JAKARTA - Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi perhatian para ulama senior Nahdlatul Ulama (NU) setelah muncul kekhawatiran terkait proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dan isu intervensi pihak luar.
Kekhawatiran tersebut dibahas dalam pertemuan sejumlah ulama senior di Gedung PBNU, Jakarta, pada Kamis, 20 Agustus.
Forum itu dipimpin Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin dan diikuti sejumlah kiai dari berbagai daerah.
Dalam pertemuan tersebut hadir antara lain KH Ali Akbar Marbun, KH Muhyiddin Ishaq, serta KH Abdul Hakim Mahfud.
Sementara KH Mustofa Bisri dan KH Said Aqil Siradj mengikuti pertemuan secara daring.
Salah satu perhatian utama forum adalah mekanisme Ahwa dalam Muktamar NU ke-35.
Ahwa merupakan forum yang beranggotakan sembilan ulama dan memiliki tugas memilih Rais Am PBNU.
Posisi tersebut membuat proses pemilihan anggota Ahwa menjadi bagian penting dalam rangkaian muktamar.
Para ulama yang tergabung dalam forum tersebut diharapkan memiliki kapasitas keagamaan, kebijaksanaan, serta integritas dalam menjalankan amanah.
Dalam pertemuan di Jakarta, KH Ma'ruf Amin disebut menyoroti adanya indikasi pembentukan paket dalam proses pemilihan calon anggota Ahwa.
Istilah paket merujuk pada dugaan adanya pengondisian sejumlah nama agar terpilih secara bersamaan.
Selain isu paket, muncul pula pembicaraan mengenai dugaan transaksi dukungan dan mobilisasi untuk memenangkan pihak tertentu.
Namun, informasi tersebut dalam materi yang disampaikan masih berupa indikasi dan desas-desus yang menjadi perhatian dalam forum ulama.
KH Ma'ruf Amin menekankan pentingnya proses pemilihan Ahwa yang didasarkan pada hati nurani dan tidak dipengaruhi kepentingan transaksional.
Perhatian ulama senior juga mengarah pada isu dugaan intervensi pemerintah dalam Muktamar NU ke-35.
Isu tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya dinamika menjelang pelaksanaan muktamar di Jombang.
Dalam forum tersebut, KH Ma'ruf Amin membantah adanya campur tangan pemerintah dalam urusan internal NU.
Ia menilai pemerintah tidak seharusnya ikut menentukan proses pengambilan keputusan di dalam organisasi.
Menurutnya, jika terdapat pihak yang membawa-bawa nama pejabat atau pemerintah untuk mendapatkan dukungan dalam proses muktamar, hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kebijakan resmi dari pemerintah.
Pertemuan para ulama senior tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya menjaga proses Muktamar NU ke-35 agar tetap berjalan sesuai prinsip musyawarah organisasi.
Isu mengenai Ahwa menjadi penting karena forum tersebut memiliki peran dalam menentukan Rais Am.
Karena itu, proses pemilihan anggota Ahwa menjadi salah satu tahapan yang mendapat perhatian serius menjelang muktamar.
Di sisi lain, dinamika tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap arah kepemimpinan NU.
Muktamar bukan hanya menjadi ruang pergantian kepengurusan, tetapi juga forum untuk menentukan arah organisasi pada periode berikutnya.
Pertemuan para kiai senior di Jakarta menjadi pengingat agar seluruh proses muktamar tetap mengedepankan musyawarah, kedaulatan muktamirin dan menjaga marwah organisasi.
Dengan Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung di Jombang, perhatian terhadap proses pemilihan Ahwa dan isu intervensi diperkirakan tetap menjadi bagian penting dari dinamika menjelang forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.