Oleh : Exsa Mayuki
Pengantar
Dalam konteks dunia pendidikan dan keilmuan dewasa ini, studi internasional dan studi domestik menjadi dua pendekatan yang memiliki kedudukan penting.
Keduanya bukanlah dua kutub yang saling menegasikan, melainkan dapat menjadi dua kekuatan yang saling melengkapi.
Studi internasional membuka cakrawala global dan memperkenalkan pemikiran lintas budaya, sementara studi domestik memperkuat jati diri bangsa dan memberikan solusi konkret atas permasalahan lokal.
Kombinasi yang ideal dari keduanya akan melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai bangsanya.
Pembahasan
Studi domestik merujuk pada proses pembelajaran dan riset yang dilakukan di dalam negeri, dengan fokus pada realitas sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang spesifik pada suatu bangsa.
Salah satu keunggulan dari studi domestik adalah kedekatannya dengan konteks kehidupan sehari-hari masyarakat.
Misalnya, riset tentang pola konsumsi rumah tangga di pedesaan Indonesia, kajian tentang pesantren sebagai institusi pendidikan khas Nusantara, atau telaah terhadap kebijakan agraria nasional, semuanya hanya bisa dilakukan melalui studi domestik yang mendalam (Wahidin & Sasmita, 2024).
Studi domestik memiliki fungsi ideologis dan patriotik.
Melalui studi ini, generasi muda dikenalkan pada sejarah bangsanya, nilai-nilai perjuangan, dan kebudayaan lokal yang sarat makna.
Hal ini sangat penting dalam membentuk kesadaran nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air.
Tanpa penguatan studi domestik, generasi muda berpotensi kehilangan akar identitasnya dan mengalami keterasingan di tengah derasnya pengaruh budaya global.
Sementara itu, studi internasional merupakan proses pembelajaran lintas negara yang melibatkan mobilitas pelajar dan pemanfaatan literatur serta pendekatan global.
Di era globalisasi saat ini, studi internasional menjadi semakin penting, karena dunia pendidikan tidak lagi eksklusif dalam batas negara.
Pelajar yang menempuh pendidikan di luar negeri mendapatkan kesempatan untuk memahami berbagai perspektif, menjalin koneksi internasional, serta mengakses teknologi dan metodologi terkini (Firdaus & Nugraheni, 2024).
Salah satu keuntungan besar dari studi internasional adalah terbukanya wawasan dan pola pikir yang lebih luas.
Mahasiswa yang belajar di luar negeri, misalnya di Jepang, Jerman, atau Amerika Serikat, akan belajar bagaimana sistem pendidikan, birokrasi, dan teknologi di negara-negara tersebut diterapkan dengan baik.
Ini menjadi inspirasi yang dapat ditransfer dan disesuaikan ketika kembali ke negara asal (Khoirunnisa & Firmansyah, 2024).
Menurut saya pribadi, baik studi internasional maupun domestik memiliki nilai yang sangat besar.
Akan tetapi, keduanya tidak dapat berdiri sendiri. Studi internasional memang menawarkan kemajuan dari segi teknologi, ilmu pengetahuan, dan jaringan global.
Tapi tanpa pemahaman yang mendalam terhadap konteks lokal, seseorang bisa kehilangan arah ketika kembali ke negaranya sendiri.
Sebaliknya, studi domestik yang terlalu eksklusif juga berisiko menutup diri dari pembaruan global dan menjadi terisolasi.
Idealnya, sistem pendidikan nasional harus mendorong keterbukaan terhadap dunia luar sekaligus memperkuat jati diri lokal.
Mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk mengakses literatur internasional, mengikuti konferensi global, bahkan mengambil program pertukaran pelajar.
Namun di sisi lain, kurikulum dan riset nasional juga harus terus diberdayakan agar tidak kalah saing dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Saya juga berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi di Indonesia perlu membangun lebih banyak kerjasama internasional melalui program double degree, joint research, dan publikasi internasional, namun tetap dengan muatan lokal yang kuat.
Kita harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga produsen gagasan yang berakar dari budaya dan pengalaman lokal.
Kesimpulan
Studi internasional dan domestik bukanlah dua jalur yang harus dipertentangkan.
Keduanya merupakan dua pendekatan yang jika dipadukan dengan baik, akan melahirkan individu berwawasan luas dan berpijak kuat.
Dalam dunia yang semakin kompleks ini, kita memerlukan generasi yang mampu memahami realitas global sekaligus mencintai dan membangun bangsanya sendiri.
Sinergi antara studi internasional dan domestik adalah kunci untuk menciptakan kemajuan yang berkelanjutan.
Kita tidak boleh terjebak pada dikotomi antara yang "lokal" dan "global". Yang diperlukan adalah sintesis—memadukan kekuatan lokal dengan daya jelajah global.
Dengan begitu, kita bisa menjadi bangsa yang berdaulat secara intelektual dan relevan dalam peta dunia.
Daftar Pustaka
Firdaus, B. N. S. I., & Nugraheni, N. (2024). Penguatan Pendidikan Karakter Sebagai Wujud Pendidikan Berkualitas Dalam Upaya Mencapai Tujuan Sustainable Developments Goals (Sdgs). Jurnal Citra Pendidikan, 4(2), 1788–1798. https://doi.org/10.38048/jcp.v4i2.3623
Khoirunnisa, I. R. S., & Firmansyah, A. (2024). Konsep Pendidikan Berkelanjutan Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar Dan Menengah: Suatu Tinjauan. Jurnalku, 4(2), 145–159. https://doi.org/10.54957/jurnalku.v4i2.675
Wahidin, D., & Sasmita, S. K. (2024). KEWARGANEGARAAN GLOBAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN. PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN UNIVERSITAS PAMULANG, 4(1), 10–24.