijakan pimpinan dengan cara yang dinilai tidak menunjukkan etika kepada ulama.

Bagi penutur, dinamika politik dalam Muktamar NU merupakan hal yang wajar.

Namun, persaingan tersebut semestinya tetap dibingkai dengan penghormatan, kesederhanaan dan akhlak.

Pengalaman mengikuti berbagai Muktamar NU sejak 1967 itu sekaligus memperlihatkan perubahan zaman dalam tubuh organisasi.

Dari muktamar yang sederhana dengan kiriman beras, kelapa dan pisang dari cabang-cabang NU, hingga perhelatan besar dengan dinamika politik yang jauh lebih kompleks.

Di balik seluruh perubahan tersebut, satu hal yang dianggap tetap penting adalah ukhuwah, ketawadukan dan kemampuan untuk menerima hasil musyawarah.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
Sejarah Muktamar NU Muktamar NU Mbah Bisri Idham Chalid gus dur